Mengapa Keranda Jenazah Selalu Ditutupi Dengan Kain dan Kepalanya Dipayungi?

Fenomena yang terjadi di masyarakat ketika membawa jenazah ke kuburan dengan keranda biasanya keranda tersebut ditutupi oleh kain berwarna hijau kemudian ada yang memayungi bagian kepala dari sang mayit. Keadaan seperti hampir bisa ditemui dimana-mana namun sebenarnya apa maksud menutupi keranda dengan kain dan memayungi kepala jenazah tersebut? Apakah memang diperintahkan oleh syariat?

Tidak ditemukan hadits atau ayat yang mengatur hal itu bahkan pendapat ulama fiqih pun juga tidak ditemukan. Yang ada adalah sebuah hadits riwayat Abdurrazaq tentang proses pemakaman Sa’ad bin Mu’adz yang  keshahihannya masih perlu diteliti lagi. Sa’ad bin Malik, sahabat yang mengisahkan hadits ini mengatakan bahwa saat jenazah Sa’ad bin Mu’adz dimasukkan ke dalam liang kubur,
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan agar membentangkan kain di atas liang dengan maksud untuk menutupinya bila kebetulan terbuka pada bagian-bagian tertentu yang tidak seharusnya terbuka. 
Meski tidak ada tuntunannya namun banyak orang yang melakukan hal tersebut dan menyamakan dengan seperti memayungi mayit. Alasannya adalah sama-sama untuk menghormati mayit.

Sedangkan menutup keranda dengan kain di luar kafan menurut ulama kontemporer tidak ada dalil yang secara tegas melarang atau memerintahkannya namun jumhur ulama menganggap sunnah menutup keranda yang digunakan untuk mengangkut jenazah wanita agar tubuhnya tidak terlihat.

Berbeda dengan di Saudi hingga ke wilayah Timur Saudi yang mengikuti pendapat madzhab Hanbali bahwa jenazah laki-laki maupun perempuan, semuanya tidak ditutupi selain kain kafan. Sementara madzhab Syafi'i memandang sunnah menutup keranda jenazah baik jenazah wanita maupun pria meskipun menutup keranda jenazah wanita lebih ditekankan. Hal inilah yang banyak dilakukan di Indonesia yang mayoritas berlandaskan madzhab Syafi'i.

Di Indonesia sendiri kain penutup keranda banyak yang bertuliskan kaligrafi Arab seperti lafadz tauhid “Laa ilaha illallah” atau ayat Al Qur’an. Hal tersebut tidak ada anjuran baik dari Al Qur’an, Hadits, maupun pendapat para ulama ahli fiqih. Namun juga tidak ada dalil yang melarangnya.

Sebagian ulama mengatakan bahwa jika memang diperlukan kain penutup keranda, lebih baik gunakan yang tanpa tulisan tauhid ataupun ayat Al Qu’ran karena bisa dianggap telah meletakkan ayat Al Qur’an tidak pada tempatnya atau bisa jadi memicu munculnya keyakinan keliru bahwa ayat atau kalimat thayibah itu bisa membantu mayit. Wallahu a’lam.

Islam memerintahkan umatnya untuk menghormati mayat karena manusia memiliki kedudukan mulia di sisi Allah sebagai khalifah di muka bumi sebagaimana ditegaskan dalam Al Qur’an,
“Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat: "Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi”.” (QS. Al Baqarah: 30)
Predikat khalifah ini tidak hilang dengan kematian sehingga jenazah manusia tidak sama dengan bangkai binatang. Meski sudah tidak bernyawa, manusia tetap harus dihormati. Perlakuan terhadap jenazah dipandang sama dengan memperlakukannya ketika masih hidup. Dalam sebuah hadits riwayat Abu Dawud ditegaskan bahwa memecah tulang mayit sama dengan memecahkannya waktu masih hidup.

Jabir bin Abdullah radhiyallahu ‘anhu berkisah bagaimana Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menghormati jenazah walaupun bukan dari golongan muslim,
“Iringan jenazah melewati kami lalu Nabi berdiri karenanya dan kami pun berdiri, kami bertanya “Wahai Rasulullah, jenazah itu adalah jenazah orang Yahudi.” Beliau bersabda “Jika kamu melihat jenazah maka berdirilah”.” (HR. Bukhari)
Saat seseorang itu meninggal, entah itu orang baik atau bukan maka harus segera dikuburkan. Jika dia meninggal di pagi hari, hendaknya sore hari sudah dikuburkan, paling lambat esok pagi. Bahkan untuk menghormati mayit Rasulullah pun mengutus untuk mempercepat proses pemakaman jenazah. Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu menuturkan bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
“Percepatlah pengurusan jenazah karena jika jenazah itu baik maka sudah sepantasnya kalian mempercepatnya menuju kebaikan dan kalau tidak demikian (tidak baik) maka itu adalah beban keburukan yang kalian lepas dari leher-leher kalian.” (HR. Bukhari dan Muslim)