Cara Membaca Al Qur’an Menurut Syariat Agama Islam

Para ulama sepakat bahwa membaca Al Qur’an hukumnya sunnah dan mendapatkan pahala yang besar dari sisi Allah subhanahu wa ta’ala. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda:
“Bacalah oleh kalian Al Qur’an. Karena ia (Al Qur’an) akan datang pada hari kiamat kelak sebagai pemberi syafa’at bagi orang-orang yang rajin membacanya.” (HR. Muslim)
Bahkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga menyebutkan bahwa kelak Al Qur’an akan membela orang yang membacanya,
“Akan didatangkan Al Qur’an pada hari kiamat kelak kepada orang yang rajin membacanya dan senantiasa rajin beramal dengannya. Yang paling depan adalah surah Al Baqarah dan surah Ali Imran. Keduanya akan membela orang-orang yang rajin membacanya.” (HR. Muslim)
Namun yang menjadi permasalahan adalah sebagian orang memahami bahwa membaca Al Qur’an tidak boleh sambil berdiri dan berbaring melainkan harus duduk dengan tenang dan sopan. Jika tidak, maka membaca Al Qur’an sambil berdiri dan berbaring dianggap tidak menghormati Al Qur’an dan tidak pula mengagungkannya.

Lantas bagaimana menurut pandangan syariat agama, benarkah demikian?

Sebagaimana kita ketahui bersama bahwa cara membaca Al Qur’an itu ada dua:
  1. Membaca Al Qur’an dengan tidak menggunakan mushaf, yaitu membaca Al Qur’an dengan cara menghafalnya.
  2. Membaca Al Qur’an dengan mushaf, yaitu membaca lembaran-lembaran Al Qur’an yang telah berbentuk buku maupun dalam format digital.
Jika yang dimaksud dengan membaca Al Qur’an adalah membaca dengan menggunakan mushaf yaitu membuka lembaran-lembaran kertas Al Qur’an maka orang yang membacanya sebaiknya duduk dengan sopan dan tenang serta dalam keadaan suci dari hadats.

Hal ini tidak lain karena membaca Al Qur’an adalah ibadah dan dalam rangka mendekatkan diri kepada Allah subhanahu wa ta’ala, bahkan dalam membaca Al Qur’an seseorang juga diperintahkan untuk khusyu’ dan jika mengetahui artinya ia hendaknya merenungi makna dari setiap ayat yang dibacanya sehingga ia bisa meneladani Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam membaca Al Qur’an yaitu:
  1. Bertasbih ketika sampai pada ayat nama dan sifat Allah,
  2. Berta’awudz ketika sampai pada ayat azab, dan
  3. Berdoa ketika sampai di ayat mengandung janji dan harapan.
Dari Hudzaifah Al Yaman ia berkata bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam membuka surah Ali Imran lalu membacanya secara tartil. Apabila beliau melewati ayat yang ada tasbihnya, beliau bertasbih. Apabila melewati ayat permohonan, beliau memohon.  Dan apabila melewati ayat permohonan perlindungan maka beliau memohon perlindungan. (HR. Muslim, Abu Dawud, At Tirmidzi, An Nasa'i, dan Ibnu Majah)
Selain untuk tujuan khusyu’, membaca mushaf Al Qur’an dalam keadaan duduk juga bisa membantu seseorang memperhatikan ayat-ayat Al Qur’an dengan jeli yaitu agar tidak salah membacanya dan dapat memberikan hak-hak huruf yang dibacanya serta dapat merenungkan maknanya. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:
“Ini adalah sebuah Kitab yang kami turunkan kepadamu penuh dengan berkah supaya mereka memperhatikan ayat-ayatNya dan supaya mendapat pelajaran orang-orang yang mempunyai fikiran.” (QS. Shaad: 29)
Lalu bagaimana jika ada orang yang membaca Al Qur’an dengan berdiri, berjalan, dan berbaring? Apakah ini melanggar kehormatan Al Qur’an?

