Orang Yang Mencela Orang Tua Lawannya

Saat masih kecil atau remaja pasti ingat ketika berdebat atau bertengkar dengan seseorang acapkali suka lupa diri, emosi mengobarkan hawa nafsu untuk saling menyakiti. Perang kata-kata pun terjadi dengan berusaha mengejek atau menghina lawan. Saking emosinya biasanya nama orang tua pun ikut dibawa-bawa bahkan sampai meledek dan menghina orang tua lawan masing-masing.

Bila menghina orang tua termasuk durhaka dan dosa besar. Lalu bagaimana dengan fenomena orang yang mencela orang tuanya orang lain?

Jabir bin Sulaim mengisahkan bahwa dia pernah meminta nasihat kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan beliaupun menasihati,
“Jangan menghina siapapun.” Lalu kata Jabir “Sejak saat itu, saya tidak pernah menghina siapapun baik orang merdeka maupun budak bahkan seekor unta atau domba.” (HR. Abu Dawud dan At Tirmidzi)
Allah subhanahu wa ta’ala melarang kaum beriman untuk saling menghina satu sama lain karena boleh jadi pihak yang dihina itu sebenarnya lebih baik.
“Hai orang-orang yang beriman, janganlah sekumpulan orang laki-laki merendahkan kumpulan yang lain, boleh jadi yang ditertawakan itu lebih baik dari mereka. dan jangan pula sekumpulan perempuan merendahkan kumpulan lainnya, boleh jadi yang direndahkan itu lebih baik.” (QS. Al Hujuraat: 11)
Menurut pakar tafsir Ibnu Katsir, ayat ini berisi larangan melecehkan dan meremehkan orang lain yakni meremehkan dan menganggapnya kerdil.

Allah subhanahu wa ta’ala bahkan mengutuk orang yang suka mengumpat dan mencela dan berjanji akan melemparkannya ke dalam Neraka Huthamah,
“Kecelakaanlah bagi setiap pengumpat lagi pencela, Yang mengumpulkan harta dan menghitung-hitung, Dia mengira bahwa hartanya itu dapat mengkekalkannya, Sekali-kali tidak! Sesungguhnya dia benar-benar akan dilemparkan ke dalam Huthamah.” (QS. Al Humazah: 1-4)
Demikianlah mengolok-olok, mencela, mencaci maki, dan menghina orang lain dilarang keras oleh agama. Lalu bagaimana dengan menghina orang tua? Tentu dosanya lebih dahsyat. Jangankan menghina, berkata “Ah” saja dilarang.
“Dan Tuhanmu Telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya. jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, Maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan "ah" dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia” (QS.Al Israa’: 23)
Di zaman sahabat, perbuatan seperti ini tidak ada sehingga para sahabat merasa heran, mana mungkin ada orang mencaci maki kedua orang tuanya tetapi tentunya berbeda dengan zaman sekarang. Zaman sekarang sering kita dengar ada anak yang mencaci maki, membentak-bentak, dan menghina kedua orang tuanya.

Zaman berubah, semakin jauh dari zaman Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam maka hati semakin keras dan ilmu semakin hilang. Maka dari itu peran orang tua dalam membimbing anak juga perlu ditambah terutama membimbing ke jalan kebaikan dengan menjalankan perintah Allah subhanahu wa ta’ala dan menjauhi larangan-Nya. Semoga kita terhindar dari perbuatan-perbuatan yang melalaikan diri dari mendekat kepada Allah azza wa jalla. Aamiin.