Benarkah Bobot Jenazah Menandakan Kualitas Amalnya?

Mengantarkan jenazah atau mengiringinya merupakan bentuk ibadah yang dijanjikan mendapat pahala sebesar dua gunung Uhud. Dalam hadits disebutkan, Dari Abu Hurairah radhiyallahu anhu berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
“Siapa yang mengantarkan jenazah seorang muslim dengan iman dan ihtisab hingga menyolatkannya dan selesai penguburannya sesungguhnya dia akan kembali dengan membawa dua qirath, masing-masing qirath seperti gunung Uhud. Siapa yang menyolatinya saja kemudian pulang sebelum dikuburkan sesungguhnya dia pulang membawa satu qirath.” (HR. Muslim)
Namun ketika mengangkat jenazah, ada anggapan di masyarakat yang menyatakan bahwa bila jenazah berat maka hal itu menunjukkan buruknya amalan sang mayit, sementara bila jenazah yang diangkat terasa ringan maka orang-orang menganggapnya sebagai ciri orang baik. Benarkah demikian? Apakah berat dan ringannya jenazah itu menjadi patokan kualitas amalan seseorang?

Tidak ada keterangan dalam syariat Islam yang secara tegas menyatakan bahwa berat ringannya seorang jenazah menunjukkan kualitas amalannya. Beratnya jenazah tidak menunjukkan banyaknya dosa yang dia pikul dan ringannya jenazah juga belum tentu menunjukkan kebaikan amalnya.

Dewan Fatwa Arab Saudi pernah ditanya tentang keadaan mayit yang berat dan ringan, apakah menunjukkan kualitas amal perbuatannya namun mereka menjawab bahwa hal tersebut tidak ada dasarnya,
“Kami tidak menemukan faktor penyebab ringan atau beratnya jenazah selain faktor fisik yaitu kurus atau gemuknya badan si mayit. Adapun anggapan orang bahwa bila ringan menunjukkan kemuliaan si mayit dan bila berat menunjukkan kehinaannya maka sejauh yang kami tahu, tidak ada dasarnya dalam agama yang suci ini.”
Namun ada sebuah pernyataan menarik dari ahli fiqih angkatan akhir yang mengindikasikan adanya korelasi antara berat ringannya jenazah dengan kualitas amalnya. Abu Ali An Najad pernah ditanya tentang ringannya jenazah saat diusung maka dia menjawab bahwa jika ringan maka dia mati syahid karena orang yang mati syahid sebenarnya masih hidup, sementara orang yang masih hidup lebih ringan daripada orang yang sudah mati. Hal ini didasari pada firman Allah subhanahu wa ta’ala:
“Janganlah kamu mengira bahwa orang-orang yang gugur di jalan Allah itu mati; bahkan mereka itu hidup disisi Tuhannya dengan mendapat rezki.” (QS. Ali Imran: 169)
Akan tetapi ringannya jenazah itu tetap belum bisa dipastikan sebagai pertanda kebaikan amalnya karena tidak ada bukti yang menyatakan bahwa orang hidup lebih ringan daripada orang mati baik bukti agama maupun bukti empiris. Juga tidak ada dalil yang menyatakan bahwa ringan atau beratnya jenazah menunjukkan husnul khatimah atau su’ul khatimah.

Meski demikian, ada sejumlah riwayat shahih yang menyatakan bahwa jenazah Sa’ad bin Mu’adz radhiyallahu ‘anhu sangat ringan padahal semasa hidup dia dikenal berbadan gemuk. Kondisi semacam inilah yang menyebabkan orang munafik menyebarkan isu yang tidak baik tentang Sa’ad. Mereka mengatakan bahwa jenazah Sa’ad tidak seperti jenazah-jenazah lain karena sangat ringan. Para orang munafik beranggapan kondisi itu akibat keputusannya yang zalim terhadap orang Yahudi Bani Quraizah.

Seperti diketahui, Sa’ad ketika dipilih untuk menjadi hakim untuk mengurusi perkara pengkhianatan orang Yahudi Bani Quraizah memutuskan untuk menghukum mati semua tentaranya, menawan anak kecil dan perempuannya, serta merampas semua hartanya. Orang-orang munafik tidak senang terhadap keputusan ini sehingga menyebarkan isu bahwa jenazah Sa’ad yang ringan itu akibat keputusan zalim yang dijatuhkannya kepada Bani Quraizah.

Namun Allah subhanahu wa ta’ala segera menepis tuduhan mereka itu dengan memberitahu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwa para malaikat ikut mengusung jenazahnya sebagai penghormatan atas perjuangannya yang besar dan kecintaannya untuk mati syahid di jalan Allah. Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu mengisahkan,
“Ketika jenazah Sa’ad bin Mu’adz diusung, orang-orang munafik berkata “Ringan sekali jenazahnya ini, ini pasti gara-gara keputusan yang dijatuhkannya kepada Bani Quraizah” Kata-kata mereka itu segera sampai kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam maka beliau pun bersabda “Para malaikat ikut mengusungnya”.” (HR. Tirmidzi)
Namun demikian muncul pertanyaan, apakah keadaan Sa’ad yang ringan jenazahnya ini berlaku umum bagi semua orang yang mati syahid?

