Apakah Hantu Berasal Dari Jin Atau Roh Orang Yang Sudah Meninggal?

Sebagian orang ada yang mengaku dirinya bisa melihat hantu dan untuk meyakinkan ia kemudian menggambar wujud hantu itu sesuai dengan apa yang dilihatnya. Lantas, siapakah sosok hantu yang dilihatnya itu? Apakah ia berasal dari jin atau roh orang yang sudah meninggal dunia sebagaimana yang diyakini oleh sebagian orang? Bagaimana menurut syariat agama apakah jin dapat dilihat wujud aslinya?

Secara gamblang, Allah subhanahu wa ta’ala menjelaskan dalam Al Qur’an bahwa jin dan pengikut-pengikutnya dapat melihat manusia namun manusia tidak melihat mereka. Hal ini sebagaimana Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:
“Sesungguhnya ia dan pengikut-pengikutnya melihat kamu dan suatu tempat yang kamu tidak bisa melihat mereka.” (QS. Al A’raaf: 27)
Namun yang menjadi permasalahan adalah apakah jin tidak dapat dilihat secara mutlak atau dapat dilihat ketika ia berubah wujud menjadi makhluk lain?

Para ulama sepakat bahwa yang tidak bisa dilihat dari jin adalah apabila jin itu berada dalam wujud aslinya sedangkan jika ia telah berubah wujud maka jin itu bisa dilihat baik karena ia yang menampakkan dirinya sendiri atau ia diminta untuk menampakkan diri oleh orang yang bersekutu dengannya.

Al Hafidz Ibnu Hajar rahimahullah berkata dalam kitab Fathul Bari,
“Setan mempunyai kebiasaan berdusta dan terkadang dia menjelma menjadi berbagai bentuk sehingga memungkinkan untuk melihat manusia. Adapun ayat “Sesungguhnya ia dan pengikut-pengikutnya melihat kamu dan suatu tempat yang kamu tidak bisa melihat mereka” khusus untuk keadaan ketika ia menampakkan diri dalam wujud aslinya sesuai yang Allah ciptakan.”
Oleh karena itu, apabila ada orang yang mengatakan bahwa dirinya bisa melihat jin dalam wujud aslinya maka menurut para ulama ia melihatnya atas bantuan jin lain yang bersekutu dengannya sedangkan bersekutu dengan jin merupakan perbuatan syirik yang dosanya tidak akan diampuni Allah subhanahu wa ta’ala.

Lalu bagaimana dengan melihat hantu, Sebagian orang meyakini bahwa hantu berasal dari kalangan jin namun ada juga yang beranggapan bahwa hantu berasal dari roh orang yang sudah meninggal dunia, benarkah demikian?

Jin yang dimaksud dengan hantu adalah jin yang menampakkan dirinya kepada manusia atau kepada orang yang sering berinteraksi dengannya maka menurut para ulama, ini merupakan sesuatu yang mungkin terjadi dan tidak mustahil. Para ulama juga sepakat bahwa jin merupakan makhluk yang buruk rupa, namun dengan izin Allah subhanahu wa ta’ala ia dapat berubah wujudnya menjadi apa saja dan siapa saja kecuali wujud Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Adapun jin yang selalu menampakkan diri kepada manusia dalam wujud hantu maka ini adalah jin kafir yang selalu berusaha untuk menyesatkan manusia. Ia menampakkan diri dengan wujud yang jelek dan seram serta mengeluarkan aroma busuk. Selain itu, jin kafir suka menampakkan diri dengan wujud binatang siluman atau monster menakutkan. Karena itu, hantu termasuk kategori setan yang berasal dari kalangan jin sebab kerjanya selalu mengganggu manusia dan menyesatkannya.

Lalu bagaimana dengan anggapan masyarakat bahwa hantu itu adalah perwujudan dari roh orang yang sudah meninggal dunia, benarkah demikian?

Para ulama sepakat bahwa orang yang sudah meninggal dunia, rohnya kembali kepada Allah subhanahu wa ta’ala lalu ditempatkan di tempat penyimpanan roh sesuai dengan amalnya ketika di dunia. Adapun jika setelah itu roh kembali ke jasadnya maka roh itu tetap berada di alam barzakh atau alam kubur dan tidak kembali ke alam dunia apalagi bergentayangan menjadi hantu.

Adapun jika terjadi penampakan seseorang yang telah meninggal dunia hidup kembali maka itu bukan berasal dari roh orang yang meninggal tersebut melainkan berasal dari setan dari kalangan jin yang sengaja ingin mengganggu dan menyesatkan manusia serta membuat fitnah yang sangat keji terhadap orang yang telah meninggal dunia.

Imam Ibnu Qayyim Al Jauziyah menyebutkan dalam bukunya Ar Ruuh, ada beberapa pendapat tentang keberadaan ruh/arwah setelah meninggal hingga hari kiamat. Dari sekian banyak pendapat yang ada, tidak ada satupun yang menerangkan bahwa ada roh yang bergentayangan sebab roh orang-orang beriman berada di alam barzakh yang luas, yang di dalamnya ada ketentraman dan rizki serta kenikmatan, sedangkan roh orang-orang kafir berada di barzakh yang sempit, yang di dalamnya hanya ada kesusahan dan siksa.

Lalu bagaimana dengan orang yang berinteraksi dengan jin? Apakah boleh berteman dengan jin?

Interaksi antara manusia dengan jin merupakan interaksi yang tidak sewajarnya dan sedikit sekali orang yang melakukannya. Hal ini tidak lain karena alam jin berbeda dengan alam manusia. Namun demikian, masih saja ada sebagian orang yang suka berinteraksi dengan jin untuk suatu kepentingan tertentu. Interaksi dengan jin dalam bentuk apapun termasuk perbuatan yang dilarang dan tidak ada orang yang menjadikan jin sebagai teman atau tuan kecuali orang-orang musyrik yang menyekutukan Allah subhanahu wa ta’ala,
“Hai anak Adam, janganlah sekali-kali kamu dapat ditipu oleh syaitan sebagaimana ia Telah mengeluarkan kedua ibu bapamu dari surga, ia menanggalkan dari keduanya pakaiannya untuk memperlihatkan kepada keduanya 'auratnya. Sesungguhnya ia dan pengikut-pengikutnya melihat kamu dan suatu tempat yang kamu tidak bisa melihat mereka. Sesungguhnya kami Telah menjadikan syaitan-syaitan itu pemimpin-pemimpin bagi orang-orang yang tidak beriman.” (QS. Al A’raaf: 27)
Larangan dalam ayat Al Qur’an ini sangat jelas bahwa manusia tidak boleh berinteraksi dengan jin atau setan sebab jin tidak dapat mendatangkan kebaikan sama sekali kecuali akan membuat tipu daya kepada manusia bahkan jin tidak dapat diperbudak manusia melainkan jin yang akan menjadi pemimpin bagi manusia yang tidak beriman jika ia berinteraksi dengannya. Wallahu a’lam bishshawab.