Hutang Piutang Menurut Syariat Agama Islam

Hutang piutang adalah transaksi yang dibenarkan dalam syariat Islam namun yang terjadi di masyarakat, hutang piutang ini seakan menjadi hal yang lumrah bahkan banyak hal yang membuat masyarakat semakin mudah berhutang untuk hal-hal yang tersier, ingin punya handphone baru ia berhutang, ingin baju baru ia berhutang, bahkan sampai membeli sayuran di pasar pun ia juga berhutang. Akan tetapi jika seseorang telah berhutang maka dia wajib melunasinya.

Lalu bagaimana bila seseorang meninggal namun masih memiliki hutang?

Apabila dia meninggal dalam keadaan masih punya hutang maka kelak di akhirat dia akan membayar hutangnya dengan pahala yang dimilikinya. Jika pahalanya telah habis tetapi masih juga punya hutang yang belum lunas maka pelunasan hutangnya berupa transfer dosa dari orang yang dihutangi. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
“Barangsiapa yang mati dalam keadaan masih memiliki hutang satu dinar atau satu dirham, maka hutang tersebut akan dilunasi dengan kebaikannya di hari kiamat nanti karena disana di akhirat tidak ada lagi dinar dan dirham.” (HR. Ibnu Majah)
Oleh karena itu, ketika seseorang meninggal maka yang harus diurus oleh keluarganya adalah memastikan apakah almarhum memiliki hutang atau tidak. Jika punya, maka keluarga harus segera melunasi hutang tersebut dengan harta peninggalan almarhum meskipun pelunasan hutang itu harus menghabiskan seluruh harta dan tidak meninggalkan warisan. Jika tidak maka ruh almarhum akan bergantung pada hutangnya hingga selesai dilunasi. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
“Jiwa seorang mukmin masih bergantung selama ia masih memiliki hutang hingga selesai dilunasi.” (HR. Tirmidzi dan Ibnu Majah)
Al Munawi menjelaskan maksud jiwa seorang mukmin bergantung adalah ruhnya terkatung-katung disebabkan hutangnya, ia terhalangi dari kedudukan mulia yang telah disediakan untuknya atau terhalang dari masuk surga bersama rombongan orang-orang yang shalih. Maka dari itu, para ahli waris wajib segera melunasi hutang-hutang si mayit.

Masalahnya, apabila orang tua meninggal dan meninggalkan banyak hutang, siapa yang berkewajiban melunasi hutangnya? Apakah anak-anaknya? Lalu bagaimana jika harta sang anak tidak cukup untuk membayar hutang tersebut?

Apabila orang tua meninggal dan masih memiliki hutang maka harta peninggalannya harus digunakan untuk membayar hutangnya terlebih dahulu sebelum dibagikan ke ahli waris sesuai dengan firman Allah subhanahu wa ta’ala:
“(Pembagian-pembagian tersebut di atas) sesudah dipenuhi wasiat yang ia buat atau (dan) sesudah dibayar hutangnya.” (QS. An Nisaa’: 11)
Jika harta peninggalan orang tua tersebut telah habis namun hutangnya masih ada yang belum lunas maka dalam hal ini ada dua pendapat:
  1. Ahli waris tidak berkewajiban membayarkan hutang orang tua sebab membayar hutang almarhum itu tidak wajib bagi ahli waris ketika almarhum masih hidup maka begitu pula ketika orang tua telah meninggal dan tidak meninggalkan harta warisan artinya tidak ada kewajiban bagi anak untuk melunasi hutang orang tuanya yang tidak meninggalkan harta peninggalan.
  2. Anak dianjurkan membantu orang tuanya melunasi hutang jika orang tua kesulitan membayar hutang semasa hidupnya begitupun ketika mereka telah meninggal. Apabila mereka telah wafat tanpa meninggalkan harta warisan maka anak bisa melunasi dengan harta pribadinya sebab melunasi hutang orang tua termasuk bentuk bakti kepada orang tua yang wajib dilakukan setiap anak kepada orang tuanya.
Sebuah hadits mengisahkan,
Seorang sahabat bertanya kepada Nabi tentang cara anak berbakti kepada kedua orang tuanya yang telah meninggal. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab “mendoakan keduanya, meminta ampunan bagi keduanya, memenuhi janji mereka setelah wafatnya, menyambung tali silaturahmi dengan orang-orang yang berhubungan dengan mereka berdua, serta memuliakan kawan-kawan mereka berdua.” (HR. Abu Dawud dan Ibnu Majah)
Salah satu bentuk memenuhi janji orang tua adalah membayarkan hutang-hutangnya sebab jika anak tidak berusaha melunasi hutang orang tuanya yang sudah meninggal maka sama saja mereka membiarkan ruh orang tuanya tergantung selama di alam kubur dan membiarkan mereka dituntut di akhirat. Na’udzubillahi mindzalik.

