Melakukan Hal-Hal Yang Menyulitkan Diri Sendiri Untuk Beribadah

Kadang kita jumpai seseorang yang sedang melaksanakan shalat berjama’ah di masjid namun berjalan kaki dari rumahnya yang jauh. Ada juga orang yang berniat beribadah haji namun dengan jalan kaki dari Indonesia, mereka beranggapan bahwa berjalan kaki lebih utama daripada berkendara. Benarkah demikian?

Ada beberapa hadits yang menjelaskan bahwa berjalan kaki menuju tempat pelaksanaan ritual ibadah tertentu lebih utama daripada berkendara. Salah seorang sahabat memiliki keyakinan bahwa berjalan kaki saat pergi dan pulang dari masjid, pahalanya lebih besar daripada berkendara dan keyakinan itu pun disetujui oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Ubay bin Ka’ab mengisahkan,
Dahulu ada seorang laki-laki yang rumahnya jauh dari masjid, tidak ada orang lain yang rumahnya lebih jauh dari rumahnya namun dia tidak pernah terlambat shalat berjama’ah kemudian ada yang bertanya kepadanya atau aku sendiri yang bertanya kepadanya “Mengapa kamu tidak membeli keledai untuk ditunggangi hingga dapat membantumu berjalan di malam gelap atau melindungimu dari panasnya tanah yang membakar?” Orang tersebut menjawab “Aku tidak ingin tinggal di samping masjid. Aku ingin langkah kakiku menuju masjid dicatat sebagai kebaikan demikian juga dengan langkahku saat pulang kembali ke keluargaku.” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda menimpali “Sungguh Allah telah mencatat bagimu seluruhnya.” (HR. Muslim)
Menurut ulama, seseorang yang melakukan ibadah atau menuntut ilmu dalam suatu majelis maka semakin tinggi tingkat kelelahan dalam menjalankannya maka pahalanya semakin besar. Menanggapi hal tersebut, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
“Akan tetapi pahalanya tergantung pada usaha yang dikorbankan.” (HR. Muslim)
Sementara itu As Suyuthi dalam Al Asybah Wa An Nazhair mengatakan bahwa amalan yang lebih banyak pengorbanan lebih banyak keutamaan. Ada beberapa hadits yang meriwayatkan sunnahnya berjalan kaki, diantaranya tentang sunnahnya berjalan kaki menuju shalat jum’at. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
“Barangsiapa mandi pada hari Jum’at lalu segera berangkat kaki ke masjid dengan berjalan kaki (tidak berkendara) kemudian duduk dekat imam dan mendengarkan khutbah dengan seksama tanpa senda gurau niscaya dari setiap langkahnya akan mendapatkan ganjaran puasa dan shalat malam selama setahun.” (HR. Tirmidzi, Nasa'i, Ibnu Majah, dan Ahmad)
Ada pula hadits tentang keutamaan berjalan kaki saat menghadiri shalat hari raya yang diriwayatkan oleh Tirmidzi yang artinya:
“Termasuk sunnah Nabi adalah menghadiri shalat ‘Id dengan berjalan kaki.”
Demikian juga dengan berjalan kaki saat mengusung dan mengiringi jenazah. Semua ini menunjukkan adanya anjuran untuk berjalan kaki menuju tempat pelaksanaan ritual ibadah tertentu dan bahwasanya berjalan kaki lebih baik daripada berkendara. Namun perlu diperhatikan bahwa berjalan kaki memang benar lebih baik asal tidak menimbulkan kesulitan yang nyata atau menguras tenaga sehingga membuat seseorang tidak dapat melakukan ibadah secara maksimal atau menghilangkan sesuatu yang lebih disukai oleh Allah subhanahu wa ta’ala.

Meninggalkan amalan yang lebih disukai karena melakukan amalan yang tingkatannya lebih rendah, tidaklah disukai oleh Allah subhanahu wa ta’ala. Ulama menyebutkan bahwa berkendara boleh jadi baik bagi orang yang lelah bila berjalan kaki karena usianya yang sudah lanjut, fisiknya lemah, atau rumahnya jauh sehingga jika berjalan kaki akan lelah dan akibatnya tidak akan bisa khusyu’ atau tidak bisa tiba di masjid tepat waktu.

