Kebiasaan Mencium Tangan Seseorang Menurut Syariat Agama Islam

Fenomena yang terjadi di masyarakat adalah kebiasaan saling berjabat tangan dan mencium tangan ketika saling bertemu. Namun apakah hal ini hanya kebiasaan atau memang dicontohkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam? Bagaimana syariat memandang hal ini? Siapa saja yang boleh dicium tangannya terkait hal ini?

Kebiasaan atau adat mencium tangan bagi sebagian besar kaum muslimin merupakan wujud kasih sayang dan penghormatan terutama kepada ulama, guru, serta orang yang dituakan. Perbuatan ini juga dikerjakan oleh para sahabat Radhiyallahu ‘anhum jika bertemu dengan Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Mereka akan bergegas mencium tangannya sebagaimana sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad dan Ibnul Muqri’,
Dari Jabir radhiyallahu ‘anhu beliau berkata bahwa Umar bergegas menuju Rasulullah lalu mencium tangannya.
Mencium tangan sebagai bentuk penghormatan kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak hanya dilakukan oleh para sahabat dari kalangan bangsa Arab, Kaum Yahudi bahkan mencium kaki Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, Dari Safwan bin Assal ia berkata bahwa ada dua orang Yahudi bertanya kepada Rasulullah tentang tujuh ayat yang pernah diturunkan kepada Musa ‘alaihi salam setelah dijawab mereka mencium tangan dan kaki Rasulullah lalu mereka berkata “Kami bersaksi bahwa engkau adalah Nabi.”

Kebiasaan saling mencium tangan juga berlaku diantara sesama sahabat misalnya riwayat Ammar bin Abi Ammar yang menyatakan,
Zaid bin Tsabit pernah mencium tangan Ibnu Abbas. Zaid bin Tsabit pernah berkata kepada Ibnu Abbas “Berikanlah tanganmu!” Maka diberikanlah tangan Ibnu Abbas lalu Zaid menciumnya. (HR. Ibnu Sa’ad)
Imam An Nawawi dalam kitabnya berjudul Raudhatuth Thalibin menjelaskan bahwa mencium tangan seseorang karena keshalihan, keilmuan, kemuliaan, dan perkara-perkara yang berkaitan dengan keagamaan termasuk hal yang disukai. Abu Bakr Al Marwadzi dalam kitab Al Wara’ menerangkan pendapat Imam Ahmad bahwa tidak mengapa seorang muslim mencium tangan sesama muslim jika alasannya karena agama.

Berdasarkan riwayat yang ada, para ulama berpendapat bahwa mencium tangan bukanlah sebuah perbuatan yang hanya berlaku untuk Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, mencium tangan ulama, guru, dan orang-orang yang dihormati adalah perkara yang dibolehkan dalam agama Islam.

Jika demikian, adakah batasan dan syarat dalam mencium tangan ini? Bagaimana jika seseorang menjadikan hal tersebut sebagai kewajiban?

Dalam syariat memang tidak ada batasan dan syariat perihal cium tangan kepada orang alim ulama, orang tua, maupun guru. Namun menurut ulama kontemporer, cium tangan ini tidak boleh dijadikan suatu kewajiban karena dikhawatirkan bisa menjadikan seorang alim sombong dan melihat dirinya hebat bahkan jangan sampai ada orang yang berharap berkah dari mencium tangan si alim tersebut karena keberkahan datangnya dari Allah subhanahu wa ta’ala bukan dari mencium tangan orang.

Mencium tangan juga menjadi terlarang apabila diniatkan untuk memperoleh perkara duniawi. Imam Nawawi berkata,
“Jika seseorang mencium tangan seseorang dengan tujuan memperoleh jabatan maka perbuatan ini sangat dibenci.”
Imam Ahmad berpendapat bahwa dalam keadaan sangat mendesak, boleh mencium tangan seseorang untuk urusan dunia, misalnya seseorang yang dalam keadaan terjepit dan akan dibunuh maka ia boleh mencium tangan orang yang berkuasa agar lolos dari upaya pembunuhan.

Lalu bagaimana pula bila menciium tangan yang bukan mahram? Apakah diperbolehkan?

Kaidah mencium tangan ini sama dengan berjabat tangan karena sebelum mencium tangan pasti seseorang akan berjabat tangan terlebih dahulu. Artinya, tangan akan saling menyentuh. Jumhur ulama melarang untuk berjabat tangan dengan yang bukan mahram sedangkan ulama Hanafiyah dan Ulama Hanbali membolehkan berjabat tangan dengan bukan mahram yang sudah tua yang tidak ada syahwat.

Dalam sebuah hadits Imam Bukhari disebutkan bahwa ketika Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam membai’at perempuan yang bukan mahram, beliau tidak menjabat perempuan tersebut dan membai’at hanya dengan ucapan. A’isyah berkata,
“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tidaklah pernah menyentuh wanita sama sekali sebagaimana yang Allah perintahkan. Tangan beliau tidaklah pernah menyentuh tangan mereka. Ketika bai’at, beliau hanya membai’at melalui ucapan dengan berkata “Aku telah membai’at kalian”.” (HR. Muslim)
Jika ada unsur syahwat maka perbuatan mencium tangan ini dilarang karena saling mencium dalam keadaan syahwat hanya diperbolehkan untuk pasangan suami istri.

Dalam ilmu fiqih, mencium tangan orang yang berilmu dan shalih bukanlah sebuah perintah agama sehingga mencium tangan guru, ulama, kyai tidak digolongkan sebagai sesuatu yang wajib atau sunnah. Mencium tangan merupakan kebiasaan masyarakat atau ‘urf yang diperbolehkan oleh syariat Islam. Ada kaidah yang berbunyi “Al Adatu Muhakkama” sebuah adat atau tradisi itu bisa dijadikan dasar hukum jika adat istiadat tersebut tidak bertentangan dengan hukum Islam itu sendiri. Adat istiadat yang diakomodasi dalam syariat Islam biasanya terkait dengan etika, norma kehidupan, dan sopan santun yang berlaku di masyarakat.

‘Urf atau kebiasaan yang berlaku di negeri kita adalah mencium tangan orang tua dan orang-orang yang terhormat lainnya seperti kakek, paman, mertua, termasuk kyai, ulama, dan lainnya. Bila hal itu dilakukan sebagai bentuk penghormatan dan menyesuaikan diri dengan ‘urf yang dikenal masyarakat maka hal itu baik karena menunjukkan adanya etika dan sopan santun yang berlaku di masyarakat.