Larangan Menganggap Anak Sebagai Pembawa Keberuntungan Atau Pembawa Sial

Anak merupakan buah cinta pasangan suami istri dan pelengkap kebahagiaan dalam keluarga. Wajar jika kehadiran anak selalu dinantikan oleh kedua orang tuanya, baik ketika sebelum lahir maupun setelah lahir ke dunia. Namun ketika sebagian orang tua telah dikaruniai banyak anak, disinilah terkadang muncul masalah.

Beberapa orang tua ada yang cenderung membanding-bandingkan antara anak-anaknya, misalnya ketika si sulung lahir, rizki orang tuanya mudah dan berlimpah tetapi ketika lahir anak yang bungsu, rizkinya mulai sulit dan ekonomi keluarganya mulai melemah sehingga kemudian muncul istilah ‘anak pembawa keberuntungan’ dan ‘anak pembawa sial’.

Lantas benarkah memang ada anak pembawa keberuntungan dan anak pembawa sial? Bagaimana hal ini dalam pandangan syariat Islam?

Menurut para ulama, anggapan sial yang diyakini oleh sebagian masyarakat berasal dari tradisi masyarakat Jahiliyah sebelum datangnya agama Islam. Konon mereka selalu mengaitkan masalah keberuntungan dan kesialan dengan benda-benda lain yang ada di sekitarnya, seperti suara burung, suara keledai, lolongan anjing, dan lainnya.

Al Qur’an menyebutkan secara gamblang bahwa sebenarnya kesialan dan keberuntungan tidak ada kaitannya dengan suara-suara itu dan tidak ada kaitannya dengan apapun kecuali hal itu merupakan ketetapan dari Allah subhanahu wa ta’ala. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:
“Ketahuilah, Sesungguhnya kesialan mereka itu adalah ketetapan dari Allah, akan tetapi kebanyakan mereka tidak Mengetahui.” (QS. Al A’raaf: 131)
Beranggapan sial dengan menyalahkan orang lain juga dilarang dalam Islam. Hal ini sebagaimana dikatakan oleh Fir’aun bahwa jika negerinya tertimpa musibah dilanda kekeringan dan paceklik maka ia selalu mengklaim bahwa Nabi Musa ‘alaihi salam dan pengikutnya yang telah membawa sial kepada mereka. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman menegaskan hal ini:
“dan jika mereka ditimpa kesusahan, mereka lemparkan sebab kesialan itu kepada Musa dan orang-orang yang besertanya.” (QS. Al A’raaf: 131)
Oleh karena itu, jika ada orang tua mengaitkan masalah keberuntungan dan kesialan dengan salah seorang anaknya maka hal ini tentu dilarang dalam syariat agama dan termasuk perlakuan tidak baik kepada anak yang dianggap membawa sial.

Demikian juga anggapan kepada anaknya yang lain sebagai pembawa keberuntungan tentu merupakan sikap orang tua yang tidak adil dan diskriminatif sebab tidak ada anak yang lahir ke dunia melainkan rizkinya telah diatur oleh Allah subhanahu wa ta’ala dan dia lahir dengan membawa rizkinya sendiri.
“Dan tidak ada suatu binatang melata pun di bumi melainkan Allah-lah yang memberi rezkinya,” (QS. Huud: 6)
Adapun jika terjadi perbedaan rizki dan pendapatan orang tua pada saat anak-anaknya dilahirkan ke dunia maka ini bukan berarti karena anaknya ada yang membawa keberuntungan dan ada pula yang membawa sial sebab rizki merupakan ketentuan Allah dan Allah memberikannya kepada setiap orang sesuai kadarnya.
“dan Allah menyempitkan dan melapangkan (rezki) dan kepada-Nya-lah kamu dikembalikan.” (QS. Al Baqarah: 245)
Berdasarkan ayat ini, rizki seseorang itu lapang atau sempit, banyak atau sedikit, semuanya merupakan takdir Allah subhanahu wa ta’ala yang harus diterima dengan sabar, ikhlas, dan lapang dada, serta bukan karena anaknya yang membawa keberuntungan atau membawa sial.

Lalu bagaimana jika ada orang tua yang berkeyakinan bahwa anaknya pembawa keberuntungan atau pembawa sial?

Para ulama sepakat bahwa percaya kepada thiyarah atau merasa sial karena melihat atau mendengar sesuatu maka hukumnya adalah haram dan orang yang melakukannya termasuk musyrik yaitu menyekutukan Allah subhanahu wa ta’ala dengan sesuatu yang lain. Dari Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu ia berkata,
“Thiyarah atau merasa sial adalah termasuk kemusyrikan.” (HR. Ahmad, Abu Dawud, At Tirmidzi)
Imam Nawawi menjelaskan bahwa merasa sial dapat menyebabkan kepada kemusyrikan sebab mereka berkeyakinan bahwa benda tersebut berpengaruh pada tercapai atau tidaknya suatu keinginan.

Oleh karena itu, jika ada orang tua yang masih beranggapan apalagi meyakini bahwa anaknya ada yang membawa keberuntungan atau ada yang membawa sial maka ia telah musyrik dan melakukan dosa besar sebab ia telah kehilangan tawakkalnya kepada Allah dan berpedoman kepada selain petunjuk Allah subhanahu wa ta’ala.

Lalu bagaimana seharusnya sikap orang tua kepada anak-anaknya?

Dalam pandangan syariat agama, anak merupakan amanah dan titipan dari Allah subhanahu wa ta’ala yang suatu saat pasti akan diambil kembali oleh pemiliknya dan orang tua akan dimintai pertanggung jawaban bagaimana mereka menjaga amanah itu.

Karena itu, anak semestinya dididik dengan baik dan diperlakukan adil dan tidak dikaitkan dengan masalah yang terjadi didalam rumah tangga termasuk dalam hal berkurang dan bertambahnya rizki sebab rizki merupakan ketetapan Allah bagi setiap orang yang akan lahir ke dunia. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
“Lalu diutuslah malaikat kepada janin tersebut dan ditiupkanlah ruh kepadanya, malaikat lalu diperintah untuk menulis empat perkara: ditulis (1) Rizkinya, (2) Ajalnya, (3) Amalnya, dan (4) Apakah ia orang yang sengsara ataukah orang yang bahagia.” (HR. Bukhari dan Muslim)