Imam Memutar Atau Bergeser Dari Tempat Duduknya

Dalam shalat berjama’ah seringkali terlihat setelah shalat dan berdzikir, imam membalikkan badan terkadang hingga 90 derajat, tetapi kadang ada yang berputar 180 derajat menghadap kepada makmum. Bahkan jika diperhatikan saat imam memutar atau bergeser dari tempat duduknya, gerakan itu juga diikuti oleh para makmum yang tengah membaca dzikir. Apakah memang yang demikian ini disyariatkan dalam shalat berjama’ah?

Apa yang seringkali terlihat tentang imam shalat yang berputar posisi menghadap ke jama’ah atau ke kanan atau ke kiri semua itu memang tidaklah mengada-ada dan bersumber dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Semua itu merupakan rekaman para sahabat ketika ikut shalat berjama’ah bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Beberapa diantara hadits yang menyebutkan tentang perbuatan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika selesai shalat kemudian menghadapkan wajahnya kepada makmum adalah penuturan Samurah radhiyallahu ‘anhu bahwa,
“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bila selesai shalat beliau menghadapkan wajahnya kepada kami.” (HR. Bukhari)
Terkadang beliau tidak sepenuhnya menghadap kepada makmum, melainkan hanya berputar 90 derajat ke arah kanan sehingga makmum ada di sisi kanan dan kiblat ada di sisi kiri beliau. Namun terkadang beliau malah menghadap ke arah kiri 90 derajat sehingga makmum ada di sisi kiri dan kiblat ada di sisi kanan.
Dari Qusaibah dari ayahnya bahwa dia shalat bersama Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau berputar ke dua arah (kanan dan kiri). (HR. Abu Dawud, Ibnu Majah, At Tirmidzi)
Bahkan ada hadits menyebutkan bahwa beliau menghadap ke kanan dan ke kiri. Dari Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu berkata,
“Seringkali aku melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berputar ke kiri setelah shalat.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Imam An Nawawi dalam kitab Syarah Muslim menyebutkan berdasarkan hadits-hadits ini bisa disimpulkan bahwa memang terkadang Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam selesai shalat menghadap ke belakang, terkadang menghadap ke samping kanan, dan terkadang menghadap ke samping kiri. Meskipun demikian dari segi hukum, gerakan ini tidak sampai kepada wajib tetapi sunnah dan anjuran.

Lalu kapan seorang imam harus bergeser duduknya? Apakah setelah salam langsung bergeser ataukah setelah membaca dzikir?

Berkaca pada perbuatan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bergeser duduknya setelah membaca istighfar tiga kali, lalu membaca lafadz “Allahumma antassalam dan seterusnya” kemudian beliau segera mengubah posisi, atau bergeser, atau berputar.
Dari Tsauban bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bila selesai dari shalatnya, beliau beristighfar tiga kali kemudian membaca “Allahumma antassalam…” (HR. Muslim)
Dari A’isyah radhiyallahu ‘anha berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bila salam dari shalat tidak duduk kecuali sekedar membaca “Allahumma antassalam wa minkassalam tabarakta ya dzal jalali wal ikram.” (HR. Muslim)
Lalu apa rahasia bergeser tempat duduk ini?

Beberapa ulama mencoba menuliskan sisi lain dari apa yang beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam lakukan. Diantaranya adalah apa yang ditulis oleh Ibnu Qudamah di dalam kitab Al Mughni, ia menjelaskan bahwa berubahnya arah duduk imam adalah untuk memastikan telah selesainya shalat itu bagi imam. Artinya, agar makmum bisa memastikan bahwa imam telah benar-benar selesai dari shalatnya sebab dengan mengubah arah duduk maka imam akan meninggalkan arah kiblat dan hal itu jelas akan membatalkan shalatnya.

Ada juga yang mengatakan bahwa dengan menggeser arah duduk ke belakang atau ke samping berarti imam sudah yakin 100% bahwa rangkaian shalatnya sudah selesai seluruhnya dan terputus. Tidak sah lagi bila tiba-tiba teringat mau sujud sahwi atau kurang satu raka’at.

Lalu apakah bergesernya imam ini diikuti makmum?

Dari Anas radhiyallahu ‘anhu berkata bahwa suatu hari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam shalat mengimami kami. Ketika selesai shalat beliau menghadapkan wajah kepada kami dan bersabda:
“Wahai manusia, aku adalah imam kalian. Janganlah kalian mendahului aku dalam ruku’, sujud, berdiri, atau berpindah.” (HR. Muslim)
Berdasarkan hadist ini, Imam Ibnu Taimiyyah mengatakan bahwa hendaknya makmum tidak berdiri pergi meninggalkan tempat shalat kecuali setelah imam berpindah atau menggeser arah duduknya dari arah kiblat. Wallahu a’lam bishshawab.