Mustajabkah Doa dan Kutukan Seorang Ibu Kepada Anaknya?

Doa orang tua khususnya ibu memang mustajab. Dalam syariat Islam, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah menyebutkan mustajabnya doa ibu. Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu menuturkan bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
“Tiga doa mustajab, tidak diragukan lagi yaitu doa orang tua, doa orang yang bepergian (safar), dan doa orang yang dizalimi.” (HR. Abu Dawud)
Sementara kita sering diingatkan dengan cerita rakyat dari Sumatera Barat, Malin Kundang (yang durhaka kepada ibunya) berubah menjadi sebuah batu setelah didoakan oleh sang ibu.

Pertanyaannya, apakah doa-doa yang tidak baik atau kutukan dari ibu juga mustajab?

Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu juga pernah mengisahkan bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
“Tiga doa tidak akan tertolak yaitu doa orang tua, doa orang yang berpuasa, dan doa seorang musafir.” (HR. Baihaqi)
Dalam hadits tersebut, doa orang tua disebutkan umum artinya mencakup doa orang tua yang berisi kebaikan maupun kejelekan untuk anaknya, sementara dalam riwayat Ibnu Majah dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu disebutkan bahwa doa orang tua yang dikabulkan itu adalah doa untuk memohon kebaikan. Kebalikan dari riwayat Ibnu Majah, Imam Bukhari menyebutkan dalam kitab Al Adab Al Mufrad bahwa doa kejelekan kedua orang tua kepada anaknya juga mustajab.

Para ulama menyimpulkan bahwa apapun doa orang tua baik itu doa buruk atau doa baik tetap saja mustajab.

Dalam riwayat, salah satu contoh dari terkabulnya doa keburukan yaitu kisah Juraij seorang anak muda alim, shalih, dan rajin ibadah seperti diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Imam Muslim. Suatu ketika ia sedang shalat sunnah lalu dipanggil oleh ibunya dan ia tidak menyahut, ibunya pun berucap,
“Ya Allah, jangan matikan anakku sebelum ia melihat wajah-wajah pelacur.” 
Ucapan inipun menjadi kenyataan saat Juraij dituduh menghamili seorang pelacur hingga melahirkan seorang anak. Ia lalu diarak keliling kampung hingga melintasi sekumpulan wanita-wanita lacur. Meskipun pada akhirnya ketaatannya kepada Allah-lah yang menyelamatkannya.

Lalu bagaimana bila orang tua tidak taat agama dan suka berbuat maksiat, apakah doanya tetap makbul?

Maksiat memang sering disebut sebagai salah satu penghalang dikabulkannya doa. Sebagian ulama mengatakan,
“Jangan perlambat pengabulan doamu, engkau telah menutup pintunya dengan maksiat.”
Imam Ibnu Jauzi juga pernah berkata,
“Belum terkabulnya doa bisa jadi karena adanya beberapa penghalang. Boleh jadi makanan yang kamu makan masih diragukan kehalalannya, atau kamu tidak serius saat berdoa, atau karena ada maksiat  yang belum kamu taubati secara benar.”
Wahab bin Munabbih berkata,
“Berdoa tanpa dibarengi amal shalih bagaikan memanah tanpa senar busur.”
Dalam kesempatan lain, ia juga mengatakan,
“Amal shalih akan mengantarkan doa.”
Lalu ia membaca ayat,
“Kepada-Nyalah naik perkataan-perkataan yang baik dan amal yang saleh dinaikkan-Nya.” (QS. Faathir: 10)
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
“Seorang laki-laki lusuh kumal karena lama bepergian mengangkat kedua tangannya ke langit tinggi-tinggi dan berdoa “Ya Rabb! Ya Rabb!” Sementara makanannya haram, minumannya haram, pakaiannya haram, dan dagingnya tumbuh dari yang haram maka bagaimana doanya akan dikabulkan?” (HR. Muslim)
Dari sini, kemakbulan doa orang tua boleh jadi juga terpengaruh oleh kemaksiatan yang dilakukannya sehingga menjadi hilang atau minimal berkurang apalagi jika dia bersikap zalim kepada anaknya, misalnya anaknya sudah patuh dan berbakti namun tetap saja diumpat, disumpahi, atau didoakan yang buruk-buruk.

Doa yang seperti ini, insya Allah tidak akan terkabul sesuai firman Allah subhanahu wa ta’ala dalam hadits qudsi yang artinya:
“Wahai hamba-hamba-Ku, sesungguhnya Aku telah mengharamkan kezaliman atas diri-Ku dan Aku menjadikannya haram diantara kalian maka jangan saling menzalimi.” (HR. Muslim)
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam juga pernah bersabda:
“Bila seorang muslim berdoa dan tidak memohon suatu dosa atau pemutusan tali kekerabatan maka doanya akan dikabulkan.” (HR. Ahmad)
Namun ada kondisi yang membuat doa orang tua tetap dikabulkan meskipun sering melakukan maksiat kepada Allah subhanahu wa ta’ala yaitu bila orang tua dizalimi, anaknya tidak patuh, atau dianggap tidak menunaikan kewajiban kepada dirinya.

Kisah Juraij adalah contoh paling nyata tentang hal ini. Orang kafir pun doanya bisa dikabulkan bila terzalimi, apalagi orang muslim yang berbuat maksiat tentu ada juga doa yang dikabulkan.

Terlepas dari semua itu sebagai anak, kita harus berusaha semaksimal mungkin untuk memperoleh keridhaan orang tua. Kita harus menghormati, mematuhi, memahami, dan mendoakannya agar mereka juga mendoakan yang baik-baik bagi kita. Sebaliknya sebagai orang tua, kita harus mendoakan anak-anak dengan kebaikan, semoga mereka menjadi anak yang shalih. Di saat anak kita nakal, kita harus menahan amarah, boleh memperingatkan bahkan harus namun tetap bijak.

Ingat, umpatan yang keluar dari mulut orang tua saat marah bisa jadi doa buruk yang akan terwujud. Orang tua harus mencontoh para nabi dan orang shalih yang selalu mendoakan kebaikan kepada anak-anaknya, salah satunya dengan mencontoh Nabi Ibrahim ‘alaihi salam yang pernah berdoa:
“Ya Tuhanku, jadikanlah Aku dan anak cucuku orang-orang yang tetap mendirikan shalat, Ya Tuhan kami, perkenankanlah doaku.” (QS. Ibrahim: 40)
Juga harus mencontoh Ibadurrahman (Hamba Allah Yang Maha Pengasih) yang berdoa,
“Ya Tuhan kami, anugrahkanlah kepada kami isteri-isteri kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (Kami), dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertakwa.” (QS. Al Furqaan: 74)
Wallahu a’lam.