Menurut mayoritas ulama, bila yang dimaksud dengan membaca Al Qur’an disini adalah dengan cara menghafalnya dan tidak menggunakan mushaf maka tidak apa-apa dan diperbolehkan jika dilakukan dalam keadaan sambil berdiri, berjalan, atau berbaring. Posisi tersebut tidak dianggap melanggar kehormatan Al Qur’an sebab menurut mereka, tujuan membaca Al Qur’an adalah mengingat Allah dan mengingat Allah bisa dilakukan kapan saja dan dimana saja di tempat yang suci. Hal ini sebagaimana firman Allah subhanahu wa ta’ala:
“Maka apabila kamu Telah menyelesaikan shalat(mu), ingatlah Allah di waktu berdiri, di waktu duduk dan di waktu berbaring.” (QS. An Nisaa’: 103)
Para ulama sepakat bahwa diantara dzikrullah adalah membaca Al Qur’an. Dalam beberapa riwayat bahkan disebutkan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam membaca Al Qur’an dalam keadaan berdiri, duduk di atas kendaraan, dan dalam suatu keadaan beliau juga membacanya sambil berbaring. Namun itu semua dilakukan bukan dengan memegang mushaf melainkan beliau membaca Al Qur’an dengan cara menghafalnya.

Dari Abdullah bin Mughaffal radhiyallahu ‘anhu ia berkata,
“Aku melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pada hari penaklukkan Makkah beliau membaca surah Al Fath di atas kendaraannya.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Riwayat lain dari A’isyah Ummul Mu’minin radhiyallahu ‘anha ia berkata,
“Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah tiduran di pangkuanku dan aku sedang haid, beliau membaca Al Qur’an.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Namun demikian, bila membaca Al Qur’an dengan mushaf maka sebaiknya membacanya dalam keadaan duduk dengan tenang, penuh perhatian, dan ketelitian. Sedangkan membacanya dari hafalan tanpa mushaf maka para ulama membolehkan membacanya sambil berdiri, berjalan, atau berbaring sekalipun sebab yang demikian tidak mengandalkan penglihatan mata yang harus fokus terhadap tulisan. Wallahu a’lam bishshawab.

Lantas bagaimana jika seseorang membaca Al Qur’an dengan suara keras atau pelan? Manakah yang lebih utama?

Membaca Al Qur’an seyogyanya memang dilakukan dengan suara namun tidak ada perbedaan pendapat diantara para ulama apakah membaca Al Qur’an itu harus dinyaringkan sehingga orang lain bisa mendengarnya atau hanya dirinya saja yang dapat mendengarnya. Semuanya kembali kepada niat dan tergantung keadaannya, keduanya sama-sama baik namun yang paling baik adalah yang sesuai dengan keadaan pada saat membacanya.

Oleh karena itu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
“Orang yang mengeraskan bacaan Al Qur’an sama halnya dengan orang yang terang-terangan dalam bersedekah dan orang yang melirihkan bacaan Al Qur’an sama halnya dengan orang yang sembunyi-sembunyi dalam bersedekah.” (HR. Abu Dawud, At Tirmidzi, dan An Nasa’i)
Dalam hadits ini, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengumpamakan bacaan Al Qur’an dengan sedekah yang diberikan secara terang-terangan atau sembunyi sembunyi. Artinya, baik seseorang membaca Al Qur’an dengan suara nyaring atau pelan sama-sama memiliki keutamaan dan mendapatkan pahala dari sisi Allah subhanahu wa ta’ala. Namun membaca Al Qur’an dengan suara nyaring bisa lebih baik daripada dibaca pelan jika memang hal itu dibaca nyaring dan bacaan itu bermanfaat bagi orang yang mendengarnya serta tanpa ada maksud riya.

Hal ini sebagaimana diriwayatkan dari Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
“Bacalah Al Qur’an untukku!” Aku menjawab “Wahai Rasulullah, bagaimana aku membacakan Al Qur’an untukmu? Bukankah Al Qur’an diturunkan kepadamu?” Beliau bersabda “Aku suka mendengarnya dari selainku.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Demikian juga membaca Al Qur’an dengan suara pelan bisa menjadi lebih baik jika membacanya dengan suara keras dikhawatirkan akan mengganggu orang yang sedang shalat atau khawatir terjadi riya atau ingin dipuji oleh orang lain. Wallahu a’lam bishshawab.