Makmum Tertinggal Dari Gerakan Imam Karena Melanjutkan Bacaan Shalatnya Yang Belum Selesai

Dalam shalat, sejatinya makmum selalu mengikuti gerakan imam, baik ketika imam takbir, ruku’, sujud hingga tahiyat akhir. Hal ini sebagaimana sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam:
“Sesungguhnya imam untuk diikuti. Apabila ia bertakbir maka bertakbirlah dan kalian jangan bertakbir sampai ia bertakbir. Apabila ia ruku’ maka ruku’lah dan kalian jangan ruku’ sampai ia ruku’. Apabila ia mengatakan “Sami Allahuliman Hamidah” maka katakanlah “Rabbana wa lakal hamdu”. Apabila ia sujud maka sujudlah dan kalian jangan sujud sampai ia sujud.” (HR. Abu Dawud)
Namun faktanya ada saja makmum yang sengaja melanjutkan bacaannya hingga imam merubah gerakan shalat dan masuk ke gerakan rukun shalat berikutnya, misalnya makmum masih sujud namun imam sudah bangkit dari sujud, atau bisa juga makmum masih melanjutkan bacaan doanya pada saat tahiyat akhir padahal imam sudah selesai mengucapkan salam yang kedua.

Lantas bagaimana menurut pandangan syariat agama? Bolehkah makmum melanjutkan bacaannya sementara imam sudah merubah gerakan shalatnya? Bagaimana jika ketinggalan? Apakah shalatnya sah?

Para ulama sepakat bahwa mengikuti gerakan imam pada saat sedang shalat berjama’ah hukumnya wajib bagi makmum dan ia tidak boleh tertinggal dari gerakan imam meskipun satu gerakan shalat saja. Dengan diwajibkannya makmum mengikuti gerakan imam, sampai-sampai Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan orang yang tertinggal sebagian shalatnya atau masbuk untuk memulai dan langsung mengikuti imam dalam sebuah keadaan.

Dari Ali bin Abi Thalib dan Mu’adz bin Jabal radhiyallahu ‘anhuma bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
“Apabila salah seorang dari kalian mendapatkan shalat dan imam sedang dalam suatu keadaan maka hendaklah ia melakukan seperti yang dilakukan oleh imam.” (HR. At Tirmidzi)
Bahkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda:
“Apabila ia (imam) shalat berdiri maka shalatlah kalian dengan berdiri. Apabila ia shalat dengan duduk maka shalatlah kalian semua dengan duduk.” (HR. Abu Dawud, Bukhari, dan Muslim)
Oleh karena itu, jika seorang makmum takhalluf atau tertinggal dari gerakan imam karena melanjutkan bacaan shalatnya yang belum selesai sedangkan imam telah berpindah ke gerakan berikutnya lagi yang menyebabkan makmum ketinggalan satu rukun maka hal ini tidak dianggap takhalluf bil udzur atau tertinggal karena udzur sehingga shalatnya dianggap batal sebab membaca bacaan shalat hukumnya sunnah sedangkan mengikuti imam hukumnya wajib.

Salah seorang ulama kontemporer berkata,
“Pendapat yang rajih sesuai yang kita rajihkan dalam masalah mendahului imam adalah apabila tertinggal satu rukun tanpa udzur maka shalatnya batal, baik yang tertinggal itu ruku’ atau selainnya.”
Akan tetapi jika makmum takhalluf bil udzur atau tertinggal dari gerakan imam karena udzur seperti karena tidak mendengar suara imam maka ia boleh melanjutkan sendiri gerakan shalat itu hingga sama keadaannya dengan keadaan imam dan shalatnya tetap sah.

Al Khatib Muhammad bin Ahmad Asy Syarbini Asy Syafi'i rahimahullah berkata,
“Adapun jika dia tertinggal kurang dari satu rukun, seperti imam ruku’ duluan sebelum makmum lalu makmum menyusulnya sebelum imam mengangkat kepalanya dari ruku’ atau makmum tertinggal satu rukun karena suatu udzur maka shalatnya tidak batal.”
Lalu bagaimana jika imam selesai mengucapkan salam yang kedua tetapi makmum masih tetap menyempurnakan bacaan doanya? Apakah ini dianggap takhalluf yang membatalkan shalatnya? Lalu bagaimana pula jika makmum tidak mengucapkan salam?

