Kisah Kaum Disabilitas Di Masa Rasulullah

Penyandang disabilitas seringkali dikucilkan dalam masyarakat. Hal ini disebabkan karena pemahaman masyarakat yang minim sehingga menganggap penyandang disabilitas tidak bisa berbuat dan berkontribusi untuk negara layaknya orang normal. Bahkan di negara tertentu penyandang disabilitas diasingkan dan diperlakukan tidak manusiawi karena dianggap membawa keburukan. Padahal didalam agama Islam kita diajarkan untuk memperlakukan sesama manusia dengan baik, terlepas orang itu terlahir sempurna atau memiliki kebutuhan khusus.

Dalam sejarah Islam, terdapat kisah sahabat-sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang kekurangan fisiknya  tidak menjadi penghalang untuk berjuang di jalan Allah subhanahu wa ta’ala. Mereka adalah Abdullah bin Ummi Maktum dan Amr bin Jamuh.

Amr bin Jamuh merupakan pemimpin Yatsrib pada masa Jahiliyah. Ia memiliki kekurangan fisik pada kakinya yakni sebelah kakinya pincang dan kondisinya cukup parah. Tidak seperti masyarakat Jahiliyah kebanyakan, Amr bin Jamuh terkenal sebagai orang yang pemurah, berprikemanusiaan yang tinggi, serta gemar menolong orang lain.

Sebelum masuk Islam, Amr bin Jamuh merawat patung berhalanya dengan biaya yang tidak sedikit. Setiap hari ia bersihkan dan diberikan wewangian yang mahal. Ketika ajaran Islam tiba di Yatsrib melalui Mush’ab bin Umair banyak bangsawan dan pemuka suku setempat yang memeluk agama Islam, tak terkecuali istri Amr bin Jamuh yang bernama Hindun dan keempat anaknya.

Istri dan keempat anak Amr bin Jamuh memeluk Islam terlebih dahulu dibanding dirinya. Hindun dan keempat anaknya takut jika Amr bin Jamuh meninggal dalam keadaan kafir sedangkan Amr bin Jamuh mencemaskan keluarganya yang meninggalkan agama nenek moyang.

Oleh karena itulah, keempat putranya membuat strategi untuk menghilangkan patung berhala milik ayahnya. Berulang kali patung tersebut dipindahkan namun berulang kali pula Amr bin Jamuh bisa menemukannya. Hingga suatu hari Amr bin Jamuh berbicara pada patungnya,
“Jika kau memang berkuasa maka belalah dirimu sendiri dari aniaya yang datang.”
Keesokan harinya, patungnya kembali berpindah tempat dan ini membuatnya sadar kalau patung berhalanya tidak bisa berbuat apa-apa. Ia pun akhirnya memeluk agama Islam saat usianya tidak lagi muda yakni 60 tahun.

Dengan kondisi fisiknya dan usia yang tidak lagi muda, Amr bin Jamuh bertekad ingin menyertakan diri dalam Perang Badar seperti yang dilakukan muslimin lainnya. Namun melihat kondisinya yang tidak memungkinkan, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak mengizinkan dan memberikan keringanan untuknya agar tidak berperang.

Saat Perang Uhud, Amr bin Jamuh kembali ingin bergabung dengan pasukan muslimin meski keempat putranya sudah mencegahnya namun tekadnya sekuat baja. Amr bin Jamuh menemui Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk meminta izin ikut berperang. Amr bin Jamuh pun syahid di Perang Uhud. Kisahnya menjadi bukti keterbatasan fisik tak menghalanginya berjuang di jalan Allah subhanahu wa ta’ala.

Kisah berikutnya adalah tentang teguran dari Allah subhanahu wa ta’ala kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam karena menghiraukan Abdullah bin Ummi Maktum penyandang tuna netra. Abdullah bin Ummi Maktum adalah salah satu sahabat terdekat Rasulullah yang juga bagian dari Assabiqunal Awwalun atau golongan pertama yang memeluk Islam, meski ia kehilangan penglihatannya sejak kecil namun tidak mengurangi ketaatannya dalam memenuhi perintah Allah subhanahu wa ta’ala.

Tak hanya itu, Abdullah bin Ummi Maktum juga dipercaya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk menjadi mu’adzin bersama Bilal bin Rabah. Abdullah bin Ummi Maktum menjadi mu’adzin di waktu shubuh, sedangkan Bilal bin Rabah di waktu tahajud.

Keistimewaan lain yang dimiliki Abdullah bin Ummi Maktum adalah Allah ta’ala menjadi saksi bahwa Abdullah bin Ummi Maktum mencintai Al Qur’an dan Sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sehingga Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah mendapatkan teguran dari Allah subhanahu wa ta’ala lantaran mengedepankan para pembesar Quraisy daripada Abdullah bin Ummi Maktum.

Bukan karena tidak menghormati Abdullah bin Ummi Maktum melainkan pada saat itu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sedang berdialog dengan para pembesar Quraisy dengan harapan agar mereka memeluk Islam namun Abdullah bin Ummi Maktum menghampiri Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan minta dibacakan ayat-ayat Al Qur’an kepadanya. Allah subhanahu wa ta’ala menegur sikap Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ini seperti tercantum dalam surah ‘Abasa ayat 1-12.

Pelajaran untuk kita selaku umat muslim adalah agar tetap berlaku baik kepada seluruh ciptaan Allah subhanahu wa ta’ala di muka bumi termasuk kepada kaum disabilitas. Oleh karena itu, kita pun perlu memiliki etika berinteraksi saat berhadapan dengan penyandang disabilitas.
  1. Respon dengan sopan permintaan mereka
  2. Selalu pahami bahwa penyandang disabilitas mempunyai hak yang sama (tidak dibeda-bedakan).
  3. Jangan menertawakan mereka, hal yang sering luput dalam pengetahuan masyarakat sehingga seringkali yang terjadi adalah menertawakan penyandang disabilitas dan membuat mereka berkecil hati atas kekurangan mereka.
Mereka yang berkebutuhan khusus memang perlu usaha lebih dalam menyampaikan pendapat mereka, namun sayangnya banyak dari kita belum memahami bahwa untuk menghadapi mereka butuh kesabaran dan pengertian. Tentu saja agar mereka leluasa berada dalam suatu kelompok sosial.