Menghadapi Keributan [Kegaduhan] Dalam Berumah Tangga

Rumah tangga sejatinya dibangun diatas mahligai cinta dan kasih sayang sehingga tercipta suasana keluarga yang sakinah mawaddah wa rahmah karena itulah tujuan pernikahan yang sebenarnya sebagaimana firman Allah subhanahu wa ta’ala:
“Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah dia menciptakan untukmu isteri-isteri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya diantaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berfikir.” (QS. Ar Ruum: 21)
Namun faktanya, ada saja rumah tangga yang didalamnya tidak ditemukan suasana tenang melainkan keributan dan kegaduhan seperti misalnya karena suami atau istri yang cerewet, suka membesar-besarkan masalah, pemarah, dan lain sebagainya. Lantas bagaimana kewajiban suami dan istri menurut syariat agama?

Para ulama sepakat bahwa diantara kewajiban seorang istri adalah menghormati dan mentaati suaminya, menjaga diri dan hartanya di saat suaminya sedang tidak ada, serta membuat suaminya senang apabila melihatnya. Karena memang yang demikian merupakan ciri-ciri wanita yang shalihah dan wanita yang terbaik. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:
“Maka wanita yang saleh, ialah yang taat kepada Allah lagi memelihara diri ketika suaminya tidak ada, oleh Karena Allah Telah memelihara (mereka).” (QS. An Nisaa’: 34)
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
“Maukah aku beritahukan sesuatu yang paling berharga dari yang disimpan oleh seseorang? Wanita shalihah, jika dipandang dia menyenangkan, jika diperintah dia taat, dan jika suaminya tidak ada maka dia menjaganya.” (HR. Abu Dawud)
Begitu pula dengan suami, ia pun wajib memperlakukan istrinya dengan baik. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
“Iman orang-orang mukmin yang paling sempurna adalah yang terbaik akhlaknya dan yang terbaik diantara kamu sekalian adalah yang terbaik memperlakukan istri.” (HR. Tirmidzi, Ahmad, dan Ibnu Majah)
Namun yang sering menjadi permasalahan dalam rumah tangga adalah bagaimana jika istri cerewet kepada suaminya. Apakah hal ini dibenarkan dalam syariat agama?

Jika cerewetnya seorang istri kepada suaminya dilakukan untuk kebaikan dalam rumah tangganya seperti demi kebersihan rumah, kerapihan suami, dan semisalnya maka ini tujuannya baik dan dibolehkan dalam syariat Islam namun caranya juga harus dengan yang baik, tidak membentak dan tidak pula menyakiti hati suaminya. Bahkan jika cerewetnya dalam rangka “menasihati dalam kebenaran” maka ini termasuk yang dianjurkan sebagaimana dalam firman Allah subhanahu wa ta’ala:
“Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian, Kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasehat menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasehat menasehati supaya menetapi kesabaran.” (QS. Al ‘Ashr: 1-3)
Namun apabila cerewetnya istri kepada suaminya karena didasarkan kebencian kepada suaminya tanpa ada maksud untuk perbaikan dalam rumah tangganya bahkan omongannya cenderung merendahkan suami, meremehkan, dan menyakiti hatinya maka cerewet seperti ini jelas dilarang dalam Islam. Bahkan sebagian ulama mengatakan bahwa jika seorang istri telah meninggikan suaranya dalam arti membentak dan menentangnya maka dia termasuk berbuat nusyuz atau durhaka.

Ibnu Katsir rahimahullah berkata dalam kitab tafsirnya,
“Nusyuz adalah meninggalkan perintah suami, menentangnya, dan membencinya.”
Lalu bagaimana jika istri sudah membesar-besarkan masalah dan suka membicarakannya tanpa mengenal tempat dan waktu, bolehkah?

Masalah keluarga seyogyanya hanya diketahui oleh keluarga saja bahkan dalam keluarga sendiri, anak-anak sebaiknya tidak mengetahui masalah yang terjadi antara kedua orang tuanya sebab hal ini akan menimbulkan dampak psikologis yang buruk bagi pertumbuhan mentalnya. Oleh karena itu, istri yang suka membesar-besarkan masalah, tidak dibenarkan menurut syariat agama. Bahkan ia berdosa jika menyebarkan aib keluarganya hingga keluar rumah dan membicarakannya secara terus menerus.

Bahkan suami pun tidak boleh membuka aib keluarganya, ia juga tidak boleh menceritakan rahasia istrinya ke orang lain karena aib istri adalah aib suaminya juga. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
“Sesungguhnya orang yang paling buruk kedudukannya di sisi Allah subhanahu wa ta’ala pada hari kiamat adalah suami yang menunaikan hajatnya kepada istrinya dan istri yang menunaikan hajat kepada suaminya kemudian suami tersebut menceritakan rahasia istrinya.” (HR. Muslim)
Justru seorang istri yang ada masalah dengan suaminya dianjurkan untuk menyelesaikan masalah itu berdua kemudian jika tidak bisa diselesaikan maka hendaknya diutus seorang hakam atau mediator dari masing-masing keluarganya. Jika tercapai perdamaian maka itu lebih baik di sisi Allah subhanahu wa ta’ala.
“Dan jika kamu khawatirkan ada persengketaan antara keduanya, Maka kirimlah seorang hakam dari keluarga laki-laki dan seorang hakam dari keluarga perempuan. jika kedua orang hakam itu bermaksud mengadakan perbaikan, niscaya Allah memberi taufik kepada suami-isteri itu. Sesungguhnya Allah Maha mengetahui lagi Maha Mengenal.” (QS. An Nisaa’: 35)
Selanjutnya timbul pertanyaan, bagaimana jika cerewetnya suami atau istri membuat pasangan tidak betah di rumah? Apakah ia berdosa?

Jika sampai pasangan tidak betah tinggal di rumah akibat suami atau istri yang cerewet berarti cerewetnya suami atau istri tersebut dianggap telah melampaui batas oleh pasangannya, misalnya karena tanpa sebab tiba-tiba istrinya mengomel dalam waktu yang cukup lama, tanpa sebab yang jelas pula seorang suami marah-marah terhadap istrinya maka sikap seperti ini tidak dibenarkan dalam agama Islam.

Selain itu, marah tanpa alasan yang dibenarkan juga dilarang dalam Islam. Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu,
Salah seorang laki-laki berkata kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan ia berkata “Berilah wasiat kepadaku!” Nabi bersabda “Jangan marah” maka beliau mengulang-ulang “Jangan marah” (HR. Bukhari)
Oleh karena itu, suasana harmonis dalam rumah tangga ditentukan oleh kerjasama yang bagus antara suami dan istri. Sudah sepantasnya setiap pasangan dalam rumah tangga saling menciptakan suasana yang hangat dan  tidak menjemukan, meredakan ketegangan dengan bersabar, dan tidak saling marah. Wallahu a’lam bishshawab.