Belajar Ilmu Agama Karena Fanatik Terhadap Ustadznya

Fenomena banyaknya ustadz yang bermunculan memberikan tausiyah kepada masyarakat semakin ramai menjadi pembicaraan. Masyarakat diberi banyak pilihan “mau ikut majelis ilmu yang mana?”. Seiring dengan tren masyarakat yang mulai gemar belajar Islam lagi maka para ustadz tersebut jadi panutan dan acuan bagi jama’ah yang sering hadir di majelisnya. Masing-masing jama’ah memiliki ustadz idolanya.

Permasalahannya, seringkali hal tersebut menimbulkan fanatik terhadap ustadz di beberapa kalangan masyarakat bahkan ada yang sudah pada taraf yang berlebihan seperti membanding-bandingkan isi ceramahnya maupun sisi personalnya. Sebenarnya bolehkah fanatik yang berlebihan terhadap ustadz? Bagaimana jika sang ustadz memberi fatwa yang tidak sesuai dengan keilmuannya?

Berikut penuturan Ustadz Sarwat: Yang lebih tepat adalah kita bukan fanatik tapi kita mengikuti apa yang diajarkan oleh orang yang ahli dalam ilmunya. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:
“Maka tanyakanlah olehmu kepada orang-orang yang berilmu, jika kamu tiada Mengetahui.” (QS. Al Anbiyaa’: 7)
Dalam hal ini yang harus kita lakukan bukanlah fanatik tetapi mengikuti, belajar ilmu agama itu setelah kita mempelajarinya, jangan sampai ke tingkat fanatik yang berlebihan, jika menurutnya benar atau salah, sesuai atau tidak maka itulah yang dibelanya sehingga memusuhi, menghujat yang lain.

Kita belajar suatu ilmu harus dari ahlinya, tidak boleh kita belajar suatu ilmu tapi dari tokoh yang bukan ahli dalam bidang tersebut. Ilmu keislaman itu cukup luas, masing-masing ada pendirinya, ada tokoh-tokohnya, ada kitab-kitab rujukan dan sebagainya yang mana ketika kita belajar maka kita harus sampai kepada semua itu. Bukan hanya mendengar atau melihat/menonton misalnya dari media sosial karena boleh jadi yang diupload di media sosial malah tidak merujuk kepada sumber yang sesungguhnya.

Bagaimana mungkin kita belajar suatu ilmu tapi tidak sampai kepada rujukan aslinya sehingga ketika kita belajar ilmu agama atau belajar pada seorang ustadz maka kita harus pastikan terlebih dahulu kapasitas dan latar belakang pendidikannya, diantaranya menanyakan kepadanya sebagai berikut:
  1. Apakah beliau belajar ilmu agama atau tidak?
  2. Kalau memang belajar ilmu agama, dimana belajarnya? Kepada siapa? Apakah belajar ilmu agama secara umum yang sifatnya “ngaji nguping” saja (berarti ilmunya sama dengan kita yang awam, bedanya dia pintar menyampaikan kembali) atau belajar ilmu agama yang betul-betul (sampai tingkat S1, S2, S3, yang “expert” di bidangnya, dan sebagainya).
  3. Kalau kita sudah tahu no. 2 lalu apa bidang Ilmunya? Apakah dia ahli dalam bidang tafsir, hadits, fiqih, ushul fiqih, bahasa Arab, tarikh, atau lainnya? Semua bisa dibuktikan dengan cara sederhana yaitu dengan menanyakan ijazahnya.