Janji Setia Sehidup Semati Antara Suami Istri Dalam Pandangan Islam

Janji merupakan ucapan yang berisi kesanggupan untuk melakukan sesuatu. Orang yang berjanji seharusnya menepati apa yang ia janjikan dan tidak boleh membatalkannya kecuali apabila atas sepengetahuan dan persetujuan orang yang dijanjikannya. Jika tidak, maka bisa-bisa dia dianggap sebagai orang yang munafik.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
“Tanda orang munafik itu ada tiga: (1) apabila dia berucap dia berdusta, (2) apabila dia membuat janji dia mengingkari, dan (3) apabila diberi amanah dia mengkhianati.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Namun yang menjadi masalah adalah bagaimana jika janji itu berupa janji setia sehidup semati antara sepasang suami istri. Apakah janji seperti ini dibenarkan dalam syariat Islam dan wajib ditepati?

Para ulama sepakat bahwa janji itu berbeda dengan nazar, namun mereka berbeda pendapat tentang hukum menepati janji apakah wajib atau sunnah. Perbedaan pendapat ini didasarkan kepada sejauhmana janji itu berdampak kepada seseorang atau hartanya jika ditepati atau tidak ditepati.

Mayoritas ulama dari empat madzhab Ahlussunnah Wal Jama’ah berpendapat bahwa menepati janji itu hukumnya sunnah. Jika janji yang dimaksud adalah kesaksian atas dirinya untuk melakukan sesuatu kepada orang lain dan tidak terkait dengan hal-hal yang dapat merugikan orang lain, baik dalam hal jiwa dan harta seperti jika seseorang berjanji untuk datang kemudian tidak datang. Namun demikian hal ini tidak baik karena dianggap tidak beretika apalagi bila pembatalan dari janji itu tanpa pemberitahuan.

Imam Ibnu Hajar Al Asqalani dalam kitabnya Fathul Bari mengatakan bahwa janji seseorang itu bagaikan kesaksian atas dirinya. Demikian menurut Al Kirmani, Al Mihlab menyatakan bahwa memenuhi janji itu diperintahkan dan disunnahkan bagi semua muslim tetapi tidak diwajibkan.

Namun jika yang dimaksud dengan janji adalah perjanjian atau kesepakatan bersama maka para ulama sepakat bahwa menepati perjanjian tersebut sama seperti menepati akad-akad yang hukumnya wajib dan berdosa jika tidak dilaksanakan. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:
“Hai orang-orang yang beriman, penuhilah aqad-aqad itu.” (QS. Al Maaidah: 1)
Sebagian ulama madzhab Maliki berkata bahwa apabila janji itu berkaitan dengan sebab tertentu maka wajib dipenuhi, apabila tidak maka tidak wajib.

Lantas bagaimana dengan janji setia sehidup semati antara sepasang suami istri? Apakah termasuk yang wajib ditepati?

Menurut ulama kontemporer, membuat janji antara suami dan istri dalam rangka memelihara hubungan diantara mereka hukumnya mubah. Namun janji itu seharusnya dibuat berdasarkan hal yang mungkin untuk dilakukan dan bukan hal  yang mustahil, misalnya suami berjanji membawa istrinya terbang ke bulan meskipun hal ini memungkinkan namun ini sangat-sangat sulit untuk dilakukan.

Demikian juga dengan suami istri yang berjanji setia sehidup semati jika yang dimaksud adalah setia untuk hidup bersama dan mati bersama maka janji ini tidak dibenarkan dalam syariat agama dan tidak boleh ditepati sebab ajal adalah ketentuan Allah yang berbeda-beda pada setiap orang dimana jika ajal seseorang telah tiba maka tidak ada yang bisa menundanya pun jika ajal belum tiba juga tidak ada yang bisa memajukannya. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:
“Maka apabila Telah datang waktunya mereka tidak dapat mengundurkannya barang sesaatpun dan tidak dapat (pula) memajukannya.” (QS. Al A’raaf: 34)
Lalu bagaimana jika yang dimaksud janji setia sehidup semati itu berarti suami atau istri tidak boleh menikah lagi setelah ditinggal mati pasangannya?

Para ulama sepakat bahwa menepati apa yang disepakati bersama itu hukumnya wajib selama kesepakatan itu bukan pada suatu kebatilan. Namun jika kesepakatan itu mengarah kepada kebatilan atau sesuatu yang dilarang oleh syariat agama maka menepatinya tidak wajib bahkan dianjurkan untuk diabaikan jika membawa suatu kemudharatan.

Demikian juga jika sepasang suami istri berjanji setia untuk sehidup semati sehingga jika salah satunya meninggal terlebih dahulu maka pasangannya yang masih hidup tidak boleh menikah lagi dengan orang lain. Janji atau syarat seperti ini dalam syariat agama dianggap batil atau tidak sah karena keduanya telah bersepakat mengharamkan apa yang dihalalkan oleh Allah subhanahu wa ta’ala yaitu menikah.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
“Kaum muslimin wajib menunaikan persyaratan yang telah disepakati kecuali persyaratan yang mengharamkan yang halal atau menghalalkan yang haram.” (HR. Abu Dawud dan At Tirmidzi)
Oleh karena itu, janji setia sejatinya berakhir dengan kematian salah satu dari pasangan dan tidak berlaku ketika salah satunya telah meninggal dunia. Jika mau, ia bisa menikah setelah ditinggal mati pasangannya dan jika mau, dia juga bisa memilih untuk tidak menikah selama itu aman dari fitnah. Namun hal ini tidak perlu menjadi kesepakatan bersama yang justru bisa menjadi dosa karena telah mengharamkan apa yang halal. Wallahu a’lam bishshawab.