Suami Atau Pasangan Bagi Para Wanita Yang Masuk Surga Kelak

Diantara balasan bagi orang laki-laki mukmin di surga, mereka dinikahkan dengan bidadari di surga. Lalu siapakah laki-laki yang akan menjadi suami atau pasangan bagi para wanita yang masuk surga nanti? Apakah para wanita yang masuk surga juga akan mendapatkan pasangan seperti yang didapat laki-laki?

Ketika meninggal dunia, seorang wanita ada yang statusnya belum menikah, ada wanita yang cerai dengan suaminya lalu meninggal sebelum sempat menikah lagi, ada pula wanita yang meninggal ini masuk surga namun suaminya tidak lalu siapa suami yang akan menjadi pasangan mereka kelak di surga?

Wanita-wanita yang  meninggal di kondisi demikian jika masuk surga mereka akan dinikahkan di surga dengan laki-laki yang kondisinya mirip dengan mereka. Wanita itu akan mendapatkan pasangan salah satu dari laki-laki yang meninggal sebelum menikah atau laki-laki yang berpisah dengan istrinya lalu meninggal sebelum menikah lagi. Atau laki-laki yang masuk surga tapi istrinya tidak masuk surga.

Hal ini berdasarkan keumuman sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam hadits riwayat Muslim melalui sahabat Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu yang artinya:
“Tidak ada seorang bujangan pun dalam surga.”
Juga keumuman makna firman Allah subhanahu wa ta’ala:
“Di dalamnya kamu memperoleh apa yang kamu inginkan dan memperoleh (pula) di dalamnya apa yang kamu minta. Sebagai hidangan (bagimu) dari Tuhan yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Fushshilat: 31-32)
Seorang wanita jika masuk surga dalam keadaan tidak bersuami atau dia sudah bersuami di dunia akan tetapi suaminya tidak masuk surga dan ingin menikah maka pasti akan mendapatkan apa yang dia inginkan.

Terkait dengan hal ini, ulama kontemporer menjelaskan bahwa jika wanita itu belum menikah di dunia maka Allah akan menikahkannya dengan laki-laki yang dia senangi di surga maka kenikmatan di surga tidaklah terbatas pada kaum lelaki tetapi bersifat umum untuk kaum lelaki dan wanita dan diantara kenikmatan-kenikmatan itu adalah pernikahan.

Keadaan yang lain adalah istri meninggal dalam keadaan masih bersuami baik suaminya menikah lagi setelah ia ditinggalkan maupun tidak atau suaminya meninggal terlebih dahulu kemudian ia tidak menikah lagi sampai meninggal, mereka ini di surga akan tetap menjadi istri suaminya, sedangkan seorang istri yang ditinggal mati suaminya lalu dia menikah lagi setelahnya maka di surga dia akan menjadi istri dari suaminya yang terakhir.

Hal ini sesuai dengan sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam:
“Wanita itu milik suaminya yang paling terakhir.” (HR. Abu Asy Syaikh)
Juga sejalan dengan ucapan Hudzaifah radhiyallahu ‘anhu kepada istrinya:
“Jika kamu mau tetap menjadi istriku di surga maka janganlah kamu menikah lagi sepeninggalku karena wanita di surga milik suaminya yang terakhir di dunia karenanya Allah mengharamkan para istri untuk menikah lagi sepeninggal beliau karena mereka adalah istri-istri beliau di surga.” (HR. Al Baihaqi)
Akan tetapi ada seorang ahli tafsir kenamaan yang menyatakan bahwa kata Arab “Azwaj” yang biasa diartikan dengan istri-istri dan “Hur’ain” yang biasa diartikan dengan bidadari sebenarnya kata yang berkelamin netral. Dengan demikian, Azwaj bisa diartikan dengan pasangan yakni bisa diartikan dengan suami atau istri, sedangkan Hur’ain bisa diartikan dengan bidadari atau bidadara.