Menjampi Air Dengan Ayat Al Qur’an Untuk Pengobatan Menurut Syariat Agama Islam

Bersama kita ketahui di masyarakat bahwa ketika sakit, ada orang yang meminta air yang sudah didoakan oleh seorang alim ulama. Banyak orang minum air yang dibacakan surah Al Fatihah atau surah-surah tertentu dalam Al Qur’an dengan harapan segera sembuh dari penyakitnya. Namun bagaimana syariat memandang hal ini, bolehkah? Apakah ada unsur syirik dalam hal ini?

Minum air yang dibaca Al Fatihah atau surah-surah lain dalam Al Qur’an adalah boleh dan tidak mengandung unsur syirik selama ia meyakini kesembuhan itu hanya karena Allah subhanahu wa ta’ala. Air tersebut hanyalah sarana, sedangkan mendoakan menjampi air dengan ayat-ayat Al Qur’an seperti Al Fatihah atau Ayat Kursi atau doa apapun yang sejalan dengan ajaran agama adalah termasuk salah satu tata cara ruqyah yang dibolehkan karena pernah dicontohkan oleh para ulama. Menurut ulama, tata cara ruqyah tidak harus diajarkan secara rinci oleh Nabi tetapi fleksibel asal tidak melanggar aturan yang telah ditentukan.

Oleh karena itu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam hanya memberikan batasan umum dengan mengatakan,
“Tunjukkan ruqyah kalian, ruqyah tidak apa-apa selama tidak mengandung unsur kesyirikan.” (HR. Muslim)
Syaikh Ibnu Utsaimin pernah ditanya tentang mengobati orang sakit dengan cara membacakan Al Qur’an pada air lalu diminumkan kepadanya atau membacakan Al Qur’an pada minyak lalu dioleskan kepadanya dan juga membacakan Al Qur’an pada cangkir yang bertuliskan Ayat Kursi lalu dituangi air dan diminumkan kepada si pasien. Apakah semua itu ada contohnya dalam sunnah Nabi?

Maka jawab beliau bahwa menuliskan ayat Al Qur’an pada secarik kertas lalu dimasukkan ke dalam air lalu diminumkan kepada orang sakit atau menuliskan ayat Al Qur’an pada wadah secara langsung kemudian dituangi air, diaduk, lalu diminumkan pada orang sakit atau meniupkan ayat Al Qur’an ke dalam air memang belum pernah ditemukan contohnya dalam sunnah Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam tetapi hal tersebut biasa diamalkan oleh kaum muslimin dari generasi salaf atau terdahulu dan terbukti manjur.

Dari sini, Ibnu Utsaimin menegaskan bahwa amalan seperti ini tidak apa-apa dilakukan untuk mengobati orang sakit. Salah seorang ulama generasi terdahulu yang biasa mengamalkan hal ini adalah Ahmad bin Hanbal, pendiri madzhab Hanbali. Dalam kitab Al Adab Asy Syar’iyah disebutkan bahwa Shalih putra Imam Ahmad ibnu Hanbal pernah mengatakan,
“Setiap kali saya sakit seringkali ayahku mengambil bejana berisi air lalu membacainya kemudian menyuruhku untuk meminum sebagiannya serta membasuh muka dan kedua tanganku dengan sisanya.”
Dalam kesempatan lain, Abdullah putra Imam Ahmad yang lain juga menceritakan bahwa dia pernah melihat ayahnya membaca ta’awudz dan ayat Al Qur’an pada air lalu meminum dan mengguyurkannya pada dirinya.

Selain Imam Ahmad, Ibnul Qayyim rahimahullah juga pernah bercerita bahwa dirinya pernah berobat dengan meminum air zamzam yang dibacakan surah Al Fatihah beberapa kali, waktu itu beliau sedang berada di Makkah dan jatuh sakit dan tidak menemukan obat atau dokter maka beliau mengambil air zamzam dan membacakannya surah Al Fatihah beberapa kali kemudian meminumnya dan ternyata dia sembuh total.

Al Qur’an selain tuntunan hidup, memang juga berfungsi sebagai penyembuh bagi kaum mukmin sebagaimana ditegaskan Allah subhanahu wa ta’ala dalam firman-Nya:
“Hai manusia, Sesungguhnya Telah datang kepadamu pelajaran dari Tuhanmu dan penyembuh bagi penyakit-penyakit (yang berada) dalam dada dan petunjuk serta rahmat bagi orang-orang yang beriman.” (QS. Yunus: 57)
Pernyataan bahwa Nabi belum pernah mencontohkan cara pengobatan dengan media air yang dibacakan ayat Al Qur’an sebenarnya tidak seluruhnya benar. Beliau pernah mencontohkan tetapi airnya dicampur dengan materi lain yakni dengan debu dan dengan garam.

Dalam riwayat Abu Dawud disebutkan suatu ketika Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menjenguk Tsabit bin Qais radhiyallahu ‘anhu yang sedang sakit lalu beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam berdoa,
“Hilangkan penyakit Tsabit bin Qais ini, wahai Tuhan seluruh manusia” 
Dan setelah mendoakan Nabi menuangi tubuh Tsabit dengan debu bercampur air yang telah beliau tiup sebelumnya.

Dalam kesempatan lain ketika sujud, jari tangan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah disengat kalajengking dan setelah shalat beliau berkata,
“Allah melaknat kalajengking ia tidak pernah membiarkan seorang nabi dan selain nabi semua disengatnya” kemudian beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam menyuruh diambilkan wadah yang berisi air dan garam lalu diletakkannya bagian yang tersengat kalajengking di dalam wadah yang berisi larutan air dan garam tersebut seraya membaca “Qulhuwallaahu ahad”, “Qul a’udzubirabbil falaq”, dan “Qul a’udzubirabbin naas” hingga rasa sakitnya reda. (HR. Ibnu Abi Syaibah)
Demikianlah sekali lagi, menjampi air dengan ayat Al Qur’an tidak apa-apa dilakukan untuk mengobati orang sakit namun harus diingat bahwa orang yang meniup air dengan ayat Al Qur’an itu harus bersih dari penyakit yang berpotensi menular lewat air liur atau pernafasan. Wallahu a’lam.