Jika Shalat Isya Digabung Dengan Shalat Tahajud

Shalat di awal waktu apalagi jika dilakukan berjama’ah di masjid akan mendapatkan pahala berlipat. Namun yang sering terjadi di masyarakat, orang melakukan shalat isya di sepertiga malam dengan niat agar setelah shalat isya bisa melakukan shalat tahajud.

Dengan begitu, ia mengharap keutamaan dari kedua shalat itu. Dasarnya adalah hadits dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu,
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menunda shalat isya hingga tengah malam kemudian barulah beliau shalat. (HR. Mutafaqqun ‘alaih)
Pertanyaannya, apakah hal tersebut masih relevan dengan keadaan sekarang? Bagaimana afdhalnya? Apakah masih mendapat keutamaan shalat bila mengakhirkan shalat isya di sepertiga malam dan disambung dengan tahajud?

Berikut pemaparan Ustadz Sarwat: Mengakhirkan shalat isya hingga sepertiga malam ini kalau diniatkan untuk disambung dengan shalat tahajud sebenarnya kurang tepat karena Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak pernah melakukannya.

Bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah mengakhirkan shalat isya bukan kemudian tidak ikut berjama’ah di masjid atau menunda sampai larut malam shalat sendirian tetapi karena ada sebabnya yaitu kadang-kadang para sahabat itu tidak berkumpul di awal waktu. Begitu dikumandangkan adzan, ada yang datangnya duluan, ada yang agak lambat, dan sebagainya.

Kadang-kadang kalau memang sudah kumpul semua dan Nabi melihat semua sudah ada di masjid, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam langsung memulai shalat, tapi kadang-kadang juga kasusnya adalah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam lebih toleran kalau para sahabat agak berlambat-lambat datang ke masjid, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam lebih suka menunggu mereka sehingga menunggu disini adalah mengakhirkan atau menunda hingga semua jama’ahnya hadir.

Karena shalat itu akan lebih afdhal kalau jama’ahnya penuh daripada shalat di awal waktu tapi jama’ahnya hanya dua atau tiga shaf. Asalkan sudah penuh semua dan kebetulan misalnya di awal waktu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam segera mulai, tetapi kalau belum penuh semua maka Nabi menunggu sampai semua kumpul lalu Bilal iqamah dan shalat pun dimulai. Shalat isya seperti inilah yang dikatakan sebagai mengakhirkan/menunda shalat isya.

Adapun shalat tahajud, afdhalnya itu adalah di sepertiga malam yang terakhir bukannya digabung antara shalat isya dengan tahajud. Walaupun hukumnya sah atau boleh tapi kalau melihat dari ‘default’ Rasulullah beliau shalat isya di awal malam sebelum tidur berjama’ah di masjid bersama dengan para sahabat yang lain setelah itu beliau istirahat tidur, di akhir malam beliau shalat tahajud.

Tapi kalau tidak yakin apakah bisa bangun nanti di akhir malam, bolehkah shalat witir saja sebelum tidur? Hukumnya boleh, tetapi idealnya maka isyanya di awal malam, tahajudnya di akhir malam.