Hukum dan Hikmah Tidur Siang Menurut Syariat Agama Islam

Seringkali di kantor atau di kendaraan angkutan umum, kita temui orang yang terlalu terlelap di siang hari entah karena mengantuk dan terlalu capek dengan aktivitasnya atau karena sesuatu yang lain. Namun beberapa orang menjadikan tidur siang ini sebagai kebiasaan bahkan beberapa menyebutnya sebagai sunnah. Benarkah demikian? Lalu apakah hikmah dari tidur siang tersebut?

Tidur merupakan fitrah bagi manusia, karenanya tidur menjadikan manusia bisa beristirahat dari aktivitas dan kegiatan sehari-harinya. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:
“Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah tidurmu di waktu malam dan siang hari dan usahamu mencari sebagian dari karuniaNya. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang mendengarkan.” (QS. Ar Ruum: 23)
Diantara hikmah tidur siang adalah mengikuti sunnah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bahkan hal ini juga diikuti oleh para sahabat beliau radhiyallahu ‘anhum, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
“Qailulah-lah istirahat sianglah kalian. Sesungguhnya setan-setan itu tidak pernah istirahat siang.” (HR. Abu Nu’aim)
Menurut ulama yang dimaksud Qailulah adalah istirahat di tengah hari walaupun tidak disertai tidur. Tidur ataupun istirahat di siang hari memiliki manfaat yang besar. Selain tubuh akan merasa segar untuk melaksanakan aktivitas selanjutnya dan berbagai ketaatan kepada Allah, tidur siang juga menyelisihi kebiasaan setan yang tidak pernah istirahat di siang hari.

Hikmah lain dari tidur siang adalah memudahkan bangun untuk shalat malam. Imam Ghazali dalam Ihya Ulumuddin menulis,
“Hendaklah seseorang tidak meninggalkan tidur yang sekejap pada siang hari karena ia membantu ibadah pada malam hari.”
Lalu apa hukumnya tidur siang tersebut? Apakah wajib dilakukan?

Anjuran tidur siang telah disebutkan oleh Rasulullah dan telah dilaksanakan oleh para sahabat di waktu itu namun dalam kitab Umdah Al Qari Syarah Al Bukhari karya Badrudin Al ‘Aini hukum tidur siang adalah sunnah. Menurut pendapat ulama, tidur siang itu tidaklah wajib. Artinya tidak sampai berdosa kalau ditinggalkan, tinggal siapa yang mampu dan punya kesempatan menunaikannya.

Lalu bagaimana hukumnya tertidur saat meeting pekerjaan ataupun saat bekerja?

Pada dasarnya seseorang hendaknya melaksanakan pekerjaan dengan baik termasuk tidak tidur-tiduran saat bekerja karena hal tersebut mengganggu aktivitas kerja. Namun jika seseorang itu tertidur karena kecapekan/mengantuk maka tidak mengapa. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
“Sesungguhnya Allah memaafkan umatku ketika ia tidak sengaja, lupa, atau dipaksa.” (HR. Ibnu Majah)
Allah ta’ala berfirman:
“Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya” (QS. An Nisaa’: 58)
Pekerjaan bisa jadi merupakan amanat yang diberikan atasan kepada bawahannya maka sudah seharusnya amanat itu ditunaikan. Pekerjaan juga merupakan sebuah syarat yang harus dilakukan seseorang ketika sudah berakad untuk melakukannya. Seorang muslim harusnya berusaha menunaikan dan melaksanakan persyaratan yang telah ia setujui. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
“Umat Islam berkewajiban untuk senantiasa memenuhi persyaratan mereka.” (HR. Muslim)
"Sebuah pekerjaan biasanya juga menuntut seseorang untuk wajib melakukan sesuatu, maka dari itu Rasulullah melarang seseorang tidak melaksanakan kewajiban yang ada padanya atau menuntut apa yang bukan menjadi haknya." (Syarah An Nawawi ‘Ala Muslim)
Dalam Kamus Lisanul ‘Arab dijelaskan bahwa Qailulah adalah tidur pada pertengahan siang karena diterjemahkan Qailulah dengan tidur siang maka banyak yang menyangka Qailulah mesti harus tidur. Yang benar, Qailulah tidak mesti harus tidur, istirahat pada siang hari sudah termasuk Qailulah. As San’ani rahimahullah mengatakan bahwa Qailulah adalah istirahat pada pertengahan siang walaupun tidak tidur.

Jika demikian, seberapa lama durasi tidur siang yang disunnahkan?

Al Munawi rahimahullah mengatakan bahwa Qailulah adalah tidur di pertengahan siang ketika zawal yaitu waktu dzuhur atau mendekati waktu zawal sebelum atau sesudahnya. Dalam sebuah riwayat, Pada musim dingin, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tidur setelah dzuhur, sedangkan saat musim panas Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tidur sebelum dzuhur. Adapun durasinya menurut pakar berkisar antara 10 hingga 40 menit, sehingga manfaatkanlah waktu siang anda sebaik-baiknya agar bisa beribadah sesuai ketentuan dan syariat. Wallahu a’lam bishshawab.