Kaya Yang Bersyukur Atau Miskin Yang Bersabar, Manakah Yang Lebih Utama?

Apabila kita ditanya, pilih mana: ingin menjadi orang kaya yang pandai bersyukur atau orang miskin yang pandai bersabar? Barangkali akan banyak yang lebih memilih menjadi orang kaya yang pandai bersyukur sebab secara naluri manusia lebih siap menikmati kekayaan daripada mengalami kemiskinan. Akan tetapi sebenarnya mana yang lebih utama, kaya yang bersyukur ataukah miskin yang bersabar?

Ada dua pendapat ulama terkait hal ini:
  1. Orang miskin yang pandai bersyukur, derajatnya lebih utama sebab kelak di akhirat, orang fakir atau miskin akan lebih dahulu masuk surga daripada orang kaya seperti yang disabdakan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam “Orang-orang fakir di kalangan kaum muslimin kelak akan mendahului orang-orang kaya dalam hal masuk surga selama setengah hari di akhirat yaitu 500 tahun.” (HR. At Tirmidzi) menurut pendapat ini hamba yang lebih dulu masuk surga menunjukkan bahwa dia lebih mulia dibanding lainnya.
  2. Orang kaya yang bersyukur lebih utama dibandingkan orang miskin yang bersabar sebab kekayaan merupakan sifat Allah, sedangkan kefakiran merupakan sifat makhluk. Sifat Allah tentu lebih baik daripada sifat makhluk dan yang menjadi landasan utama pendapat ini adalah hadits dari Abu Dzar yang mengadu pada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam “Ya Rasulullah, orang-orang kaya membawa pergi pahala-pahala. Mereka shalat sebagaimana kami shalat. Mereka puasa sebagaimana kami puasa. Namun mereka memiliki kelebihan harta yang mereka gunakan untuk bersedekah sementara kami tidak memiliki harta untuk disedekahkan.” (HR. Muslim) Imam Nawawi menuturkan bahwa dalam hadits ini terdapat dalil bahwa orang kaya yang bersyukur itu lebih utama dibandingkan dengan orang miskin yang bersabar. Dalil lain yang juga menjadi landasan pendapat kedua ini adalah bahwa Islam sebenarnya tidak menginginkan umatnya hidup dalam kemiskinan. Beberapa amalan seperti zakat, wasiat, waris, dan sebagainya bertujuan untuk memakmurkan umat Islam dan menghindarkan mereka dari kemiskinan dan kefakiran. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman “Dan hendaklah takut kepada Allah orang-orang yang seandainya meninggalkan dibelakang mereka anak-anak yang lemah, yang mereka khawatir terhadap (kesejahteraan) mereka.” (QS. An Nisaa’:9) Para ulama tafsir menjelaskan salah satu makna lemah dalam ayat ini adalah lemah dalam konteks ekonomi atau kefakiran sebab ayat ini secara eksplisit membahas tentang waris. Dengan kata lain, ayat tersebut menegaskan hendaklah takut kepada Allah orang-orang yang seandainya meninggalkan dibelakang mereka anak-anak yang fakir. Dalil-dalil tersebut menunjukkan syariat Islam sangat memperhatikan kesejahteraan kaum muslimin dan tidak menginginkan umat Islam hidup dalam kemiskinan dan kefakiran.
Meski demikian, barangkali yang mendekati kebenaran adalah baik orang miskin yang bersabar maupun orang kaya yang bersyukur itu sama-sama baiknya sebab banyak hadits shahih dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang menyebutkan keutamaan orang miskin dan tidak punya harta asalkan ia bersabar dalam kemiskinannya dan selalu berbaik sangka kepada Allah subhanahu wa ta’ala, begitu pula banyak hadits yang menyebutkan keutamaan orang kaya dan memiliki banyak harta selama dia bersyukur dengan menggunakan hartanya di jalan Allah subhanahu wa ta’ala sebagaimana tertera dalam sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam,
“Sungguh mengagumkan kondisi orang mukmin, semua urusannya baik. Ketika dia mendapatkan kenikmatan dia bersyukur dan itu baik baginya dan ketika dia mendapatkan musibah dia bersabar dan itu juga baik baginya.” (HR. Muslim)
Dalam kitab Ihya Ulumuddin, Imam Al Ghazali pun menerangkan bahwa ada banyak orang miskin atau fakir yang bersabar lebih utama dibandingkan dengan orang kaya yang bersyukur. Begitu pula ada banyak orang kaya yang bersyukur lebih utama dibandingkan dengan orang fakir yang sabar yaitu yang memperlakukan dirinya seperti orang fakir. Ia tidak memegang harta untuk dirinya kecuali sebatas kebutuhannya. Selebihnya ia gunakan untuk hal-hal kebaikan.

Yang menjadikan salah satu dari dua kelompok ini lebih utama dari yang lain di hadapan Allah subhanahu wa ta’ala hanyalah ketakwaan dan keimanan. Siapa yang lebih kuat takwa dan imannya tentu derajatnya lebih utama. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:
“Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling taqwa diantara kamu.”(QS. Al Hujuraat: 13)
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda:
“Kekayaan itu bukanlah banyaknya kemewahan dunia (harta) akan tetapi kekayaan hakiki adalah kekayaan dalam hati.” (HR. Bukhari dan Muslim)