Barisan Shaf Terputus Oleh Tiang Bangunan Masjid

Ketika membangun sebuah masjid, sudah tentu dibutuhkan konstruksi bangunan yang kuat. Tak jarang beberapa masjid memiliki tiang-tiang di tengahnya untuk menopang keseluruhan bangunan kemudian timbul permasalahan ketika shalat berjama’ah. Seringkali barisan shaf terputus oleh tiang bangunan. Ada anggapan bahwa barisan shaf diantara dua tiang tersebut tidak sah karena dianggap memutus shaf shalat, benarkah demikian? Apakah shalatnya para makmum yang terhalang tiang ini juga menjadi tidak sah? Bagaimana para ulama menetapkan hukumnya?

Sebagian ulama mengatakan bahwa tidak sah barisan shaf yang terhalang tiang-tiang diantaranya maka jika ada tiang disitu hendaknya orang bergeser ke depan atau ke belakang untuk membentuk shaf sehingga dari ujung kanan ke kiri tidak diselingi oleh tiang-tiang. Namun begitu, shalatnya tetap dianggap sah karena hal tersebut bukan pembatal shalat. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang para sahabatnya untuk membuat shaf yang terputus karena terhalang tiang.
“Dahulu kami dilarang membuat shaf diantara tiang-tiang pada zaman Rasulullah dan kami diperintahkan untuk menjauhinya.” (HR. Ibnu Majah)
Para ulama menjelaskan bahwa hadits tersebut menegaskan larangan membuat shaf diantara dua tiang, wajib bagi para makmum untuk membuat shaf di depan atau di belakang tiang tersebut. Imam Al Baihaqi menjelaskan bahwa larangan ini bertujuan untuk menghindari terputusnya shaf ketika shalat berjama’ah. Larangan membentuk shaf diantara dua tiang juga ditaati oleh para sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Dari sebuah riwayat disebutkan,
Abdul Hamid bin Mahmud berkata “Aku shalat bersama Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu pada hari jum’at kami pun terdesak diantara tiang-tiang maka kami pun maju atau mundur lalu berkata Anas “Kami dahulu menghindari tiang ini di zaman Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam”.“ (HR. Tirmidzi, Abu Dawud, Nasa’i)
Berdasarkan riwayat ini, Imam Tirmidzi berpendapat bahwa sebagian kalangan ulama membenci dibuatnya shaf diantara tiang-tiang.

Lalu bagaimana bila tiang-tiang di masjid tersebut berukuran sangat besar yang bisa memuat satu hingga dua barisan shaf?

Ulama kontemporer menyebutkan bolehnya membuat shaf bagi para makmum diantara dua tiang apabila jumlah jama’ah terlalu banyak yaitu apabila mereka tidak shalat diantara dua tiang akan menyebabkan mereka shalat di luar masjid. Ibnu Hajar Al Asqalani dalam kitab Fathul Bari menjelaskan bahwa beberapa ulama menganggap makruh shalat diantara dua tiang jika masjid yang digunakan relatif lapang tetapi jika masjid berukuran sempit maka diperbolehkan shalat diantara tiang bangunan.

Syaikh Al Utsaimin menjelaskan bahwa yang lebih utama ketika shalat berjama’ah adalah shaf yang lurus dan rapat karena Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam telah memerintahkan para sahabatnya untuk merapatkan dan meluruskan shaf hingga menutup celah-celah kecil diantara para jama’ah, tetapi dalam kondisi masjid penuh dengan jama’ah maka diperbolehkan untuk membentuk shaf diantara tiang-tiang masjid karena hukum ini merupakan sebuah hukum khusus dan bersifat darurat dan menyesuaikan dengan kondisi.

Imam Ibnu Qudamah dalam kitab Al Mughni mengutip pendapat dari Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu dan Imam An Nasa'i beliau menjelaskan bahwa shalat diantara dua tiang diperbolehkan bagi imam tetapi makruh bagi para makmum.

Lalu bagaimana dengan orang yang shalat sendirian? Bolehkah ia mengerjakan shalat diantara dua tiang?

Imam Bukhari memberikan penjelasan detail mengenai shalat diantara tiang-tiang masjid. Seseorang yang mengerjakan shalat sendirian atau munfarid diperbolehkan melaksanakan shalat diantara tiang-tiang masjid. Jika memungkinkan seseorang yang shalat munfarid lebih baik menghadap tiang karena tiang tersebut bisa menjadi sutrah atau pembatas sehingga shalatnya tidak terganggu orang yang sedang lalu lalang di masjid. Wallahu a’lam bishshawab.