Hukum Berduaan Dengan Yang Bukan Mahram Menurut Syariat Agama Islam

Syariat Islam melarang laki-laki berduaan dengan perempuan yang bukan mahram, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
“Jangan sampai seorang lelaki berdua-duaan dengan seorang perempuan kecuali dia ditemani mahramnya.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Masalahnya, hal demikian banyak terjadi di masyarakat kita bahkan sekarang ini sudah dianggap wajar bila seorang perempuan berteman dekat dengan lelaki baik di sekolah maupun di kantor.

Lalu bagaimana jika lelaki dan perempuan yang bukan mahram (misalnya pacar) berdua-duaan untuk melaksanakan ibadah, seperti shalat berjama’ah namun hanya berdua antara lelaki dan perempuan bukan mahram tersebut, bolehkah? Bila demikian, apakah shalatnya sah?

Sebagian ulama berpendapat bahwa hal tersebut hukumnya makruh. Imam An Nawawi dalam kitab Al Muhadzdzab mengatakan bahwa seorang laki-laki dimakruhkan shalat berduaan dengan perempuan yang bukan mahramnya. Maksud makruh dari keterangan beliau adalah makruh tahrim atau yang diharamkan.

Para ulama madzhab Syafi'i mengatakan bahwa jika seorang lelaki mengimami istrinya atau mahramnya dan berdua-duaan dengannya maka hukumnya boleh dan tidak makruh karena boleh berduaan dengan istri atau mahram di luar shalat. Namun jika dia mengimami wanita yang bukan mahram dan hanya berduaan dengannya maka hukumnya haram bagi lelaki itu dan haram pula bagi si wanita. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
“Ingatlah bahwasannya tidak boleh seorang laki-laki itu berdua-duaan dengan seorang wanita kecuali yang ketiganya adalah setan.” (HR. Ahmad, At Tirmidzi, dan Al Hakim)
Yang dihukumi haram adalah kondisi berdua-duaan yang memang terlarang secara syariat. Larangan tersebut bisa dipahami sebagai upaya untuk menutup hal-hal yang tidak diinginkan tetapi jika di mushala itu ada orang lain meskipun ia tidak shalat maka hukumnya menjadi boleh karena penyebab dilarangnya sudah tidak ada yaitu berdua-duaan.

Sementara jika laki-laki tersebut menjadi imam untuk wanita dengan jumlah banyak sedangkan laki-laki yang jadi imam itu hanya seorang diri maka hukumnya dibolehkan menurut Jumhur ulama. Jika shalat hanya berduaan dengan pacar dimakruhkan dengan pengharaman.

Lalu apakah shalat jama’ah yang sudah mereka lakukan menjadi tidak sah alias batal?

Shalat berjama’ah dengan perempuan yang bukan mahram atau dengan pacar adalah tetap sah sebab haramnya shalat berduaan dengan pacar atau perempuan yang bukan mahram karena adanya sesuatu yang berada di luar shalat yaitu berkhalwat atau berduaan dengan perempuan yang bukan mahramnya.

Jika demikian, bagaimana dengan jama’ah umrah ataupun haji yang ibadahnya beramai-ramai? Apakah umrah atau haji bersama-sama calon suami atau istri yang belum menjadi mahramnya juga dilarang? Bagaimana pula dengan ibadahnya, apakah sah?

Pada dasarnya seseorang wanita ketika beribadah umrah atau haji hendaknya memang bersama mahramnya. Umumnya para ulama pun mensyaratkan bagi wanita untuk punya mahram yang mendampingi selama perjalanan haji. Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhu mengatakan bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
“Janganlah sekali-kali seorang laki-laki berduaan dengan perempuan kecuali ditemani mahramnya.” Lalu seorang laki-laki bangkit seraya berkata “Wahai Rasulullah, istriku berangkat hendak menunaikan haji, sementara aku diwajibkan untuk mengikuti perang ini dan ini.” Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda “Kalau begitu kembali dan tunaikanlah haji bersama istrimu.” (HR. Bukhari)
Namun kesertaan suami atau mahram ini tidak dijadikan syarat oleh sebagian ulama dari madzhab Al Malikiyah dan Asy Syafi’iyah menurut mereka bisa saja seorang wanita mengadakan perjalanan haji berhari-hari bahkan berminggu-minggu meski tanpa kesertaan mahram.

Menurut madzhab Asy Syafi’iyah hal tersebut diperbolehkan asalkan seorang wanita pergi haji bersama rombongan wanita yang dipercaya. Syaratnya, para wanita itu bukan hanya satu orang melainkan beberapa wanita.  Madzhab Al Malikiyah juga mengatakan bahwa seorang wanita wajib berangkat haji asalkan ditemani oleh para wanita yang terpercaya atau para laki-laki yang terpercaya atau campuran dari rombongan laki-laki dan perempuan.

Sebab dalam pandangan kedua madzhab ini illatnya bukan adanya mahram atau tidak tetapi illatnya adalah masalah keamanan. Adapun adanya suami atau mahram hanya salah satu cara untuk memastikan keamanan saja. jadi meski tanpa suami atau mahram asalkan perjalanan itu dipastikan aman maka sudah cukup syarat yang mewajibkan haji bagi para wanita.

Dasar dari bolehnya wanita pergi haji tanpa mahram asalkan keadaan aman adalah riwayat dari Adi bin Hatim ia berkata,
“Ketika aku sedang bersama Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, tiba-tiba ada seorang laki-laki tiba-tiba mendatangi beliau mengeluhkan kefakirannya, kemudian ada seorang lagi laki-laki yang mendatangi beliau mengeluhkan para perampok jalanan maka beliau berkata “Wahai Adi, apakah kamu pernah melihat negeri Al Hirah?” Aku jawab “Belum pernah aku melihatnya namun aku pernah mendengar beritanya.” Beliau berkata “Seandainya kamu diberi umur panjang, kamu pasti akan melihat seorang wanita yang mengendarai kendaraan berjalan dari Hirah hingga melakukan Thawaf di Ka’bah tanpa takut kepada siapapun kecuali kepada Allah”.” (HR. Bukhari)
Hadits ini mengisahkan penjelasan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwa suatu saat di kemudian hari nanti keadaan perjalanan haji akan menjadi sangat aman sehingga digambarkan bahwa akan ada seorang wanita yang melakukan perjalanan haji yang teramat jauh namun sendirian tanpa ditemani mahram, sedangkan dia tidak takut kepada apapun kecuali takut kepada Allah subhanahu wa ta’ala.

Kerajaan Arab Saudi juga mensyaratkan perempuan yang akan haji atau umrah harus memiliki surat keterangan mahram yaitu yang menyatakan seorang laki-laki yang bersamanya merupakan mahram dari si wanita tersebut bila ada seorang wanita yang tidak bisa menunjukkan kartu mahramnya maka dia tidak boleh masuk ke negara itu. Dengan begitu, jika mengacu pada madzhab Al Malikiyah dan Asy Syafi’iyah maka ibadah haji atau umrahnya sah asalkan sudah memenuhi rukun dan syaratnya. Wallahu a’lam bishshawab.