Sahkah Wanita Melaksanakan Ibadah Haji atau Umrah Dengan Surat Mahram Palsu?

Sudah lumrah di kalangan penyelenggara haji dan umrah bahwa wanita yang berangkat umrah atau haji sendirian tanpa ditemani mahram, ia dibuatkan surat mahram palsu misalnya dalam surat itu dimasukkan sebagai istri fulan atau saudaranya karena memang pemerintah Arab Saudi mewajibkan seorang wanita yang pergi umrah atau haji bersama mahramnya sebagaimana sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam:
“Tidak halal bagi wanita yang beriman kepada Allah dan hari akhir untuk melakukan safar selama sehari semalam sementara ia tidak ditemani mahramnya.” (HR. Al Bukhari)
Lantas bagaimana hukum surat mahram palsu ini menurut syariat agama? Apakah ini termasuk penipuan?

Para ulama sepakat bahwa merubah identitas seseorang bukan berdasarkan fakta yang sebenarnya termasuk perbuatan yang dilarang oleh syariat agama baik untuk tujuan duniawi maupun untuk urusan ibadah kecuali apabila dihukumi darurat. Namun darurat tetap saja ada ukurannya dan tidak dijadikan kebiasaan.

Demikian juga dengan membuat surat mahram palsu bagi jama’ah wanita yang tidak ada mahramnya maka pemalsuan seperti ini dianggap penipuan kepada pihak lain agar diloloskan mendapatkan visa umrah atau diizinkan masuk ke Arab Saudi untuk melaksanakan ibadah umrah atau haji. Lalu bagaimana dengan status ibadahnya, apakah haji atau umrahnya sah jika tidak didampingi mahramnya?

Sebagian ulama mewajibkan jama’ah umrah wanita didampingi oleh mahramnya secara mutlak dan apabila tanpa mahram maka tidak dibolehkan melakukan perjalanan haji atau umrah. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
“Janganlah sekali-kali seorang laki-laki berduaan dengan perempuan kecuali ditemani mahramnya” Lalu seorang laki-laki bangkit seraya berkata “Wahai Rasulullah, istriku akan berangkat haji sedangkan aku diwajibkan untuk mengikuti perang ini dan ini” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam lalu bersabda “Kalau begitu kembali dan tunaikan haji bersama istrimu.” (HR. Al Bukhari)
Akan tetapi sebagian ulama dari kalangan madzhab Syafi'i dan Maliki tidak mewajibkan mahram bagi wanita yang ingin melaksanakan haji dan umrah jika keadaannya dianggap aman. Menurut ulama madzhab Syafi'i, seorang wanita dibolehkan berangkat haji atau umrah bersama rombongan wanita lainnya yang dapat dipercaya. Sedangkan menurut madzhab Maliki, seorang wanita boleh melaksanakan ibadah haji atau umrah dengan syarat ditemani oleh para wanita terpercaya atau laki-laki terpercaya atau rombongan laki-laki dan perempuan terpercaya.

Ulama yang membolehkan haji dan umrah tanpa didampingi mahram berdalil dengan hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,
Dari Adi bin Hatim ia berkata, Ketika aku bersama Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tiba-tiba datang seorang lelaki kepada beliau mengeluhkan kefakirannya kemudian datang lelaki yang lain mengeluhkan perampok di jalan. Beliau lalu bersabda “Wahai Adi, apakah engkau pernah melihat negeri Al Hirah?” Aku jawab “Aku belum pernah melihatnya tapi mendengar beritanya.” Beliau lalu bersabda “Seandainya kamu diberi umur panjang, kamu pasti melihat seorang wanita yang mengendarai kendaraan dari Hirah hingga melakukan Thawaf di Ka’bah tanpa takut kepada siapa pun kecuali kepada Allah.” (HR. Al Bukhari)
Lalu bagaimana dengan ibadah haji dan umrah yang dilakukannya? Apakah tetap sah?

Para ulama sepakat bahwa syarat sahnya suatu ibadah adalah apabila memenuhi syarat dan rukunnya serta dikerjakan secara ikhlas karena Allah subhanahu wa ta’ala. Oleh karena itu, jika seorang wanita melaksanakan haji atau umrah dengan menggunakan surat mahram palsu maka ibadahnya tetap sah, apalagi saat ini sudah dibuat kesepakatan antara pemerintah Arab Saudi dan Indonesia bahwa wanita muslimah Indonesia boleh melaksanakan ibadah haji atau umrah tanpa ditemani mahram jika mereka berangkat bersama rombongan laki-laki dan perempuan yang terpercaya.

Adapun surat mahram tetap dibuat oleh pihak penyelenggara ibadah haji dan umrah sebagai antisipasi di saat transit di suatu negara yang masih menjalankan aturan itu dan harus ada surat mahram untuk perjalanan haji dan umrah. Wallahu a’lam bishshawab.