Jin Atau Setan Mampu Mengintip Isi Hati Manusia

Banyak orang yang masih merasa takut akan keberadaan jin. Keberadaannya disebut selalu membuat bulu kuduk berdiri, bahkan banyak yang beranggapan bila jin bisa mengetahui isi hati manusia terutama saat sedang ketakutan. Apakah memang demikian bahwa jin bisa membaca dan mendengar isi hati manusia?

Terkait hal ini Ibnu Taimiyyah rahimahullah menyebutkan bahwa jin dan malaikat bisa mendengar isi hati manusia, beliau berkata:
“Mereka malaikat dan jin meski bisa mencium bau harum dan bau busuk seperti dinyatakan Abu Sufyan bin Uyainah tetapi pengetahuan mereka tidak memerlukan penciuman itu. Sebaliknya, mereka mengetahui isi hati Anak Adam juga melihatnya dan mendengar bisikan hatinya.”
Dari Ummul Mu’minin Shafiyah radhiyallahu ‘anha menyebutkan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
“Setan berada di dalam tubuh Anak Adam seperti peredaran darah.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Hal ini menunjukkan keberadaan jin atau setan tersebut memang sangat dekat dengan manusia. Bahkan saking dekatnya, jin atau setan ini bisa mengganggu manusia kapanpun ia lengah.

Dalam kitab Mahqalat Al Islamiyyin, Imam Abul Hasan Al Asy’ari menyebutkan adanya tiga pendapat terkait masalah ini:
  1. Pendapat yang menyatakan bahwa setan tidak mampu mengetahui apa yang terdetik dalam hati manusia, sedangkan penyesatannya terhadap manusia baik berupa dorongan untuk melakukan kejahatan maupun larangan untuk melakukan kebaikan, semua dilakukannya berdasarkan perkiraan dan dugaan.
  2. Pendapat yang menyatakan bahwa setan tidak mampu memasuki hati manusia tetapi dapat mengetahui apa yang terdetik di dalamnya melalui semacam isyarat atau sinyal yang timbul saat hati sedang berkata atau sedang memberi instruksi kepada organ lain dalam tubuh untuk melakukan sesuatu atau meninggalkan sesuatu.
  3. Pendapat yang menyatakan bahwa setan mampu merasuk kedalam hati manusia dan mampu mengetahui keinginan yang terdetik didalam hatinya.
Terkait kemampuan jin yang merasuk kedalam hati manusia dan mendengar isi hatinya, suatu ketika ada orang yang bertanya kepada Syaikh Abdullah bin Baz seorang ulama kontemporer. Orang tersebut berkata “Jika saya berniat melakukan amalan baik didalam hati, apakah setan mengetahui hal itu lalu berusaha mengalihkan saya dari perbuatan baik yang saya niatkan?” Lalu Syaikh pun menjawab “Setiap orang selalu didampingi setan dan malaikat.” Beliau kemudian merujuk kepada hadits riwayat Muslim, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
“Setiap orang diantara kalian pasti didampingi seorang qarin dari bangsa jin dan malaikat.” Para sahabat bertanya “Termasuk juga engkau, wahai Rasulullah?” Beliau menjawab “Ya, termasuk diriku hanya saja Allah menundukkannya kepadaku hingga masuk Islam dan tidak menganjurkanku kecuali untuk melakukan kebaikan.” (HR. Muslim)
Disamping itu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam juga pernah menyatakan bahwa setan mampu mengajak manusia untuk berbuat buruk hingga tergeraklah dalam hatinya untuk melakukan keburukan seperti tersebut di dalam hadits riwayat Tirmidzi dari Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu.

Dan yang terpenting dari semua itu atas kehendak Allah, setan mampu mengetahui segala yang diniatkan oleh manusia baik niat buruk maupun niat baik lalu ketika jin atau setan mampu mengetahui isi hati manusia, bukankah itu malah sangat berbahaya bagi manusia karena langkah dan keinginannya selalu diketahui jin dan niat baiknya bisa saja dijegal oleh jin?

