Orang Yang Menolak Ajakan Shalat Berjama’ah Saat Berada Di Masjid

Shalat berjama’ah itu lebih utama dibandingkan shalat sendirian, bahkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
“Shalat berjama’ah itu lebih utama dari shalat sendirian dengan 27 derajat.” (HR. Muslim)
Namun ada saja permasalahan di masyarakat yang seringkali menjadi pertanyaan, salah satunya adalah ketika kita masuk masjid dan bertemu jama’ah lain yang ingin melaksanakan shalat tapi ketika diajak berjama’ah dia tidak mau. Lalu bagaimanakah bila terjadi seperti ini?

Ketika seseorang yang sama-sama di masjid diajak shalat berjama’ah lalu menolaknya maka ada dua hal yang patut diperhatikan:
  1. Jika hal tersebut terjadi pada shalat berjama’ah yang resmi dengan imam rawatib dari masjid tersebut tentunya tidak diperbolehkan.
  2. Jika hal tersebut terjadi pada shalat berjama’ah yang resmi misalnya jama’ah kedua, ketiga, dan seterusnya maka para ulama ada yang berpendapat boleh, namun ada pula yang melarangnya.
Para ulama berbeda pendapat tentang hukum shalat berjama’ah,
  • Ada yang mengatakan fardhu ‘ain sehingga apabila ada orang sendirian maka telah berdosa meskipun shalatnya tetap sah.
  • Ada juga yang mengatakan bahwa berjama’ah merupakan syarat sahnya shalat sehingga orang yang shalat sendirian tidak sah.
  • Ada juga ulama yang mengatakan bahwa shalat berjama’ah hukumnya fardhu kifayah sehingga apabila sudah ada yang menyelenggarakannya maka yang lain sudah tidak lagi berkewajiban berjama’ah.
  • Ada juga yang menganggapnya sunnah mu’akkadah yakni sunnah yang sangat ditekankan.
Para ulama yang berpendapat bahwa shalat jama’ah hukumnya fardhu ‘ain berpedoman pada sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,
“Sungguh aku berkeinginan menyuruh seseorang mencari kayu bakar, kemudian dinyalakan, lalu aku perintahkan orang-orang untuk shalat dan dikumandangkan adzan, serta aku perintahkan seseorang mengimami mereka, sedangkan aku sendiri akan pergi memeriksa kaum laki-laki yang tidak shalat jama’ah, kemudian aku bakar rumah-rumah mereka.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Dalam hadits ini, Nabi mengancam membakar rumah-rumah laki-laki dewasa yang tidak menghadiri shalat berjama’ah di masjid. Ini menunjukkan pentingnya shalat berjama’ah di masjid bagi setiap umat muslim bahkan Nabi menyebutkan pahala orang yang berniat shalat di masjid namun mendapati jama’ah telah selesai maka tetap mendapatkan pahala yang sama dengan jama’ah sebelumnya. Nabi bersabda:
“Barangsiapa berwudhu kemudian berangkat ke masjid dan mendapati orang-orang sudah selesai shalat maka Allah akan memberikan kepadanya pahala yang sama dengan pahala orang yang shalat berjama’ah, tidak dikurangi dari pahala mereka sedikitpun.” (HR. Abu Dawud)
Sebagian ulama lain yang berpedoman bahwa shalat berjama’ah adalah fardhu kifayah serta membolehkan shalat berjama’ah kedua, ketiga, dan seterusnya setelah jama’ah resmi, mereka berpedoman pada sebuah riwayat dari Abu Sa’id Al Khudri radhiyallahu ‘anhu yang menyatakan,
“Bahwasanya seorang laki-laki telah tiba pada saat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah selesai shalat bersama sahabat maka beliau bersabda “Siapa diantara kalian yang mau mendapatkan pahala dengan laki-laki ini?” Maka bangkitlah salah seorang laki-laki kemudian shalat bersama laki-laki tersebut.” (HR. Tirmidzi)
Orang yang menolak ketika diajak shalat berjama’ah padahal dia sudah berada di masjid untuk shalat maka jangan serta merta dia dianggap berdosa dan melalaikan perintah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sebab bisa jadi dia berpegang pada madzhab yang melarang menyelenggarakan shalat jama’ah kedua, ketiga, dan seterusnya. Namun sebaliknya, bila dia tidak berpegang pada pandangan itu maka dia telah menolak nasihat atau ajakan yang baik. Dia telah melakukan perbuatan tercela sesuai firman Allah subhanahu wa ta’ala:
“Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian, Kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasehat menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasehat menasehati supaya menetapi kesabaran.” (QS. Al ‘Ashr: 1-3)
Orang yang menolak ajakan shalat berjama’ah saat berada di masjid tanpa alasan yang jelas, ia bisa dikategorikan sebagai orang yang sombong. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjelaskan bahwa kesombongan adalah menolak kebenaran dan menganggap remeh orang lain. Ketika suatu kebenaran telah sampai kepada seseorang kemudian ia menolaknya maka ini menunjukkan adanya kesombongan dalam dirinya.
“Tidak akan masuk surga orang yang dalam hatinya sebesar biji sawi kesombongan.” Lalu ada seorang laki-laki dari sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata “Wahai Rasulullah, salah seorang dari kami ingin agar bajunya bagus demikian pula sandalnya bagus. Apakah itu termasuk kesombongan, wahai Rasulullah?” Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda ”Sesungguhnya Allah itu indah dan mencintai keindahan. Adapun kesombongan itu adalah menolak kebenaran dan meremehkan manusia.” (HR. Muslim)
Sementara bagi yang mengajak shalat berjama’ah namun ditolak maka ia harus tetap bijak, tidak boleh marah-marah. Tugas dia sudah selesai, hanya mengajak. Bila yang diajak tidak mau, sudah bukan urusannya lagi. Wallahu a’lam.