Bermakmum Pada Anak Kecil Yang Belum Baligh

Terkadang ada diantara kita yang shalat berjama’ah dan imamnya masih belum baligh atau masih anak-anak. Di dalam rumah tangga misalnya seorang ibu atau ayah bermakmum pada anaknya yang masih anak-anak dengan maksud untuk pembelajaran. Masalahnya, apakah bermakmum pada anak kecil yang belum baligh itu dibenarkan dalam syariat shalat?

Prinsip dasar dalam urusan shalat berjama’ah adalah apabila imamnya sah dalam melakukan shalat. Bila shalatnya imam sah maka sah pula berjama’ah shalat tersebut. Sebaliknya, bila shalat imam tidak sah maka tidak sah pula jama’ah itu. Shalatnya seorang anak kecil yang belum baligh sebenarnya sah-sah saja sebab syarat sah sebuah shalat tidak bergantung apakah seseorang sudah baligh atau belum. Baligh adalah syarat wajib, bukan syarat sah.

Syarat wajib dengan syarat sah itu berbeda, maksud dari syarat wajib adalah apabila syarat-syarat itu sudah terpenuhi maka yang bersangkutan jadi wajib hukumnya untuk melakukan shalat atau ibadah lainnya. Dan sebaliknya, bila syarat wajibnya belum terpenuhi maka yang bersangkutan tidak wajib atau belum diwajibkan untuk melakukan ibadah tersebut.

Kondisi seorang anak yang belum baligh menunjukkan bahwa dirinya sebenarnya belum lagi diwajibkan untuk melakukan shalat. Kalau dibilang belum diwajibkan berarti seandainya dia tidak mengerjakannya maka tidak ada dosa baginya. Berarti hukumnya  cuma sunnah, seandainya tidak dikerjakan maka tidak mengapa tapi kalau dikerjakan sebagaimana makna sunnah maka dia akan mendapatkan pahala.

Sedangkan yang dimaksud dengan syarat sah adalah syarat-syarat yang harus dipenuhi agar shalat itu menjadi sah untuk dikerjakan, misalnya menghadap kiblat, suci dari najis, suci dari hadats kecil dan besar, sudah masuk waktu, menutup aurat, dan seterusnya. Tapi urusan sudah baligh atau belum ternyata tidak termasuk dalam syarat sah.

Jadi, kalau ada anak kecil melakukan shalat fardhu dengan melengkapi syarat wajib, rukun, dan kewajibannya maka shalatnya sah walaupun jatuhnya bagi dirinya bukan wajib melainkan menjadi shalat sunnah. Sementara itu bermakmum dengan imam yang shalatnya shalat sunnah, sementara makmumnya berniat shalat fardhu maka ini dibenarkan dan dibolehkan dalam syariat.

Dengan demikian, keimanan seorang anak kecil yang belum baligh atas makmum yang sudah baligh tidak menjadi masalah. Hukumnya tetap dianggap shalat berjama’ah.

Dari Jabir bin Abdillah bahwa Amr bin Salamah radhiyallahu ‘anhu berkata,
“Aku telah mengimami shalat jama’ah di masa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sedangkan usiaku saat itu baru tujuh tahun.” (HR. Bukhari)
Dan menurut ulama dalam madzhab Asy Syafi'i bahkan meskipun shalat itu shalat jum’at tetap sah bila diimami oleh seorang anak kecil yang baru menginjak baligh meski kurang disukai.

Memang ada sebagian ulama yang melarang kita untuk bermakmum pada anak kecil berdasarkan riwayat Al Ashram dari Ibnu Mas’ud dan Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma yang menyebutkan,
“Janganlah seorang anak kecil mengimami shalat jama’ah kecuali setelah bermimpi.”
Sehingga kalangan madzhab Hanafi disebutkan tidak sah bila anak kecil menjadi imam shalat baik shalat fardhu ataupun shalat sunnah. Sedangkan ulama di kalangan madzhab Malik dan Hanabilah yang tidak sah hanya untuk shalat fardhu sedangkan untuk shalat sunnah, hukumnya sah. Wallahu a’lam bishshawab.