Benarkah Roh Masih Berdiam Di Rumah Setelah Kematiannya?

Keyakinan bahwa roh orang yang meninggal dunia masih berada di rumah selama beberapa hari masih dipegang teguh oleh sebagian kalangan hingga saat ini. Ada yang meyakini bahwa roh setelah meninggal dunia masih berada di rumah selama 10 hari, 30 hari, dan 40 hari. Akibatnya, banyak diantara mereka yang mengadakan ritual tertentu untuk menyambut kehadiran roh tersebut.

Lantas, bagaimana menurut pandangan syariat agama? Benarkah roh masih berdiam di rumah setelah kematiannya?

Para ulama sepakat bahwa setelah kematian, roh akan kembali menghadap kepada Allah subhanahu wa ta’ala karena Allah subhanahu wa ta’ala telah memanggilnya setelah dianggap selesai ketentuan ajalnya hidup di dunia. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman yang artinya:
“Hai jiwa yang tenang. Kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang puas lagi diridhai-Nya. Maka masuklah ke dalam jama'ah hamba-hamba-Ku, Masuklah ke dalam syurga-Ku.” (QS. Al Fajr: 27-30)
Allah subhanahu wa ta’ala juga berfirman:
“Allah memegang jiwa (orang) ketika matinya dan (memegang) jiwa (orang) yang belum mati di waktu tidurnya; Maka dia tahanlah jiwa (orang) yang Telah dia tetapkan kematiannya dan dia melepaskan jiwa yang lain sampai waktu yang ditetapkan. Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda- tanda kekuasaan Allah bagi kaum yang berfikir.” (QS. Az Zumar: 42)
Dari kedua ayat Al Qur’an ini dapat dipahami bahwa roh orang yang sudah meninggal dunia kembali kepada Tuhan yang menciptakannya karena ketika Allah subhanahu wa ta’ala ingin mematikannya maka Dia akan menahan rohnya agar tidak kembali lagi ke jasadnya yang ada di dunia.

Namun yang menjadi permasalahan adalah apakah setelah kembali kepada Allah, roh itu kembali lagi ke alam dunia untuk menjumpai keluarganya seperti yang diyakini oleh sebagian orang atau apakah roh itu kembali hanya ke jasadnya yang ada di alam barzakh atau alam kubur?

Jumhur ulama berpendapat bahwa roh setelah kematiannya kembali kepada Allah subhanahu wa ta’ala dan ditempatkan di tempat-tempat penampungan roh sesuai dengan amalnya ketika di dunia. Oleh karena itu, roh orang beriman, taat kepada Allah subhanahu wa ta’ala, dan berbakti maka akan ditempatkan di dalam suatu tempat yang disebut ‘Illiyyin,
“Sesungguhnya Kitab orang-orang yang berbakti itu (tersimpan) dalam 'Illiyyin.” (QS. Al Muthaffifiin: 18)
Sedangkan roh orang kafir dan orang-orang yang durhaka maka akan ditempatkan di suatu tempat bernama Sijjin,
“Karena Sesungguhnya Kitab orang yang durhaka tersimpan dalam sijjin.” (QS. Al Muthaffifiin: 7)
Abdullah bin Abbas bertanya kepada Ka’ab radhiyallahu ‘anhuma tentang ‘illiyyin dan sijjin itu maka Ka’ab menjawab,
“Sesungguhnya ‘illiyyin adalah sebuah tempat di langit ke tujuh, tempat ditampungnya roh-roh orang shalih, sedangkan sijjin adalah sebuah tempat di bumi ke tujuh, bumi yang paling bawah, tempat ditampungnya roh-roh orang kafir.”
Namun demikian, menurut pendapat ini roh-roh orang yang sudah meninggal akan dikembalikan ke jasadnya yang ada di dalam kubur atau alam barzakh untuk menjawab pertanyaan para malaikat tetapi bukan berarti ia kembali ke alam dunia untuk bertemu keluarganya sebab meskipun sama-sama berada di bumi, orang yang sudah meninggal dunia berbeda alam dengan orang yang masih hidup.

