Memahami Rasa Syukur Di Pergantian Tahun

Salah satu kemeriahan yang jelas penuh sorak sorai adalah perayaan bersama dengan pesta kembang api dan bersuka ria di tengah malam menjadi kebiasaan yang tidak pernah dilewati oleh orang-orang yang menjalani perayaan pergantian tahun masehi. Namun ditengah hiruk pikuknya rutinitas tahunan ini, apakah kita sebagai manusia pernah menyelami pergantian tahun ini dengan sebuah renungan, bersimpuh di hadapan Allah sambil bertanya di hati yang paling dalam sudah bersyukurkah kita atas segala nikmat yang Allah berikan selama ini?

Syukur diartikan sebagai ucapan, sikap, dan perbuatan terima kasih secara tulus kepada Allah subhanahu wa ta’ala. Didalamnya ada sebuah pengakuan seorang hamba atas limpahan segala rahmat dan karunia-Nya. Ibadah ini juga sebagai bagian dari tanda keimanan kita karena begitu banyak kebahagiaan dan kesenangan yang telah Allah berikan kepada hamba-Nya hingga tidak bisa lagi terhitung jumlahnya seperti firman Allah subhanahu wa ta’ala:
“Dan jika kamu menghitung-hitung nikmat Allah, niscaya kamu tak dapat menentukan jumlahnya. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. An Nahl: 18)
Nikmat Allah subhanahu wa ta’ala yang diberikan kepada manusia sangatlah nyata, tidak hanya rizki yang mengalir sepanjang hari, makanan yang berlimpah, semesta raya untuk makhluk yang masih bernafas namun masih banyak rahmat yang Allah turunkan kepada manusia tanpa mereka ketahui dan tanpa mereka sadari.

Kebersihan jiwa, kesehatan yang baik, serta sifat-sifat utama sebagai petunjuk dan perlindungan dari Allah subhanahu wa ta’ala juga bagian besar dari kebaikan Sang Maha Kuasa. Selalu bersyukur atas apa yang kita terima, menjadi inti ibadah karena sesungguhnya tidak ada pada diri seorang hamba dari nikmat yang tampak maupun yang tersembunyi, yang khusus maupun yang umum, melainkan berasal dari Allah subhanahu wa ta’ala serta tidak akan merugi  bagi hamba Allah yang mau bersyukur atas semua pemberian Allah sesuai janji Allah,
"Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), Maka Sesungguhnya azab-Ku sangat pedih"  (QS. Ibrahim: 7)
Bisa jadi misalnya di tahun yang berganti ada harapan yang belum bisa menjadi kenyataan atau ada kesalahan yang begitu mempengaruhi kehidupan hingga ada kesedihan yang dalam karena kehilangan orang tersayang. Sebagai seorang hamba contoh kondisi tersebut seharusnya tidak mempengaruhi sebuah keyakinan bahwa seluruh langkah kehidupan telah digariskan oleh Sang Pemilik Alam dan kebaikan yang telah dicurahkan oleh Allah Ya Ghaffar Ya Syakuur kepada setiap manusia pastilah lebih dominan di setiap tarikan nafasnya.

Kunci tersebut Allah subhanahu wa ta’ala ingatkan dalam Kalam-Nya secara jelas,
“Dan apa saja nikmat yang ada pada kamu, Maka dari Allah-lah (datangnya), dan bila kamu ditimpa oleh kemudharatan, Maka Hanya kepada-Nya-lah kamu meminta pertolongan.” (QS. An Nahl: 53)
Dengan petunjuk ini, tugas kita sebagai seorang hamba hendaklah terus berpegang pada tali agama Allah diiringi dengan upaya untuk terus menerus bertawakal kepada-Nya dan berhijrah untuk kehidupan yang lebih baik. Muatan iman ini juga disampaikan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam,
“Seorang mukmin itu sungguh menakjubkan karena setiap perkaranya itu baik namun tidak akan terjadi demikian kecuali pada seorang mukmin sejati. Jika ia mendapatkan kesenangan bersyukur dan itu baik baginya. Jika ia tertimpa kesusahan ia bersabar dan itu baik baginya.”(HR. Muslim)
Bersyukur merupakan perbuatan utama dan mulia untuk mukmin sejati. Dengan bersyukur, bentuk pengakuan segala keutamaan yang diberikan Allah kepada hamba-Nya telah dijalankan dengan sepenuh hati. Apalagi Allah subhanahu wa ta’ala juga sudah memerintahkan kepada hamba-Nya untuk mengingat-Nya dan bersyukur serta tidak mengingkari nikmat yang telah diberikan sebagaimana firman-Nya,
“Karena itu, ingatlah kamu kepada-Ku niscaya Aku ingat (pula) kepadamu, dan bersyukurlah kepada-Ku, dan janganlah kamu mengingkari (nikmat)-Ku.” (QS. Al Baqarah: 152)
Bila kita telah memahami rasa syukur dan memilih tetap di jalan yang diridhai Allah tentulah pergantian tahun bisa dilewati dengan ibadah yang lebih baik. Rasa syukur diwujudkan dengan mendekatkan diri kepada Sang Khalik atau berkumpul dengan para jama’ah yang haus akan ilmu agama dan yang paling penting adalah menjauhi diri dari jebakan lupa diri serta jeratan setan.

Jadilah mukmin sejati yang tetap merasakan kebaikan dan memiliki kekuatan tawakal di setiap takdir yang diterimanya dari Allah subhanahu wa ta’ala dan gunakanlah seluruh kemampuan kita hanya untuk beribadah kepada-Nya seperti yang telah diajarkan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada kita umatnya.

Semoga kita menjadi hamba-hamba Allah yang senantiasa bersyukur atas segala sesuatu dalam kehidupan dan kita jalani tahun yang baru dengan penuh semangat, kerja keras, serta meningkatkan kualitas ibadah dengan selalu berharap kepada ridha Allah subhanahu wa ta’ala. Semoga Allah subhanahu wa ta’ala menjadikan kita sebagai hamba yang pandai dan selalu bersyukur atas nikmat yang Allah berikan. Aamiin.