Kondisi Dimana Berandai-Andai [Berangan-Angan] Dilarang Menurut Syariat Agama Islam

Ketika kita mengalami sesuatu yang tidak kita harapkan terkadang hal itu membuat kita berkhayal dan berandai-andai, misalnya ketika sedang diuji dalam rumah tangga kita berkata “Seandainya dulu menikah dengan dia, pasti sekarang sudah kaya.” Lalu apakah berandai-andai semacam ini dibenarkan dalam syariat Islam?

Pada dasarnya, Islam melarang kaum muslim untuk berandai-andai sebab berandai-andai merupakan tipu daya setan. Diantara ciri berandai-andai yang dilarang dalam Islam adalah pengandaian yang dimaksudkan sebagai penyesalan atas musibah yang menimpanya, misalnya seseorang berangkat ke kantor naik motor dengan harapan bisa tiba lebih cepat, namun di tengah perjalanan dia mengalami kecelakaan lalu dia berkata “Seandainya saya tidak naik motor, pasti tidak akan kecelakaan.”

Tak hanya itu, para ulama juga melarang berandai-andai yang menunjukkan penolakan terhadap takdir Allah misalnya berkata “Andaikan saya dilahirkan di keluarga kaya, pasti sekarang tidak akan melarat.” Ucapan-ucapan semacam ini termasuk pengandaian yang terlarang bagi kaum muslimin bahkan sebagian ulama menghukuminya haram sebab Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
“Bersemangatlah dalam meraih apa yang bermanfaat bagimu dan mintalah pertolongan kepada Allah dan jangan bersikap lemah. Jangan katakan “Andai aku berbuat demikian, niscaya akan begini dan begini.” Namun katakanlah “Ini takdir Allah. Dia mengerjakan apapun yang Dia kehendaki.” Karena berandai-andai dapat membuka tipuan setan.” (HR. Muslim)
Al Hafidz Ibnu Hajar menuturkan bahwa maksud hadits ini ialah yang wajib dilakukan setelah takdir terjadi adalah menerima keputusan Allah subhanahu wa ta’ala, ridha dan tidak perlu memperhatikan apa yang telah lewat karena jika disebutkan apa yang telah lewat maka ia akan berkata “Andaikan aku lakukan ini, tentu akan begini.” Dengan begitu, bisikan setan akan masuk dan itu berlanjut hingga timbul penyesalan. Akibatnya, dia akan menentang takdir yang telah terjadi. Inilah perbuatan setan yang tidak boleh kita ikuti.

Selain itu, Islam juga melarang berandai-andai yang berpotensi sebagai protes terhadap syariat dan perintah Allah. Firman Allah subhanahu wa ta’ala menyebutkan,
“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu seperti orang-orang kafir (orang-orang munafik) itu, yang mengatakan kepada Saudara-saudara mereka apabila mereka mengadakan perjalanan di muka bumi atau mereka berperang: "Kalau mereka tetap bersama-sama kita tentulah mereka tidak mati dan tidak dibunuh”.” (QS. Ali Imran: 156)
Ulama kontemporer menuturkan bahwa ayat ini turun karena pada Perang Uhud, seorang munafik mengundurkan diri dari pasukan kaum muslimin. Dalam perang tersebut kaum muslimin mengalami kekalahan dan banyak yang terbunuh, sementara orang munafik tersebut mencemooh dan berkata “Seandainya mereka tidak berangkat perang, pasti tidak akan terbunuh.” Ucapan seperti ini sangat diharamkan dan berakibat pada kekafiran.

Para ulama menyatakan kaum muslimin dilarang berandai-andai sebab berandai-andai merupakan perbuatan setan yang tidak boleh diikuti. Akan tetapi bagaimana dengan berandai-andai dalam kebaikan, misalnya berandai-andai memiliki harta banyak agar bisa membantu kaum muslimin yang membutuhkan seperti berkata “Seandainya saya punya banyak uang maka saya akan rajin bersedekah.” Apakah pengandaian seperti ini juga dilarang untuk diucapkan?

Ucapan “Andaikan” atau “Seandainya” memang tidak seluruhnya dilarang, ada beberapa kondisi dimana seseorang boleh berandai-andai dan berangan-angan yaitu ketika dia mengharapkan kebaikan dari apa yang dia angankan. Dalam sebuah hadits riwayat Ahmad, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menyebutkan bahwa ada empat macam manusia di dunia:
  1. Orang yang diberi rizki berupa harta dan ilmu kemudian dia gunakan rizkinya sesuai syariat, seperti rajin beribadah, bersedekah, dan sebagainya. Inilah jenis manusia yang paling mulia.
  2. Orang yang diberi ilmu tapi tidak diberi harta kemudian dia jujur dalam niatnya dan berkata “Andai aku memiliki harta maka aku akan beramal si fulan yang rajin beramal dengan hartanya.” Dua orang ini (orang ke 1 dan 2) pahalanya sama.
  3. Orang yang diberi harta namun tidak diberi ilmu kemudian dia habiskan hartanya tidak sesuai syariat. Inilah jenis manusia yang paling buruk.
  4. Orang yang tidak diberi harta maupun ilmu lalu dia berkata “Andaikan saya memiliki harta, saya akan berbuat seperti si fulan yang menyalahgunakan hartanya.” Maka ia dihukumi sesuai niatnya dan dua orang ini (orang ke 3 dan 4) dosanya sama.
Hadits ini menunjukkan seseorang boleh berandai-andai dalam kebaikan bahkan jika disertai dengan niat yang benar dan jujur maka orang itu mendapatkan pahala yang sama seperti orang yang melakukan kebaikan tersebut. Sebaliknya, jika dia mengharapkan keburukan atau kemaksiatan dari apa yang dia angankan maka dia mendapatkan dosa yang sama seperti orang yang melakukan maksiat tersebut. Wallahu a’lam.