Orang yang sudah meninggal dunia, rohnya berada di alam barzakh, sedangkan orang yang masih hidup, rohnya berada di alam dunia. Keduanya tidak akan pernah bertemu karena ada dinding pemisah atau barzakh yang membatasi mereka. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:
“dan di hadapan mereka ada dinding sampal hari mereka dibangkitkan.” (QS. Al Mu’minuun: 100)
Roh orang yang sudah meninggal dunia tidak akan kembali lagi ke dunia untuk urusan apapun termasuk melihat keluarganya. Hal ini sebagaimana ditolak langsung oleh Allah subhanahu wa ta’ala ketika orang kafir meminta untuk dikembalikan ke dunia agar melakukan amal shalih,
“(Demikianlah keadaan orang-orang kafir itu), hingga apabila datang kematian kepada seseorang dari mereka, dia berkata: "Ya Tuhanku kembalikanlah Aku (ke dunia),  Agar Aku berbuat amal yang saleh terhadap yang Telah Aku tinggalkan. sekali-kali tidak. Sesungguhnya itu adalah perkataan yang diucapkannya saja. dan di hadapan mereka ada dinding sampal hari mereka dibangkitkan.” (QS. Al Mu’minuun: 99-100)
Sedangkan menurut sebagian ulama yang lain, ketika seseorang meninggal dunia, rohnya akan kembali kepada Tuhannya kemudian dengan seizin Allah subhanahu wa ta’ala, ia diberi kesempatan untuk bertemu keluarga di dunia. Dalam hal ini mereka berdalil dengan hadits Anas bin Malik, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
“Sesungguhnya seorang hamba ketika telah diletakkan di kuburan dan ditinggal pulang orang yang mengantarkannya, dia bisa mendengar suara sandal mereka.” (HR. Muslim)
Dalam riwayat lain, dari Abu Thalhah bahwa setelah berlalu tiga hari pasca perang Badr, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mendatangi tempat pertempuran bersama para sahabat dan memasukkan jenazah orang musyrik ke dalam satu lubang lalu beliau bersabda:
“Wahai Abu Jahl bin Hisyam, wahai Umayyah bin Khalaf, wahai ‘Utbah bin Rabi’ah, wahai Syaibah bin Rabi’ah apakah kalian telah mendapatkan kenyataan dari apa yang dijanjikan Rabb kalian. Sungguh aku telah mendapatkan kenyataan dari apa yang dijanjikan Rabbku.” Umar kemudian bertanya “Ya Rasulullah, bagaimana mereka bisa mendengar? Bagaimana mereka bisa menjawab? Padahal mereka sudah menjadi bangkai?” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab “Demi Allah yang jiwaku berada di Tangan-Nya, kalian tidak lebih mendengar dari apa yang aku ucapkan daripada mereka namun mereka tidak bisa menjawab.” (HR. Bukhari)
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah dan Ibnul Qayyim menyebutkan berbagai riwayat dari ulama masa silam yang menjelaskan bahwa mayit mengetahui keadaan keluarganya. Dia merasa senang ketika keluarganya dalam kondisi baik dan dia merasa sedih ketika keluarganya dalam kondisi tidak baik. Namun ulama yang menyetujui pendapat ini menegaskan bahwa mayit mengetahui keadaan keluarganya dengan izin Allah dan dia berada di alam kubur atau alam barzakh dan bukan di alam dunia.

Jadi tidak ada nash yang menjelaskan bahwa ruh atau arwah seseorang yang meninggal masih berada di sekitar rumah hingga 40 hari, tetapi ruh itu akan kembali berada di jasadnya di alam barzakh untuk mendapatkan nikmat atau siksa kubur hingga hari kiamat. Wallahu a’lam bishshawab.