Orang Yang Shalat Di Atas Sajadah Menurut Syariat Agama Islam

Di masyarakat, shalat di atas sajadah adalah perbuatan yang dikerjakan oleh masyarakat. Seakan-akan tidak afdhal bila shalatnya tidak di atas sajadah. Apakah kebiasaan ini berasal dari Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam ataukah hanya kebiasaan secara turun temurun?

Jumhur ulama berpendapat bahwa tidak mengapa shalat dengan menggunakan alas tikar. Dalam syariat Islam, tidak ada larangan untuk shalat di atas sajadah. Salah satu landasannya adalah sebuah hadits dalam riwayat Imam Muslim,
Dari Abu Sa’id ia berkata bahwa beliau pernah menemui Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan beliau berkata “Aku melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam shalat di atas tikar, beliau sujud di atasnya.” (HR. Muslim)
Imam Asy Syaukani menjelaskan hadits ini menunjukkan bahwa tidak mengapa shalat di atas sajadah, baik sajadah tersebut ada yang sobek, terbuat dari daun kurma atau bahkan semacamnya. Begitu pula jika sajadah tersebut berukuran kecil atau berukuran besar karena Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah shalat menggunakan alas semacam itu.

Meski diperbolehkan, penggunaan sajadah tetap memperhatikan beberapa hal, sajadah yang digunakan untuk shalat seharusnya tidak terdapat gambar makhluk yang memiliki ruh, jika di sajadah ada gambar manusia dan hewan maka wajib untuk menghapusnya.

Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin menjelaskan bahwa tidak sepantasnya sajadah yang bergambar masjid diletakkan di depan imam karena sajadah itu bisa mengganggu dan bisa mengalihkan perhatian dan tentu hal itu akan merusak shalatnya.

Ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menggunakan kain yang bercorak maka setelah selesai shalat, beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
“Bawalah kain ini ke Abu Jahm dan bawakan kepadaku kain Abu Jahm yang tidak bercorak karena kain yang bercorak tersebut sempat mengganggu kekhusyu’anku.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Jika imam tidak merasa terganggu karena kebiasaan itu sudah berlangsung lama sehingga tidak membuat kekhusyu’annya berkurang maka menggunakan sajadah yang bercorak diperbolehkan.

Ada pandangan yang menyatakan bahwa lebih baik tidak menggunakan sajadah jika shalat berjama’ah di dalam masjid yang telah beralaskan karpet. Hal ini dilakukan untuk menghindari kerenggangan shaf karena setiap jama’ah berjajar menyesuaikan dengan lebar dan besar sajadahnya.

Seseorang yang shalat di atas sajadah tidak boleh menganggap bahwa hal ini lebih baik dibandingkan dengan shalat langsung di atas tanah. Apabila seseorang shalat di masjid yang telah beralaskan karpet maka tidak boleh ada anggapan bahwa sajadah yang dibawa dari rumah lebih suci dibandingkan dengan karpet yang ada di dalam masjid.

Seorang muslim tidak boleh merasa was-was dengan kesucian karpet atau alas yang ada di masjid, misalnya tetap menggunakan sajadah ketika shalat di masjid yang berkarpet karena tidak yakin lantainya bebas dari najis. Menurut sebagian ulama hal ini merupakan sebuah perilaku yang berlebihan.

Ibnu Taimiyyah mencela seorang muslim yang mengharuskan menggunakan sajadah tertentu untuk shalat, misalnya orang yang beranggapan seharusnya shalat harus menggunakan sajadah padahal ada alas lainnya seperti tikar, atau permadani karena Nabi Muhammad shalllallahu ‘alaihi wa sallam tidak mengharuskan shalat di atas sajadah bahkan beliau pernah shalat di atas tanah beralaskan tikar dan permadani. Wallahu a’lam bishshawab.