Khasiat Ayat Al Qur’an Pengundang Rizki

Membaca Al Qur’an tentunya banyak keutamaan bahkan Allah subhanahu wa ta’ala telah menjanjikan pahala dan karunianya kepada orang yang selalu membaca Al Qur’an. Allah berfirman:
“Sesungguhnya orang-orang yang selalu membaca Kitab Allah dan mendirikan shalat dan menafkahkan sebahagian dari rezki yang kami anugerahkan kepada mereka dengan diam-diam dan terang-terangan, mereka itu mengharapkan perniagaan yang tidak akan merugi, Agar Allah menyempurnakan kepada mereka pahala mereka dan menambah kepada mereka dari karunia-Nya. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Mensyukuri.” (QS. Faathiir: 29-30)
Namun ada anggapan di masyarakat bahwa ayat-ayat tertentu memiliki khasiat tersendiri, misalnya seperti surah Al Baqarah sebagai penangkal gangguan jin dan setan. Lalu bagaimana dengan anggapan ada ayat Al Qur’an yang bisa mendatangkan rizki? Bolehkah bila yang dibaca ayat-ayat itu saja? Lalu bagaimana jika hanya dipajang dalam bentuk kaligrafi di rumah?

Seorang ulama kontemporer pernah menyatakan bahwa bila Al Qur’an dibaca dengan perenungan dan niat tulus maka dapat mendatangkan manfaat duniawi dan ukhrawi yang sangat besar. Orang yang membaca Al Qur’an dengan baik, bisa mendapatkan rizki di dunia ini sebagaimana bisa mendapatkan riziki lain di akhirat kelak.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda:
“Siapa yang membaca dua ayat terakhir pada malam hari maka dia akan dicukupi.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Yang dimaksud dengan “dua ayat terakhir” Al Baqarah adalah ayat ke 285 dan 286. Pada dua ayat ini terkandung doa akan kebaikan di dunia dan akhirat. Pada surah Al Baqarah ayat 285 disebutkan doa yang berbunyi,
"Ampunilah kami Ya Tuhan kami dan kepada Engkaulah tempat kembali."
Sedangkan pada ayat 286 disebutkan doa,
"Ya Tuhan kami, janganlah Engkau hukum kami jika kami lupa atau kami tersalah. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau bebankan kepada kami beban yang berat sebagaimana Engkau bebankan kepada orang-orang sebelum kami. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau pikulkan kepada kami apa yang tak sanggup kami memikulnya. beri ma'aflah Kami; ampunilah Kami; dan rahmatilah kami. Engkaulah penolong kami, Maka tolonglah kami terhadap kaum yang kafir."
Banyak tafsir yang dikemukakan para ulama terkait kata “dicukupi” yang disebut dalam hadits. Qadi Iyadh menyatakan bahwa makna hadits tersebut bisa jadi dengan membaca dua ayat terakhir surah Al Baqarah orang mendapatkan pahala yang besar karena didalamnya terkandung pelajaran tentang keimanan, kepasrahan diri, penghambaan pada Allah, dan berisi pula doa kebaikan dunia dan akhirat.

Sementara Imam Nawawi mengatakan bahwa maksud dari kata “dicukupi” menurut sebagian ulama adalah dia sudah tidak perlu lagi shalat malam karena dua ayat terakhir surah Al Baqarah merupakan pengganti shalat malam.

Sedangkan menurut Mustafa Al Bugha ada ulama yang menyebutkan bahwa siapa yang membaca dua ayat terakhir surah Al Baqarah maka Allah akan memberikan kecukupan baginya untuk urusan dunia dan akhirat serta dijauhkan dari keburukan dan dianggap sebagai pengganti dari berbagai macam dzikir karena didalamnya sudah terkandung doa untuk meminta kebaikan dunia dan akhirat.

Kesimpulannya, sebagian ulama memahami jika dua ayat terakhir surah Al Baqarah dibaca setiap malam maka akan mencukupi segala kebutuhan pembacanya termasuk rizki. Wallahu a’lam.

Ada sejumlah hadits yang menyatakan khasiat ayat atau surah tertentu dalam Al Qur’an untuk mendatangkan rizki namun rata-rata kualitasnya lemah bahkan banyak yang palsu. Terkait dengan ini, Imam Suyuthi telah mengumpulkan sejumlah hadits tentang masalah ini yang kualitasnya tidak sampai palsu. Salah satunya adalah riwayat tentang khasiat surah Al Waaqi’ah,
Suatu ketika Abdullah bin Mas’ud jatuh sakit dan dijenguk oleh Utsman bin Affan. Khalifah Utsman bin Affan pun menanyakan bagaimana kehidupan anak-anak Abdullah bila nanti ditinggal mati maka Abdullah berkata “Apakah engkau mengkhawatirkan putri-putriku akan jatuh miskin? Aku telah berwasiat kepada mereka untuk membaca surah Al Waaqi’ah setiap malam. Sesungguhnya aku pernah mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda “Barangsiapa yang membaca surah Al Waaqi’ah setiap malam maka dirinya tidak akan ditimpa kemiskinan selama-lamanya”.” (Diriwayatkan oleh Tsa’labi dalam tafsirnya juga Al Baihaqi dalam kitab Syu’ab Al Iman dan Suyuthi dalam Ad Durr Al Mantsur)
Dari Abdullah bin Zubair pernah berkata,
“Barangsiapa membaca Yaasiin untuk suatu keperluan maka akan dipenuhi.”
Dalam khazanah Islam bahkan dikenal istilah mujarab, jamaknya mujarabat yakni amalan yang didasarkan pada pengalaman orang-orang shalih. Menurut Imam Suyuthi, amalan seperti ini jumlahnya sangat banyak dan jika dicermati sepertinya dipilih berdasarkan kesesuaian kandungan ayat dengan keperluan yang sedang ingin dicapai.