Para ulama sepakat bahwa salam merupakan rukun shalat yang terakhir sehingga apabila ditinggalkan baik karena sengaja maupun lupa maka shalatnya tidak sah. Adapun bacaan tasyahud yang paling terakhir adalah bacaan shalawat kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
“Kunci shalat adalah bersuci. Yang mengharamkannya adalah takbiratul ihram dan yang menghalalkannya adalah salam.” (HR. Ahmad, Abu Dawud, dan At Tirmidzi)
Para ulama sepakat bahwa takhalluf bil udzur atau tertinggal tanpa udzur yang dapat membatalkan shalat adalah apabila imam masuk kedalam gerakan shalat yang kedua berikutnya sehingga makmum tertinggal satu gerakan shalat. Adapun salam dalam shalat merupakan rukun yang terakhir dan tidak ada rukun lain setelahnya. Oleh karena itu, disunnahkan bagi makmum untuk mengikuti imam di awal waktu setelah imam mengucapkan salam yang kedua dan tidak berlama-lama.

Zainuddin bin Abdul Aziz Al Malibari Al Fannani dalam kitab Fathul Mu’in berkata,
“Yang sunnah bagi makmum adalah hendaknya awal pekerjaan makmum dikerjakan setelah selesai semua gerakan imam.”
Namun demikian, jika makmum masih menyempurnakan membaca doa dan tidak ikut langsung mengucapkan salam setelah imam maka hal ini dibolehkan dan shalatnya tetap sah sebab makmum tidak dianggap takhalluf atau tertinggal. Karena dengan salam maka tidak ada lagi perpindahan gerakan shalat imam setelah itu.

Salah seorang ulama kontemporer berkata bahwa jika makmum belum menyelesaikan bacaan tahiyat, sedangkan imam sudah mengucapkan salam maka ia hendaknya menyempurnakan bacaan itu dan memohon doa perlindungan kepada Allah dari empat hal. Sebab menurut pendapat terkuat, tasyahud akhir termasuk rukun shalat, sedangkan berdoa setelah tasyahud akhir dan sebelum salam hukumnya sunnah.

Oleh karena itu, jika makmum tidak langsung salam hanya karena ingin menyempurnakan bacaan doanya agar tidak terpenggal maka hal itu diperbolehkan akan tetapi jika makmum belum memulai berdoa maka ia wajib mengikuti salam imam diawal setelah salam imam yang kedua.

Jika makmum telah salam, dianggap tidak membatalkan shalat karena menyempurnakan doanya. Lantas doa apakah yang dianjurkan untuk dibaca pada tasyahud akhir?

Menurut riwayat yang shahih, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan orang yang telah selesai dari tasyahud akhir agar memohon perlindungan kepada Allah subhanahu wa ta’ala dari empat hal:
  1. Siksa jahannam,
  2. Siksa kubur,
  3. Fitnah kehidupan dan kematian, dan
  4. Kejahatan Dajjal.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
“Jika salah seorang diantara kalian selesai dari tasyahud akhir maka mintalah perlindungan kepada Allah dari empat hal dari siksa jahannam, siksa kubur, fitnah kehidupan dan kematian, dan dari kejahatan Masih Dajjal.” (HR. Muslim)
Adapun secara lengkap, doa tersebut berbunyi:
“Allahumma inni a’udzubika min ‘adzabi jahannama wa min ‘adzabil qabri wa min fitnatil mahyaa wal mamaati wa min syarril masihid Dajjal. Ya Allah, aku berlindung dari siksa neraka jahannam, dari siksa kubur, dan fitnah kehidupan dan kematian, serta dari kejahatan Masih Dajjal.”