Bagaimana Seharusnya Anak Berbakti Kepada Orang Tua Yang Sudah Lanjut Usia?

Fenomena di masyarakat, masih ada yang menganggap orang tua yang telah lanjut usia merupakan beban bagi anak. Tak jarang orang tua yang sudah renta tinggal sendiri tanpa teman, apalagi setelah ditinggal mati oleh pasangannya, ia bukan tinggal bersama anaknya. Ada juga yang tinggal bersama anaknya namun sering ‘diomelin’ dan kurang perhatian padahal semakin tua, fisik mereka semakin melemah dan sebagian membutuhkan perhatian dan kasih sayang.

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:
“Allah, dialah yang menciptakan kamu dari keadaan lemah, Kemudian dia menjadikan (kamu) sesudah keadaan lemah itu menjadi kuat, Kemudian dia menjadikan (kamu) sesudah Kuat itu lemah (kembali) dan beruban. dia menciptakan apa yang dikehendaki-Nya dan dialah yang Maha mengetahui lagi Maha Kuasa.” (QS. Ar Ruum: 54)
Lantas bagaimana seharusnya anak berbakti kepada orang tua yang sudah lanjut usia? Bagaimana syariat agama mengaturnya?

Dalam ayat Al Qur’an dan Hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam banyak disebutkan perintah berbuat baik dan berbakti kepada orang tua, diantaranya dengan cara mendoakan orang tua, mentaati perintah orang tua dalam kebaikan, dan lainnya. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:
“Dan kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada dua orang ibu-bapanya;” (QS. Luqman: 14)
Namun diantara sekian banyak perintah berbakti kepada orang tua, tidak ada yang lebih riil dari apa yang disampaikan oleh Allah subhanahu wa ta’ala dalam surah Al Israa’ ketika orang tua berada didalam pemeliharaan anaknya. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:
“Dan Tuhanmu Telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya. jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, Maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan "ah" dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia.” (QS. Al Israa’: 23)
Ayat ini dengan tegas memberikan batasan perbuatan yang dianggap buruk kepada kedua orang tua yang telah lanjut usia karena dengan semakin melemahnya fisik, banyak sekali anak yang menginginkan sikap orang tuanya dengan mengatakan “Ah”. Jika hanya mengeluh dan mengatakan “Ah” saja kepada orang tua tidak diperbolehkan maka jika anak bersikap lebih buruk dari itu tentu sangat dilarang.

Ayat ini juga menegaskan bahwa orang tua yang lanjut usia, sebisa mungkin berada dalam pemeliharaan anaknya dan tidak boleh ditelantarkan. Adapun jika tidak tinggal bersama maka anaknya harus memastikan bahwa orang tuanya masih mampu untuk memenuhi kebutuhan makanannya dan menafkahi dirinya serta sering bersilaturahim kepadanya. Namun jika orang tuanya tergolong tidak mampu maka para ulama sepakat bahwa nafkah orang tua menjadi kewajiban anaknya.

Dari Abdullah bin Amr, salah seorang sahabat mendatangi Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan bertanya tentang harta yang ia miliki namun ia mempunyai orang tua yang miskin lalu ia bertanya apakah ia wajib menafkahi orang tuanya. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab:
“Sesungguhnya kamu dan hartamu adalah milik orang tuamu dan anak-anakmu adalah bagian dari penghasilanmu yang baik maka makanlah dari penghasilan anak-anakmu.” (HR. Abu Dawud dan At Tirmidzi)
Bakti anak terhadap orang tua yang sudah lanjut usia merupakan kesempatan emas bagi anak untuk mendapatkan ridha Allah subhanahu wa ta’ala sekaligus menjadi jembatan menuju surga-Nya maka menyia-nyiakan orang tua di masa senjanya sama saja dengan menyia-nyiakan surga yang ada di hadapannya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
“Celaka, sekali lagi celaka, dan sekali lagi celaka orang yang mendapatkan kedua orang tuanya berusia lanjut salah satunya atau keduanya tetapi dengan itu dia tidak masuk surga.” (HR. Muslim dan Ahmad)
Bakti anak yang paling baik kepada orang tuanya adalah di usianya ibunya yang sudah senja sebab kala itu mereka benar-benar membutuhkan perhatian dan kasih sayang anaknya sebagaimana anak di kala kecil membutuhkan kasih sayang orang tuanya. Tidakkah kita setiap hari berdoa memohon ampunan kepada Allah untuk diri kita dan kedua orang tua serta memohon agar keduanya mendapatkan kasih sayang sebagaimana ketika kita masih kecil.
“Allohummaghfirli wali walidayya warhamhuma kama robbayyani shogiro. Wahai Tuhanku, ampunilah aku dan kedua orang tuaku, ibu dan bapakku, sayangilah mereka seperti mereka menyayangiku di waktu kecil.”
Sungguh ironi ketika anak memohon kepada Allah agar orang tuanya mendapatkan kasih sayang seperti halnya ketika mereka menyayanginya di waktu kecil namun justru anaknya acuh tak acuh padahal kasih sayang itu yang paling utama adalah didapat dari anaknya sendiri.

Lalu bagaimana jika dengan alasan tidak ingin merepotkan anak, orang tua minta tinggal di panti jompo? Bolehkan anak memenuhi permintaannya?

Para ulama sepakat bahwa memenuhi permintaan orang tua yang baik berarti mentaati perintah orang tua dalam kebaikan namun kebaikan ini hendaknya berhubungan dengan masalah agama dan adat istiadat yang berlaku di masyarakat. Oleh karena itu, jika ada orang tua yang meminta kepada anaknya agar ia tidak dirawat oleh anaknya karena khawatir merepotkan dan mengganggu pekerjaannya maka anak dapat memilih yang terbaik bagi dirinya, orang tuanya, dan keluarganya.

Jika yang terbaik menurut dirinya, dia harus memenuhi permintaan orang tuanya untuk dirawat di panti jompo dan itu juga atas biaya anaknya maka hal ini diperbolehkan selama permintaan orang tuanya ikhlas dan bukan didasari permusuhan diantara mereka.

Namun apabila anak menuruti permintaan orang tuanya tinggal di panti jompo dan tidak berusaha menolak permintaan tersebut maka sungguh ia telah kehilangan kesempatan emas untuk berbakti dan memuliakan orang tuanya di masa senjanya padahal berbakti kepada orang tua yang sudah tua seperti pahala berhaji, berumrah, dan berjihad di jalan Allah subhanahu wa ta’ala.
Dikisahkan bahwa suatu ketika datang seseorang lalu berkata kepada Rasulullah “Ya Rasulullah, saya ingin ikut berjihad tapi saya tidak mampu.” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bertanya “Apakah orang tuamu masih hidup?” Orang itu menjawab “Ibuku masih hidup.” Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda “Temuilah Allah dengan berbakti kepada kedua orang tuamu. Jika engkau melakukannya maka engkau seperti berhaji, berumrah, dan berjihad.” (HR. Ath Thabrani)
Selain itu dalam adat ketimuran, menitipkan orang tua di panti jompo dalam keadaan anak mampu secara materi untuk memelihara dan merawatnya di rumah dianggap sebagai aib dan bukti ketidakmampuannya berbakti kepada orang tua. Wallahu a’lam bishshawab.