Jika Baru Datang Ketika Shalat Sudah Di Raka’at Terakhir [Posisi Tahiyat Akhir]

Seringkali ketika shalat berjama’ah di masjid, ditemukan orang yang baru datang ketika shalat sudah dimulai bahkan tak jarang ada jama’ah hadir ketika shalat sudah di raka’at terakhir saat posisi sedang tahiyat akhir, bisa jadi mereka ada keperluan sehingga tidak bisa datang di awal waktu.

Lalu bagaimana seharusnya para jama’ah yang baru datang ini, apakah ia menjadi jama’ah masbuk dengan langsung ikut shalat meskipun sudah hampir selesai ataukah menunggu jama’ah lain untuk shalat di gelombang berikutnya?

Berikut penuturan Ustadz Ahmad Sarwat: Sebenarnya datang terlambat pada shalat berjama’ah itu dari awal sudah salah, yang benar itu adalah datang di awal waktu sebelum imamnya datang kita sudah datang kalau mau bicara dapat 27 derajat yang katanya shalat berjama’ah. Tapi yang namanya manusia kadang-kadang dia bisa datang awal, kadang-kadang ada urusan, ada kerjaan, ada hambatan dan sebagainya jadilah dia datang terlambat. Saking terlambatnya satu raka’atpun sudah tidak dapat, dapatnya hanya imam sudah tahiyat akhir.

Pilihannya adalah ikut berjama’ah menjadi masbuk tanpa dapat satu pun raka’at (ikut tahiyat akhir), atau membuat jama’ah baru. Di masa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, tidak ada yang membuat jama’ah baru, semua datang pada waktunya. Bahkan kalaupun jama’ahnya belum datang, Rasulullah sebagai imam justru beliau menunda iqamahnya.

Walaupun ada kasus satu atau dua kali betul-betul terlambat bahkan datang ke masjid pun sudah tidak ada jama’ah semua sudah bubar sedangkan dia baru datang disana masih ada Rasulullah dan beberapa sahabat kemudian Nabi menegur orang yang mau shalat itu lalu menawarkan kepada salah seorang sahabatnya untuk menemaninya shalat berjama’ah sebagai sedekah. Tapi yang harus diingat adalah shalat semacam ini bukanlah shalat gelombang kedua.

Dikatakan gelombang itu jika jumlahnya banyak, sedangkan ini hanyalah orang yang shalat daripada sendirian lebih baik ditemani shalatnya menjadi berjama’ah. Namun sayangnya di zaman sekarang dengan hadits itu lalu orang berpikir kalau shalat berjama’ah itu ada gelombang keduanya, ketiga, dan seterusnya bahkan yang lebih parah lagi gelombang satunya hanya sedikit dan gelombang selanjutnya itu lebih banyak.

Dengan demikian, misalnya shalat dzuhur waktunya agak maju, orang-orang belum datang semua maka ini ditunda saja sebagaimana Rasulullah juga menundanya biar semuanya kebagian shalat jama’ah tapi kalau kemudian kalau kasusnya memang dia terlambat lalu dia dapati jama’ah sudah tahiyat akhir maka dia harus ikut bersama dengan jama’ah itu karena shalat jama’ah yang dihitung ‘betulan’ itu adalah shalat jama’ah bersama imam rawatib atau imam masjid bukan shalat bukan shalat berjama’ah di gelombang kedua, ketiga, dan seterusnya. Meskipun mungkin nilainya agak sedikit mengalami degradasi tapi pahalanya lebih besar dibandingkan dengan membuat jama’ah baru di gelombang yang baru.