Keistimewaan Pohon Zaitun

Di tanah para nabi yang shalih, Palestina ada sebuah pohon yang diberikan banyak kelebihan oleh Sang Pemilik Alam, usianya panjang hingga ribuan tahun. Bila batangnya ditebang, tunasnya dengan cepat tumbuh kembali. Dan saat masa panen tiba, buahnya akan menghasilkan minyak yang dapat digunakan baik untuk memasak hingga bisa untuk pengobatan. Pohon itu dinamakan zaitun.

Dilihat sekilas, pohon zaitun sebenarnya tidak terlalu mengesankan, tetapi pohon perdu ini diketahui memiliki sejarah yang panjang di muka bumi. Dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhu diketahui bahwa pohon zaitun merupakan pohon pertama yang tumbuh di bumi. Sekaligus pohon pertama pula yang tumbuh setelah banjir besar di zaman Nabi Nuh.

Tujuh puluh Nabi telah mendoakannya agar diberkati antara lain Nabi Ibrahim ‘alaihi salam dan Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam tatkala memanjatkan doa “Ya Allah, berkatilah zait dan zaitun” beliau mengucapkannya dua kali. Tak heran, pohon zaitun kini telah hidup tersebar memenuhi 80% tanah-tanah Palestina termasuk di dalam kompleks Masjidil Aqsha.

Keistimewaan zaitun lainnya adalah ia menjadi salah satu tanaman yang disebut oleh Allah subhanahu wa ta’ala dalam Al Qur’an sebanyak tujuh kali dan dalam satu surah Al Qur’an, Allah mengambilnya untuk bersumpah atas sesuatu seperti firman-Nya dalam surah At Tiin yang artinya:
“Demi (buah) Tin dan (buah) Zaitun, Dan demi bukit Sinai, Dan demi kota (Mekah) Ini yang aman, Sesungguhnya kami Telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya .” (QS. At Tiin: 1-4)
Bagi orang yang berpikir, tentunya dibalik penyebutan Sang Pencipta terhadap tumbuhan ini pasti tersimpan rahasia dan anugerah yang perlu dipelajari dan diketahui oleh manusia.

Di bumi Palestina, anugerah itu terlihat dari kemampuan tumbuhnya zaitun walau di lereng bukit batu sekalipun, pola tumbuh akarnya yang mencengkeram tanah baik ke dalam bumi atau menjulur ke samping menjadi kunci ketangguhan hidup pohon ini.

Dan yang paling bermanfaat bagi manusia adalah satu batang pohon zaitun mampu menghasilkan hingga 60 liter minyak dalam setahun.

Sejak zaman para nabi, keberadaan minyak zaitun sangatlah berharga. Selain dikonsumsi, minyak zaitun juga digunakan sebagai bahan bakar untuk penerangan dan menghasilkan cahaya. Kelebihan minyak zaitun ini telah disebutkan oleh Allah subhanahu wa ta’ala dalam firman-Nya:
“Pelita itu di dalam kaca (dan) kaca itu seakan-akan bintang (yang bercahaya) seperti mutiara, yang dinyalakan dengan minyak dari pohon yang berkahnya, (yaitu) pohon zaitun yang tumbuh tidak di sebelah timur (sesuatu) dan tidak pula di sebelah barat(nya), yang minyaknya (saja) hampir-hampir menerangi, walaupun tidak disentuh api.” (QS. An Nuur: 35)
Diriwayatkan dari Umar bin Khattab radhiyallahu ‘anhu, Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam juga mendorong umat Islam untuk menggunakan zaitun seperti yang disampaikan dalam sabdanya:
“Makan dan berminyaklah dengan zaitun karena ia berasal dari pohon yang diberkahi.” (HR. Tirmidzi)
Keseharian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga tidak jauh dari minyak zaitun. Selain dikonsumsi, Rasulullah juga membaluri rambut dan beberapa titik di wajahnya dengan minyak ini.

Penelitian yang telah dilakukan dari masa ke masa didapatkan temuan besar pada pohon zaitun.

Untuk menghasilkan buah secara penuh, pohon zaitun harus berumur 15 hingga 20 tahun. Dalam satu buah matang terdapat 80% air, 15% minyak, serta karbohidrat, protein, dan serat yang masing-masing mengandung 1%. Ketika diolah menjadi minyak, di dalamnya terdapat omega 9 hingga omega 6 yang sangat bermanfaat untuk tubuh dan otak.