Sejumlah hadits shahih juga menyebutkan bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pergi haji dari Madinah dengan mengendarai unta (tidak berjalan kaki). Jarak yang begitu jauh jika ditempuh dengan berjalan kaki kemungkinan besar akan menyebabkan kelelahan luar biasa sehingga menghalanginya untuk melakukan banyak hal yang lebih baik daripada berjalan kaki.
Uqbah bin Amir menuturkan bahwa saudarinya bernazar untuk pergi haji dengan berjalan kaki lalu ditanyakannya hal itu kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam maka sabda beliau “Suruh berkendara!” Uqbah mengira Nabi tidak mengerti permasalahannya sehingga saat seseorang telah pergi, dia bertanya lagi namun jawab Nabi “Suruh berkendara! Allah benar-benar tidak butuh aksi menyiksa diri yang dilakukan oleh saudarimu itu.” (HR. Ahmad)
Anas bin Malik juga mengisahkan,
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah melihat orang tua yang dipapah oleh kedua anaknya lalu beliau bertanya “Ada apa gerangan dengan orang ini?” orang-orang menjawab “Dia pernah bernazar untuk berjalan kaki.” Lalu beliau bersabda “Allah azza wa jalla sama sekali tidak butuh terhadap penyiksaan yang dilakukan orang ini kepada dirinya sendiri.” Kemudian beliau memerintahkan orang tersebut untuk naik kendaraan. (HR. Bukhari dan Muslim)
Ikrimah murid dari Ibnu Abbas bercerita bahwa gurunya pernah bertutur,
“Ketika Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sedang berkhutbah, tiba-tiba ada laki-laki yang berdiri lalu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menanyakan tentang orang itu, maka orang-orang menjawab “Dia adalah Abu Israil, ia telah bernazar untuk berdiri dan tidak duduk, tidak berteduh, tidak berbicara, dan berpuasa.” Maka Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda “Perintahkan dia untuk berbicara, berteduh, duduk, dan hendaklah ia meneruskan puasanya”.” (HR. Bukhari)
Demikianlah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang orang tersebut untuk melakukan pekerjaan yang tidak bermanfaat dan memerintahkannya untuk meneruskan pekerjaan yang bermanfaat yaitu puasa karena pahala tergantung pada kadar manfaat bukan kadar kesulitan. Jadi, berlelah-lelah seperti berjalan kaki menuju tempat dilaksanakannya ritual ibadah tertentu bukan tujuan utama tetapi sarana untuk meraih tujuan yaitu ritual ibadah itu.

Dari sini, para ulama memandang tidak baik memilih masjid yang letaknya lebih jauh dari rumah agar langkah kaki yang diayunkannya saat pergi dan pulang menjadi lebih banyak kecuali di Madinah dan Makkah tentunya. Seorang muslim, ketika beramal tidak boleh bertujuan semata-mata untuk menempuh kesulitan dalam amalan tersebut. Sebaliknya, dia harus berusaha agar amalan tersebut dapat terlaksana semaksimal mungkin dengan mutu terbaik meskipun hal itu akan membuatnya lelah.

Imam Syatibi berkata bahwa bila tujuan seseorang dalam beribadah hanya melakukan hal yang menyulitkan maka sesungguhnya dia telah menyalahi tujuan luhur syariat. Ridha dan cinta Allah tidak bisa diraih dengan siksaan dan kesulitan yang ditimpakan oleh seseorang kepada dirinya sendiri sehingga semakin sulit suatu amalan maka semakin baik sebagaimana dikatakan oleh sebagian orang. Sebaliknya, keridhaan Allah azza wa jalla dan kecintaan-Nya bergantung kepada ketaatan terhadap perintah dan keikhlasan seseorang dalam beramal.

Oleh karena itu, besarnya pahala tergantung pada tingkat manfaat, maslahat, dan faidah. Apabila agama memerintahkan kita untuk mengerjakan sesuatu yang berat maka hal itu karena ada manfaat dan maslahat yang besar didalamnya seperti jihad misalnya. Terkait dengan hal ini, Allah subhanahu wa ta’ala memberikan pahala atas kesulitan yang muncul darinya sebagaimana firman-Nya:
“yang demikian itu ialah Karena mereka tidak ditimpa kehausan, kepayahan dan kelaparan pada jalan Allah, dan tidak (pula) menginjak suatu tempat yang membangkitkan amarah orang-orang kafir, dan tidak menimpakan sesuatu bencana kepada musuh, melainkan dituliskanlah bagi mereka dengan yang demikian itu suatu amal saleh. Sesungguhnya Allah tidak menyia-nyiakan pahala orang-orang yang berbuat baik,” (QS. At Taubah: 120)
Maka apabila seseorang ditimpa kesulitan saat melaksanakan jihad, haji, amar ma’ruf nahi munkar, atau menuntut ilmu maka itu termasuk perkara yang dipuji dan diberi pahala. Adapun sekedar memberikan kesusahan kepada diri sendiri atau sekesar menempuh kesulitan sebagaimana anggapan sebagian orang bahwa itu termasuk mujahadah apabila tidak mengandung unsur manfaat dan ketaatan kepada Allah maka tidak ada kebaikan didalamnya.

Abu Hurairah menuturkan bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda,
“Sesungguhnya agama ini mudah dan tidak ada seorang pun yang mempersulit agama kecuali akan terkalahkan.” (HR. Bukhari)