Bertransaksi Yang Harganya Tidak Diketahui Terlebih Dahulu

Dalam jual beli, sangat wajar jika kita tahu harga barang sebelumnya maka biasanya seperti di pasar ada tawar menawar harga dulu begitu pula di swalayan, pembeli juga terbiasa melihat harga yang tertera pada kemasan tetapi terkadang tanpa sadar kita sering bertransaksi tanpa tahu harga barang tersebut seperti yang sering kita alami di warung-warung nasi, kita seringkali makan terlebih dahulu dan membayar kemudian setelah selesai makan.

Pertanyaannya, bagaimana Islam mengatur hal tersebut? Apakah mengetahui harga sebelumnya adalah syarat sah dalam jual beli?

Berikut pemaparan Ustadz Sarwat: Dalam jual beli ada syarat sah dan ada juga etika-etika, akhlak, atau adab. Jika ingin mengetahui berapa harga barang yang mau kita beli sebenarnya ini bukan syarat sah jual beli tetapi lebih kepada etika jual beli. Misalnya kita makan di warteg, kita tidak tahu akan habis berapa makan kita karena sambil makan mungkin ada yang kita ambil. Apakah ketidaktahuan berapa biaya makan kita semua ini menjadi syarat sah jual beli kita kepada pemilik warteg tersebut?

Jawabannya tidak, karena mengetahui harga total secara pasti itu tidak menjadi syarat sahnya jual beli kita tetapi yang penting adalah harga tersebut sudah terprediksi. Ketika harganya wajar dan masuk akal meskipun mungkin di tempat lain harganya juga berbeda-beda maka kita harus bisa mengimbangi tapi itu bukan menjadi syarat sahnya.

Yang menjadi masalah adalah ketika adanya kesengajaan pedagang yang tidak jujur dalam menetapkan harga yang tidak wajar meskipun jual belinya itu sah tapi ada kezaliman dan penipuan dalam transaksi tersebut maka inilah yang harus dihindari, misalnya di suatu tempat wisata dimana orang hanya datang sekali seumur hidupnya, kesempatan seperti itu malah dizalimi/ditipu oleh pedagangnya. Transaksi tersebut menjadi wajib kita bayarkan sesuai dengan harga yang diminta pedagang tersebut ketika kita sudah terlanjur terjebak dalam transaksi tersebut.