Jika demikian lalu siapa yang lebih wajib melunasi hutang orang tua yang meninggal? Anak laki-laki ataukah anak perempuan?

Jika harta peninggalan orang tua tidak bisa melunasi hutangnya maka anak-anaknya dianjurkan berupaya untuk melunasinya dari harta pribadi mereka, baik itu anak laki-laki ataupun perempuan. Mereka hendaknya bermusyawarah dan bersama-sama membayarkan hutang orang tua mereka. Caranya bisa bermacam-macam sesuai keputusan bersama. Misalnya, anak yang memiliki harta lebih memberi sumbangsih lebih dibanding saudaranya yang lain.

Selain itu, kerabat dekat pun boleh berkontribusi dalam upaya melunasi hutang almarhum seperti adik atau kakak dari almarhum. Tentu Allah subhanahu wa ta’ala akan membalas mereka dengan pahala dan kebaikan sebab Allah akan membantu orang-orang yang mau membantu kesulitan saudaranya seperti disebutkan dalam sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,
“Barangsiapa memudahkan urusan seseorang yang dalam keadaan sulit, Allah akan memberinya kemudahan di dunia dan akhirat. Barangsiapa menutup aib seseorang, Allah akan menutupi aibnya di dunia dan akhirat. Allah akan senantiasa menolong hamba-Nya selama hamba tersebut menolong saudaranya.” (HR. Muslim)
Lalu bagaimana jika anak-anak serta kerabatnya tidak memiliki harta yang cukup untuk melunasi hutangnya, misalnya anak perempuannya hanya seorang ibu rumah tangga yang tidak memiliki pekerjaan, sementara anak lelakinya bekerja tetapi hanya cukup menafkahi keluarganya saja, bagaimana solusinya?

Salah satu cara anak untuk berbakti kepada orang tuanya yang meninggal adalah dengan melunasi hutang-hutangnya agar ruh sang orang tua tenang dan diterima di sisi Allah subhanahu wa ta’ala. akan tetapi bagaimana jika anak-anaknya tidak mampu melunasi hutang orang tuanya karena keterbatasan harta yang dimilikinya?

Apabila seseorang berhutang tanpa niat melunasinya maka kelak di akhirat dia akan dikumpulkan bersama golongan para pencuri sebagaimana disebutkan dalam sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,
“Siapa saja yang berhutang lalu berniat tidak mau melunasinya maka dia akan bertemu Allah pada hari kiamat sebagai pencuri.” (HR. Ibnu Majah)
Namun jika dia bertekad untuk melunasi hutangnya tetapi tidak mampu membayarnya karena keterbatasan harta maka Allah subhanahu wa ta’ala akan memberi pertolongan dan kemudahan kepadanya hingga hutangnya lunas asalkan dia tidak berhenti berdoa dan terus berusaha melunasi hutangnya tersebut. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
“Allah akan bersama menolong orang yang berhutang, yang ingin melunasi hutangnya sampai dia bisa melunasi hutang tersebut selama hutang tersebut bukanlah sesuatu yang dilarang oleh Allah.” (HR. Ibnu Majah)
Apabila hingga meninggal ia belum sempat membayar hutangnya dan anak-anaknya pun tidak mampu melunasinya maka kelak hutangnya akan dilunasi oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagaimana tertera dalam sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,
“Aku lebih berhak menolong kaum mukminin dibandingkan diri mereka sendiri. Jika ada seorang dari kaum mukminin yang meninggal dan meninggalkan hutang yang diniatkan untuk dilunasi maka aku yang akan melunasinya.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda:
“Hutang ada dua: barangsiapa yang mati meninggalkan hutang sedangkan ia telah berniat melunasinya maka akulah walinya, dan barangsiapa yang mati meninggalkan hutang tetapi tidak berniat melunasinya maka akan diambil dari kebaikannya pada hari dimana tidak ada lagi dinar dan dirham.” (HR. Ath Thabrani)
Dengan demikian, meskipun Islam membolehkan hutang namun syariat Islam juga menegaskan tentang kewajiban melunasi hutang-hutang, bahkan hutang seseorang di dunia berdampak pada kehidupannya kelak di akhirat. Oleh karena itu apabila ingin berhutang, seseorang harus bertekad untuk melunasinya. Ia tidak boleh menunda-nunda membayar hutang apabila telah jatuh tempo atau ketika harta untuk melunasi hutangnya tersebut sudah ada sebab Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda:
“Sesungguhnya sebaik-baiknya kalian adalah yang paling baik dalam membayar hutang.” (HR. Bukhari)
Wallahu a’lam bishshawab.