Mengetahui Perkara Ghaib Menurut Syariat Agama Islam

Sebagian orang, ada yang bisa melihat jin bahkan bukan sekali dan terjadi kebetulan tetapi juga berkali-kali. Ada juga yang bisa mengetahui jenis kelamin bayi yang masih dikandung ibunya di dalam rahim dan ada juga yang mengetahui kapan akan turun hujan, apakah pengetahuan tentang ini semua berarti mereka mengetahui sesuatu yang ghaib? Bagaimana pandangan syariat agama tentang fenomena ghaib yang diketahui oleh sebagian orang?

Para ulama menegaskan bahwa perkara ghaib hanya Allah subhanahu wa ta’ala saja yang mengetahuinya baik yang ghaib itu ada di darat, laut, maupun udara, di alam di dunia maupun di alam akhirat. Namun demikian tidak semua hal yang ghaib disembunyikan oleh Allah dari manusia, bahkan sebagian dari perkara yang ghaib itu diberitahukan oleh Allah subhanahu wa ta’ala melalui Rasul-Nya akan tetapi sebatas yang diwahyukan kepadanya saja dan tidak lebih, seperti kiamat, surga dan neraka, azab kubur, dan lainnya.

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:
“Dan pada sisi Allah-lah kunci-kunci semua yang ghaib; tidak ada yang mengetahuinya kecuali dia sendiri, dan dia mengetahui apa yang di daratan dan di lautan, dan tiada sehelai daun pun yang gugur melainkan dia mengetahuinya (pula), dan tidak jatuh sebutir biji-pun dalam kegelapan bumi, dan tidak sesuatu yang basah atau yang kering, melainkan tertulis dalam Kitab yang nyata (Lauh Mahfudz)” (QS. Al An’am: 59)
Dari Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhu bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
“Kunci perkara ghaib itu ada lima, tidak ada yang mengetahuinya kecuali Allah: (1) Tidak ada yang tahu apa yang akan terjadi dengan hari esok kecuali Allah, (2) Tidak ada yang tahu apa yang akan terjadi di dalam rahim-rahim kecuali Allah, (3) Tidak ada yang tahu kapan datangnya hujan kecuali Allah, (4) Tidak ada seorangpun yang tahu dimana dia akan meninggal, dan (5) Tidak ada yang tahu kapan terjadi hari kiamat kecuali Allah.” (HR. Bukhari)
Oleh karena itu, perkara-perkara ghaib selain yang diwahyukan oleh Allah subhanahu wa ta’ala tidak dapat diketahui oleh manusia kecuali apabila hal itu berhubungan dengan sebab-akibat yang merupakan sunnatullah di muka bumi ini, seperti jika seseorang mengalami kecelakaan berat kemudian ada orang yang mengatakan bahwa ajalnya akan segera tiba lalu ia meninggal dunia maka ini bukan berarti bahwa ia mengetahui yang ghaib melainkan karena ia tahu sebabnya maka ia pun tahu akibatnya sebagaimana sunnatullah yang berlaku di alam semesta.

Lalu bagaimana dengan seseorang yang memiliki kemampuan melihat jin? Apakah berarti ia mengetahui yang ghaib?

Sejatinya, manusia tidak bisa melihat jin sebagaimana firman Allah subhanahu wa ta’ala,
“Sesungguhnya ia dan pengikut-pengikutnya melihat kamu dan suatu tempat yang kamu tidak bisa melihat mereka.” (QS. Al A’raaf: 27)
Namun apabila ada seseorang yang bisa melihat jin maka ini sebenarnya merupakan fenomena biasa yang pernah terjadi pada diri Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabatnya sebab meskipun jin tidak dapat dilihat oleh manusia akan tetapi ketika ia berubah wujud menjadi makhluk lain seperti ular, anjing hitam, kucing hitam, manusia, dan lainnya maka jin bisa dilihat dan dibunuh sesuai dengan hukum alam yang berlaku pada makhluk itu.

Oleh karena itu, jika seseorang bisa melihat jin maka ini bukan berarti ia mengetahui yang ghaib sebab tidak ada yang mengetahui hal ghaib yang sebenarnya kecuali Allah subhanahu wa ta’ala. hal ini sebagaimana ditegaskan dalam firman-Nya:
“Katakanlah: "Tidak ada seorangpun di langit dan di bumi yang mengetahui perkara yang ghaib, kecuali Allah", dan mereka tidak mengetahui bila mereka akan dibangkitkan.” (QS. An Naml: 65)
Allah subhanahu wa ta’ala juga berfirman:
“(Dia adalah Tuhan) yang mengetahui yang ghaib, Maka dia tidak memperlihatkan kepada seorangpun tentang yang ghaib itu. Kecuali kepada Rasul yang diridhai-Nya, Maka Sesungguhnya dia mengadakan penjaga-penjaga (malaikat) di muka dan di belakangnya.” (QS. Al Jin: 26-27)
Berdasarkan ayat Al Qur’an ini jelas bahwa tidak ada yang dapat mengetahui perkara ghaib kecuali Allah, ia juga tidak menampakkan perkara yang ghaib itu kecuali kepada Rasul yang diridhai-Nya dan itupun bukan sebuah perkara yang ghaib melainkan hanya sebatas yang diwahyukan kepadanya saja.
“Katakanlah: Aku tidak mengatakan kepadamu, bahwa perbendaharaan Allah ada padaku, dan tidak (pula) Aku mengetahui yang ghaib dan tidak (pula) Aku mengatakan kepadamu bahwa Aku seorang malaikat. Aku tidak mengikuti kecuali apa yang diwahyukan kepadaku. Katakanlah: "Apakah sama orang yang buta dengan yang melihat?" Maka apakah kamu tidak memikirkan(nya)?".” (QS. Al An’am: 50)
Lalu bagaimana dengan orang yang mengetahui jenis kelamin bayi dalam rahim? Apakah termasuk juga mengetahui yang ghaib?

Seorang dokter dengan alat ultrasonografi atau USG dapat mengetahui keadaan janin di dalam rahim termasuk jenis kelaminnya apakah anak yang ada di dalam rahim itu laki-laki atau perempuan. Namun hal tersebut tidak menunjukkan bahwa ia mengetahui yang ghaib sebab kemampuannya melihat apa yang ada di dalam rahim, dibantu dengan alat yang berfungsi memvisualisasikan bagian-bagian internal tubuh seperti janin dalam rahim dengan menggunakan gelombang suara.

Adapun keputusannya menetapkan apakah yang ia lihat di dalam rahim itu janin laki-laki atau perempuan maka ini hanya berupa kesimpulan dari dokter tersebut yang bisa saja salah dan bisa juga benar.

Lalu bagaimana dengan orang yang mengetahui kapan akan turun hujan? Apakah juga termasuk mengetahui yang ghaib?

Apabila ada yang mengetahui kapan datangnya hujan melalui prakiraan cuaca seperti yang kita lihat di beberapa siaran televisi, hal ini boleh-boleh saja namun jika ada yang mengaku tahu secara pasti kapan waktu hujan akan tiba namun berkat bantuan jin dan tanpa melihat kondisi cuaca maka hal tersebut tidak diperbolehkan dalam syariat sebab apa yang dibisikkan jin kepada orang tersebut adalah suatu kebohongan. Adapun jika benar maka itu suatu kebetulan belaka.

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:
“Dan bahwasanya ada beberapa orang laki-laki di antara manusia meminta perlindungan kepada beberapa laki-laki di antara jin, Maka jin-jin itu menambah bagi mereka dosa dan kesalahan.” (QS. Al Jin: 6)