Kisah Para Penyair Pilihan Rasulullah

Syair, untaian kata ini punya kekuatan yang sangat luar biasa. Oleh karena itulah, syair jadi bagian yang sangat penting dan tak terpisahkan dari dakwah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Hassan bin Tsabit, Abdullah bin Rawahah, dan Ka’ab bin Malik ketiganya merupakan penyair pilihan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Kepiawaian mereka dalam memainkan kata-kata dapat menggugah hati para muslimin mengubah jiwa mereka yang lemah menjadi bersemangat sehingga menjadi sarana komunikasi yang paling efektif untuk bertempur melawan musuh-musuh Islam.

Abdullah bin Rawahah ia gunakan syair untuk menyemangati muslimin yang terjun ke medan perang. Abdullah bin Rawahah bukan hanya seorang penyair tapi juga panglima perang. Abdullah bin Rawahah selalu mengikuti setiap pertempuran untuk membela agama Allah subhanahu wa ta’ala, salah satunya adalah Perang Mu’tah.

Perang Mu’tah terjadi pada 629 Masehi atau 8 Hijriyah di daerah bernama Mu’tah, sebelah timur sungai Yordan. Perang ini tergolong besar karena 3.000 pasukan muslimin harus melawan 200.000 tentara Romawi timur.

Di Perang Mu’tah, Abdullah bin Rawahah bukan hanya sebagai panglima perang, tapi ikut menyemangati muslimin yang terjun di medan perang dengan syairnya. Inilah syair yang ia kumandangkan di Perang Mu’tah,
“Wahai jiwaku, jika kamu tidak terbunuh di perang ini maka kelak engkau juga akan mati dan inilah gerbang kematian yang ada dihadapanmu. Kematian sebagai syuhada yang selama ini engkau rindu telah diberikan kepadamu. Jika engkau menyambutnya maka engkau akan mendapat hadiah dari Tuhanmu.”
Penyair selanjutnya adalah Hassan bin Tsabit, ia mendapat perhatian khusus dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam hingga mendapat mimbar khusus di dalam Masjid Nabawi.
“Engkau mencaci Muhammad dan aku menjawab cacian itu. Dan di sisi Allah, aku akan mendapatkan pahala atas pembelaan ini. Engkau mencaci orang yang diberkahi, baik dan hanif. Orang yang Allah percaya sebagai utusan yang menepati janji.”
Penggalan kalimat di atas adalah milik Hassan bin Tsabit, seseorang yang mendapat gelar “Syair Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam” atau “Penyairnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.” Beliau dipilih sebagai penyair yang membela Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam atas seleksi yang dilakukan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sendiri.

Hassan bin Tsabit yang lahir di Yatsrib 563 Masehi dan bersuku bangsa Khazraj ini, memeluk Islam pada usia 60 tahun. Sejarah mencatat bahwa Hassan bin Tsabit dikaruniai usia yang panjang yakni 120 tahun. Separuh hidupnya dalam masa Jahiliyah, separuhnya lagi mengabdi sebagai muslimin dan membantu jalan dakwah Rasulullah.

Kepiawaiannya dalam bersyair, membuat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam seringkali memuji karya-karyanya. Bagi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, syair Hassan bin Tsabit ampuh untuk menangkis celaan dari Kaum Quraisy. Hassan bin Tsabit menggunakan syairnya untuk membela Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda bahwa Malaikat Jibril ‘alaihi salam turut memberi apresiasi yang baik terhadap syair Hassan bin Tsabit. Tidak hanya itu, syair milik Hassan bin Tsabit juga mendapat apresiasi dari Jabalah bin Aiham yakni penguasa kerajaan Ghassan.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga menunjuk Ka’ab bin Malik sebagai penyairnya. Penyair Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ini menjadi pahlawan saat Perang Uhud. Ia kobarkan semangat pasukan muslimin lewat syair miliknya.

Ketika pasukan muslimin terpukul mundur di tengah pertempuran, Ka’ab bin Malik mengumandangkan syair untuk membalas ejekan para penyair kaum musyrik. Syair-syair milik Ka’ab juga banyak berisi pujian untuk Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam seperti penggalan syair indah ini,
“Diantara kami ada Rasulullah. Kami mengikuti perintah beliau. Bila beliau bersabda diantara kami, kami tidak menentangnya. Jibril turun kepada beliau dari sisi Rabbnya turun dari langit yang tinggi dan naik ke sana. ”
Terdapat sisi lain tentang kisah penyair di zaman Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam:
  1. Kisah para penyair diabadikan dalam Al Qur’an surah Asy Syu’araa’. Begitu pentingnya peran syair sebagai media dalam menyampaikan kebenaran sehingga Allah ta’ala menurunkan surah tentang penyair.
  2. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah disangka sebagai penyair. Berawal dari masyarakat Quraisy yang khawatir dengan pengikut Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang semakin banyak maka dengan diketuai oleh tokoh Quraisy bernama Walid bin Mughirah mereka sepakat untuk memfitnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagai penyihir dan penyair.