Tidak ada riwayat yang menyebutkan orang yang mati syahid, jenazahnya akan ringan bila ukurannya mati syahid maka banyak sekali sahabat nabi yang mati syahid bahkan ada yang menurut ukuran manusia lebih shalih, lebih alim, dan lebih bertakwa daripada Sa’ad namun tidak ada satu riwayatpun yang menjelaskan bobot jenazahnya. Jika demikian keadaannya maka diduga kuat bahwa bobot jenazah mereka itu normal-normal saja seperti jenazah lain pada umumnya. Bila gemuk maka berat dan bila kurus maka ringan.

Jika demikian, apakah kejadian yang dialami Sa’ad bin Mu’adz radhiyallahu ‘anhu itu tidak mungkin terulang lagi kepada orang lain?

Keadaan jenazah seperti Sa’ad bin Mu’adz radhiyallahu ‘anhu yang berbadan gemuk dan dikabarkan ringan ketika diangkat jenazahnya, bisa saja terjadi lagi pada orang lain. Tidak ada yang mustahil jika Allah menghendaki. Al Qur’an juga menegaskan tentang adanya orang yang pada saat meregang nyawa mendapatkan bisyarah atau kabar gembira dari para malaikat bahwa dia telah diridhai Allah dan berhak mendapat kemuliaan. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:
“Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan: "Tuhan kami ialah Allah" Kemudian mereka meneguhkan pendirian mereka, Maka malaikat akan turun kepada mereka dengan mengatakan: "Janganlah kamu takut dan janganlah merasa sedih; dan gembirakanlah mereka dengan jannah yang Telah dijanjikan Allah kepadamu".” (QS. Fushshilat: 30)
Syaikh Abdurrahman As Sa’di dalam tafsirnya mengatakan bahwa ini adalah tanda yang dialami oleh seorang mukmin saat menghadapi sakaratul maut. Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu juga pernah menuturkan bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
“Barangsiapa bertemu dengan Allah maka Allah senang bertemu dengannya, dan barangsiapa tidak senang bertemu dengan Allah maka Allah tidak senang bertemu dengannya.” Para sahabat bertanya “Wahai Rasulullah, kami semua tidak menyukai kematian.” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda “Bukan itu yang aku maksud namun seorang yang beriman apabila menghadapi sakaratul maut maka seorang pemberi kabar gembira utusan Allah datang menghampirinya seraya menunjukkan tempat kembalinya hingga tidak ada sesuatu yang lebih dia sukai kecuali bertemu dengan Allah lalu Allah pun suka bertemu dengannya. Adapun orang yang banyak berbuat dosa atau orang kafir, apabila telah menghadapi sakaratul maut maka datang seseorang dengan menunjukkan tempat kembalinya yang buruk atau apa yang akan dijumpainya berupa keburukan maka itu membuatnya tidak suka bertemu Allah hingga Allah pun tidak suka bertemu dengannya.” (HR. Ahmad)
Mudah-mudahan saat dijemput oleh maut nanti kita semua dikunjungi para malaikat yang menyampaikan kabar gembira tentang keridhaan Allah dan setelah itu mereka mengiringi dan ikut memikul jenazah kita. Aamiin Ya Rabbal ‘Alamiin.

Bobot yang berat belum tentu menjadi pertanda buruknya kualitas amal seorang jenazah sebaliknya orang yang baik belum tentu jenazahnya akan menjadi ringan saat diangkat. Namun ada beberapa gejala fisik yang secara tegas disebut-sebut sebagai pertanda husnul khatimah. Salah satunya adalah keluar keringat pada bagian dahi. Hal ini seperti disebutkan dalam sebuah hadits yang dituturkan oleh Buraidah bin Hushaib,
“Suatu ketika dia tengah berada di Khurasan menjenguk saudaranya yang sedang sakit dan ternyata dia menemuinya sedang sekarat sementara dahinya mengeluarkan keringat maka dia berseru “Allahu akbar, saya pernah mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda “Orang mukmin meninggal dunia dengan mengeluarkan keringat di dahinya”.” (HR. Ahmad)
Selain tanda ini masih ada tanda lain meninggalnya orang secara husnul khatimah yang disebutkan dalam riwayat shahih, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menyebutkan daftar orang yang mati syahid,
“Siapa yang terbunuh di jalan Allah, dia syahid; siapa yang mati tanpa dibunuh di jalan Allah, dia syahid; siapa yang mati karena wabah penyakit Tha’un, dia syahid; siapa yang mati karena sakit perut, dia syahid; siapa yang mati karena tenggelam, dia syahid.” (HR. Muslim)
Rasulullah juga bersabda:
“Siapa yang terbunuh karena membela hartanya maka dia syahid.” (HR. Bukhari)
Bahkan orang yang meninggal karena melahirkan dan meninggal karena tertimbun tanah longsor juga disebut mati syahid. Wallahu a’lam.