Meski jin atau setan mampu mengintip isi hati manusia, yang pasti kita tidak boleh risau dan takut karena jin atau setan tidak sekuat yang kita bayangkan dan tidak semengerikan seperti yang kita pikirkan. Disamping itu, Islam juga sudah memberikan resep untuk mengusir mereka. Jin atau setan pendamping itu pun bisa jadi hanya akan mendampingi manusia saja tanpa mampu mempengaruhinya bila manusia yang didampinginya itu taat kepada Allah subhanahu wa ta’ala dan banyak berdzikir.

Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhu pernah mengatakan,
“Setan bercokol didalam hati Anak Adam, apabila Anak Adam itu berdzikir kepada Allah, dia akan mundur menjauh. Sebaliknya, bila Anak Adam itu lengah maka dia akan membisikinya.” (HR. Bukhari)
Selain itu, Allah subhanahu wa ta’ala juga berfirman:
“Sesungguhnya orang-orang yang bertakwa bila mereka ditimpa was-was dari syaitan, mereka ingat kepada Allah, Maka ketika itu juga mereka melihat kesalahan-kesalahannya.” (QS. Al A’raaf: 21)
Melihat kesalahannya berarti menyadarinya pada saat itu dan setan tidak mampu mendekat lagi kepadanya, bukankah setan tidak mampu menggoda hamba Allah yang menyadari kebesaran Allah dan menyadari kelemahan dirinya sendiri?

Sejalan dengan ini, Ibnu Taimiyyah berkata bahwa jika Anak Adam berdzikir kepada Allah, setan akan mundur menjauh dan jika Anak Adam melalaikan Allah, setan akan membisikkan keburukan kepadanya. Setan juga tahu apakah seorang manusia sedang berdzikir kepada Allah atau sedang melalaikannya juga tahu apa yang sedang diinginkan oleh nafsu syahwatnya sehingga dibuatnya kelihatan indah.

Karena kemampuan jin atau setan untuk bisa melihat isi hati manusia serta senantiasa mengganggu manusia yang lemah imannya, Allah subhanahu wa ta’ala pun mengingatkan manusia akan perlunya berdzikir dan selalu ingat kepada-Nya. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:
“Dan jika kamu ditimpa sesuatu godaan syaitan Maka berlindunglah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha mendengar lagi Maha Mengetahui.” (QS. Al A’raaf: 200)
Berikutnya muncul pertanyaan, apabila setiap manusia berdzikir dan senantiasa ingat Allah, apa yang akan terjadi pada setan dan jin tersebut?

Bila semua ini diamalkan oleh manusia maka seperti disebutkan dalam sabda Nabi yang diriwayatkan oleh Ibnu Abi Dunya dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu bahwa setan orang mukmin letih dan kurus sebagaimana letih dan kurusnya unta yang dalam perjalanan. Atau seperti yang dikatakan oleh Syaikh bin Baz, orang mukmin akan menundukkan jin pendampingnya dengan cara mematuhi Allah hingga jin tersebut menjadi lemah dan tidak mampu menghalangi manusia untuk melakukan kebaikan sebagaimana juga tidak mampu menjerumuskannya kedalam kejahatan.

Sebaliknya, bagi orang yang ingkar kepada Allah melalui kedurhakaannya telah membantu setan pendampingnya untuk membantunya melakukan kebatilan dan menghalanginya dari perbuatan baik. Jika demikian, dzikir seperti apa yang dianjurkan?

Sebagian dari dzikir adalah ayat Al Qur’an, bahkan sebagian diantaranya diajarkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yaitu dengan membaca surah Al Ikhlas, Al Falaq, dan An Naas sebagaimana sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam,
“Ucapkanlah Qulhuwallahu ahad dan Al Mu’awwidzatain atau dua surah terakhir yaitu Al Falaq dan An Naas ketika sore dan pagi tiga kali maka hal itu sudah cukup menjadi perlindungan bagimu dari gangguan segala sesuatu.” (HR. Abu Dawud dan At Tirmidzi)