Selain itu, bila dikonsumsi secara rutin maka minyak zaitun yang mengandung polifenol akan memperkuat sistem imun sehingga bisa melindungi tubuh dari radikal bebas. Bahkan riset tahun 2017, peneliti di Temple University di Philadelphia membuktikan bahwa minyak zaitun murni mampu melindungi daya ingat dan kemampuan belajar serta mengurangi pembentukan plak penyebab penyakit Alzheimer.

Dr. William Castelli pelaku studi Birmingham Inggris menyatakan satu jenis minyak paling tua yang terbukti aman dikonsumsi adalah minyak zaitun. Ia mengingatkan penggunaan minyak zaitun di Mediterania membuat masyarakat hidup dalam kondisi sehat meskipun mereka pengkonsumsi daging domba, krim, minyak samin, dan mentega. Dengan kandungan lemak tak jenuh yang sangat istimewa dan mampu menetralisir makanan yang buruk.

Perintah Allah dan ajakan para nabi mengkonsumsi minyak zaitun, membuat masyarakat Timur Tengah terbiasa menggunakan minyak ini dalam kehidupan sehari-hari malah di Palestina, para keluarga dan anak-anak mampu memproduksi olahan zaitun sendiri.

Kini pohon zaitun telah tumbuh menyebar ke benua lain, tidak hanya di Timur Tengah dan Afrika, zaitun kini bisa dijumpai di benua Amerika dan Australia. Kebutuhan yang besar setelah penelitian dilakukan membuat zaitun menjadi bahan penting bagi produk yang dikonsumsi oleh manusia di permukaan bumi ini. Tidak hanya untuk makanan, kini zaitun juga telah digunakan untuk bahan kosmetik hingga berfungsi menghaluskan furniture.

Ada satu hal yang perlu kita ketahui agar berkah Allah dapat kita rasakan lebih baik lagi dengan adanya buah zaitun dan olahannya, yaitu pentingnya sebagai hamba mentaati perintah Allah subhanahu wa ta’ala yang disampaikan dalam firman-Nya,
“Dan makanlah makanan yang halal lagi baik dari apa yang Allah Telah rezekikan kepadamu, dan bertakwalah kepada Allah yang kamu beriman kepada-Nya.” (QS. Al Maaidah: 88)
Tidak heran, menu makanan halal yang wajib diperhatikan, tata cara mengkonsumsi makanan yang baikpun tidak kalah pentingnya untuk diikuti sebab setingginya apapun gizinya kalau pola konsumsinya tidak teratur maka akan buruk akibatnya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah memiliki pola menikmati makanan yang baik dan mendorong umatnya untuk melakukan hal yang serupa seperti yang disampaikan dalam sabdanya:
“Cukuplah bagi manusia itu beberapa suap makanan untuk menegakkan tulang rusuknya kalaupun harus kenyang maka sepertiga untuk makanannya, sepertiga untuk air minumnya, dan sepertiga lagi untuk nafasnya.” (HR. At Tirmidzi, Ahmad, dan Ibnu Majah)
Pola hidup yang tidak berlebih-lebihan dan sederhana dicontohkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam termasuk dalam hal pola makanan. Salah satu faktor penting penunjang fisik prima Rasulullah adalah kecerdasan beliau dalam memilih menu makanan dan mengatur pola konsumsi termasuk zaitun.

Seperti rutinitas yang pernah dilakukan Rasulullah, segelas air yang dicampur sesendok madu asli di waktu shubuh, tujuh butir kurma ajwa atau makan di waktu dhuha, menjelang sore hari menu Rasulullah adalah roti dengan cuka dan minyak zaitun. Sementara bila berpuasa, Rasulullah memilih berbuka puasa dengan susu dan kurma dilanjutkan dengan shalat maghrib.

Buah tiin dan zaitun menjadi menu yang rutin dikonsumsi, selain sana al makki dan sanut atau sejenis sayuran di malam hari, anggur dan labu juga menjadi buah yang digemari Rasulullah. Dengan mencontoh pola makan Rasulullah, kita sebenarnya sudah menjalani terapi pencegahan berbagai penyakit dengan pilihan makanan yang sudah dianjurkan Rasulullah dan juga Al Qur’anul Karim.

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:
“Sesungguhnya Telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah.” (QS. Al Ahzab: 21)
Semoga kita menjadi umat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang dapat meneladani dan senantiasa mengamalkan sunnahnya. Segala Puji Milik Allah Rabb Semesta Alam.