Tuduh Menuduh Orang Berzina Menurut Syariat Agama Islam

Akhir-akhir ini seringkali terjadi fenomena tuduh menuduh antar masyarakat, ada yang dituduh mencuri hingga tewas dikeroyok massa. Ada pula yang menuduh berzina hingga mengakibatkan orang yang dituduh, diarak oleh warga padahal apa yang dituduhkan bisa jadi tidak terbukti atau belum ditemukan bukti yang kuat.

Seringkali yang terjadi, orang yang menuduh hanya mendapat kabar burung dari mulut ke mulut atau hanya membuat kesimpulan dari gerak-gerik seseorang saja bahkan mereka tidak melihat secara langsung dan jelas perbuatan zina yang dilakukan tertuduh. Sebenarnya bolehkah menuduh seseorang berzina hanya dengan menyimpulkan gerak-geriknya saja? Bagaimana syariat Islam mengatur tentang tuduh menuduh?

Berikut pemaparan Ust. Ahmad Sarwat, Lc., MA.: Menuduh orang berzina itu termasuk perbuatan dosa besar. Dalam Al Qur’an surah An Nuur ayat 4 Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:
“Dan orang-orang yang menuduh wanita-wanita yang baik-baik (berbuat zina) dan mereka tidak mendatangkan empat orang saksi, Maka deralah mereka (yang menuduh itu) delapan puluh kali dera, dan janganlah kamu terima kesaksian mereka buat selama-lamanya. dan mereka Itulah orang-orang yang fasik.” (QS. An Nuur: 4)
Inilah yang menyebutkan bahwa menuduh orang berzina itu termasuk dosa besar karena Allah menyebutkan di bagian akhir ayat ini, fasik adalah orang yang melakukan dosa besar. Dia melakukan dosa besar dengan terang-terangan, bukan diam-diam, dan dia merasa bangga dengan dosanya itu.

Maka menuduh orang berzina tanpa mendatangkan empat orang saksi atau bukan karena si pelaku zinanya sendiri yang melakukan ikrar pengakuan atas perbuatannya, maka ini adalah dosa besar. Apalagi sampai ditelanjangi, diarak keliling kampung, kemudian direkam, videonya diviralkan, dan sebagainya.

Maka mereka ini semua dalam syariat Islam itu harus dihukum. Hukumannya adalah dicambuk 80 kali, bukan yang dituduh berzina tetapi yang main tuduhnya itu karena ini merusak kehormatan seseorang, bahkan walaupun misalnya zinanya itu terjadi tapi orangnya tidak mengaku dan kita sebagai yang ada di sekitarnya juga tidak bisa mendatangkan empat orang saksi.

Empat orang saksi ini syaratnya harus muslim, aqil, baligh, dan semuanya harus punya mata yang bisa melihat dengan jelas dan melihatnya dengan masing-masing sepasang bola matanya, jadi kalau ada empat orang maka harus ada 8 bola mata yang melihat secara langsung bagaimana peristiwa zina itu terjadi dan peristiwa zina itu terjadi ditandai dengan masuknya kemaluan laki-laki ke dalam kemaluan perempuan. Dan kalau mereka hanya sekedar mendengar suaranya saja atau melihat gerakan tetapi dibalik tirai/tabir, dibalik selimut, atau hanya sekedar menduga, tidak melihat secara langsung bagaimana fisiknya itu terjadi maka semua itu tidak bisa dijadikan sebagai kesaksian.

Saksi itu maksudnya adalah orang yang melihat langsung dengan kedua mata kepalanya. Semuanya hadir di situ empat orang dan menyaksikan bagaimana terjadinya zina itu sendiri masuknya kemaluan laki-laki ke dalam kemaluan perempuan. Di masa Rasulullah tidak pernah ada orang yang bisa menjadi saksi atas zina seseorang yang dituduhnya itu maka yang terjadi di masa Rasulullah, hukum rajam terhadap orang yang berzina itu rata-rata dari beberapa kasusnya adalah karena mereka sendiri yang mengaku, mendatangi Rasulullah dan meminta dirajam, bukan datang dari kesaksian orang lain.

Dalam kasus ini, pelakunya tidak mengaku dan kita tidak bisa mendatangkan empat orang saksi maka selesai di dalam hukuman hudud, zina itu tidak boleh dilakukan kecuali yang bisa dilakukan hanyalah hukuman ta’zir, hukuman yang memberikan pelajaran. Tetapi bukan dengan cara dipermalukan, ditelanjangi, diarak keliling kampung, dan sebagainya karena itu bukan bagian dari syariat Islam.

Berzina itu haram tapi menuduh orang berzina juga haram kalau tidak memenuhi syarat dan ketentuan yang sudah ditetapkan di dalam syariat Islam itu sendiri.