Shalat Dalam Keadaan Mengantuk

Dalam masyarakat modern, fenomena orang shalat dalam keadaan mengantuk seringkali ditemui. Bisa jadi seseorang kelelahan setelah bekerja sehingga kurang tidur. Lalu ketika sedang shalat, ia sempat terlelap dalam beberapa waktu. Pertanyaannya, apakah sah shalatnya? Jika demikian, haruskah ia mengulang shalatnya dari awal?

Berikut pemaparan Ust. Ahmad Sarwat, Lc., MA.: Sebenarnya yang lebih afdhal adalah kalau kita memang sedang mengantuk sebaiknya tidak usah shalat. Maksudnya kalau shalatnya shalat sunnah yang memang tidak harus dikerjakan sekarang, sebutlah misalnya kita mau shalat tahajud tapi badan kita sudah lelah bekerja seharian maka kita sebaiknya istirahat saja dulu dibandingkan kita misalnya memaksakan diri untuk shalat tapi kemudian shalatnya seperti orang terbang, dia tidak merasakan bagaimana nikmatnya shalat karena sebagian nyawanya sudah pergi dan sebagiannya masih tersisa disitu. Ini malah agak-agak kurang disukai, tetapi kalau dalam konteks dimana kita terpaksanya harus shalat karena ini shalat fardhu dan kalau tidak shalat maka nanti kita akan tertinggal dari mengerjakan shalat, maka mau tidak mau kita kerjakan shalat itu. Apakah kemudian shalatnya menjadi batal kalau kita mengantuk?

Jawabannya adalah tergantung, apakah kita melewati sampai batas batalnya itu atau tidak. Batas batalnya adalah bahwa seorang yang sedang shalat, kalau sampai dia tertidur dalam arti pulas, hilang akalnya, sudah tidak ingat apa-apa lagi maka dia kemudian batal shalatnya karena batal juga wudhunya. Wudhunya batal karena tertidur. Tapi tidak semua orang tidur itu batal wudhu dan shalatnya, kalau shalatnya masih dalam posisi berdiri mungkin pikirannya sudah kemana-mana tapi badannya masih tetap berdiri maka itu tidak batal shalatnya atau mungkin dia hanya terhuyung-huyung saja misalnya belum juga batal.

Yang dikatakan batal itu kalau dia tidurnya sudah menggeletak/berbaring di atas tanah.  Kemungkinan besar orang bisa tidur itu dalam posisi sujud, karena posisi sujud itu memang seperti posisi tidur. Disitulah, kalau dia sampai kemudian tidak mendengar apa-apa lagi, lupa dan sebagainya, apalagi tertinggal dari imam sudah beberapa gerakan rukun, maka memang shalatnya sudah batal. Tetapi kalau sekedar hanya sedikit dia mengalami lupa sebentar tapi dia masih terjaga dan badannya masih menopang dari tegaknya tubuhnya itu, tidak bersandar, tidak berbaring maka hal itu tidak menjadi hal yang membatalkan shalat.

Artinya shalatnya masih tetap sah tapi hukumnya sudah makruh, apalagi kalau shalatnya sunnah sebaiknya malah tidak usah mendingan dia istirahat saja daripada dia shalat dalam keadaan seperti itu. Tapi kalau shalatnya shalat fardhu yang kalau dia tidur malah kemudian tidak dapat shalatnya sama sekali maka dia terpaksanya harus mengerjakan shalat itu karena shalat itu adalah sesuatu yang menjadi tiang agama, yang akan ditanya pertama kali, dan kalau sampai ditinggalkan maka hukumnya tentu saja berdosa.