Jika mengalami kesulitan ekonomi, kita bisa membaca ayat ke dua dari surah Ath Thalaaq yang artinya:
“Barangsiapa bertakwa kepada Allah niscaya dia akan mengadakan baginya jalan keluar.” (QS. Ath Thalaaq: 2)
Atau firman Allah subhanahu wa ta’ala yang artinya:
“Sesungguhnya Allah memberi rezeki kepada siapa yang dikehendaki-Nya tanpa hisab.” (QS. Ali Imran: 37)
Praktek seperti ini meskipun detailnya tidak diatur oleh ayat atau hadits namun menurut mereka yang mengamalkan didasarkan pada makna umum ayat Al Qur’an yang artinya:
“Hai manusia, Sesungguhnya Telah datang kepadamu pelajaran dari Tuhanmu dan penyembuh bagi penyakit-penyakit (yang berada) dalam dada dan petunjuk serta rahmat bagi orang-orang yang beriman.” (QS. Yunus: 37)
Selain sebagai hidayah atau tuntunan hidup yang harus dipatuhi oleh seorang muslim, Al Qur’an juga memiliki dimensi lain sebagai penyembuh dari sakit fisik, mental, dan spiritual serta sebagai rahmat yaitu wasilah untuk meraih manfaat seperti menjemput rizki, pasangan, anak, kedudukan, dan lain sebagainya.

Lalu bagaimana bila yang dibaca hanya ayat-ayat yang mengundang rizki saja, bolehkah?

Sebenarnya membaca ayat apapun dalam Al Qur’an tetap mendapatkan ganjaran. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:
“Bacalah apa yang mudah (bagimu) dari Al Quran” (QS. Al Muzzammil: 20)
Maka membaca ayat apapun dari Al Qur’an diperbolehkan. Namun ada yang berpendapat kalau membaca hanya satu ayat dan itu-itu saja dengan niat hanya ingin mendapat rizki tentu kurang afdhal seolah kita membaca Al Qur’an meraih imbalan duniawi. kalau ia bisa membaca Al Qur’an dengan lancar sebaiknya baca Al Qur’an secara keseluruhan akan lebih baik baginya.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda:
“Orang yang membaca Al Qur’an dan ia mahir dalam membacanya maka ia akan dikumpulkan bersama para malaikat yang mulia lagi berbakti, sedangkan orang yang membaca Al Qur’an dan ia masih terbata-bata dan merasa berat (belum fasih) dalam membacanya maka ia akan mendapat dua ganjaran.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Selain itu, jika hanya membaca satu ayat dan itu-itu saja maka ia tidak akan mendapatkan keutamaan mengkhatamkan Al Qur’an yang menurut sebuah hadits akan dihadiri sekian ribu malaikat untuk mengaminkan doa yang dipanjatkan pada saat itu. Bahkan kalau kita sibuk berdzikir dan membaca Al Qur’an dengan niat tulus untuk meraih ridhanya maka akan mendapatkan imbalan yang lebih besar dan lebih baik daripada orang-orang yang berdoa.

Abu Said menuturkan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata:
“Allah azza wa jalla berfirman “Barangsiapa sibuk membaca Al Qur’an dan berdzikir kepada-Ku sehingga tidak sempat meminta kepada-Ku maka Aku akan memberinya lebih daripada yang Aku berikan kepada orang-orang yang meminta kepada-Ku”.” (HR. Tirmidzi)
Permasalahan lain yang terjadi di masyarakat adalah banyaknya ayat-ayat Qur’an yang dijadikan kaligrafi dan ditempel di dinding-dinding. Apakah hal tersebut dibolehkan dalam syariat? Lalu apakah khasiat ayat-ayat itu juga bisa didapat dengan cara memajangnya di dinding?

Sebenarnya tidak ada keterangan tentang khasiat yang dipajang di dinding. Malah menggantung kaligrafi ayat Al Qur’an di dinding termasuk dinding masjid pun ada yang menganggapnya terlarang karena khawatir menodai kehormatan Al Qur’an. Namun ada juga yang menganggapnya boleh asal tetap menjaga kehormatannya.

Bahkan hal ini sudah dipraktekkan kaum muslim sejak dahulu hingga sekarang. Para ahli sejarah menyebutkan bahwa Umar bin Abdul Aziz sewaktu menjabat gubernur Madinah pernah menghiasi mihrab Masjid Nabawi dengan kaligrafi ayat Al Qur’an berbahan emas bahkan ada ahli sejarah yang mengatakan bahwa sebelum Umar bin Abdul Aziz, Khalifah Utsman bin Affan pernah menghiasi dinding Masjid Nabawi dengan kaligrafi ayat Al Qur’an.

Terkait khasiat bacaan dalam Al Qur’an maka sudah seharusnya Al Qur’an itu dibaca dan diamalkan oleh setiap muslim. Jika hanya ditempelkan di dinding tanpa pernah dibaca dan diamalkan maka jelas kedudukannya berbeda. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda:
“Bacalah Al Qur’an maka sesungguhnya ia akan datang pada hari kiamat sebagai syafa'at bagi ahlinya.” (HR. Muslim)