Sahkah Orang Shalat Jum’at Tapi Tidak Ikut Khutbah?

Fenomena jama’ah datang ke masjid saat shalat Jum’at memang bermac am-macam, ada jama’ah yang datang sebelum waktu adzan, ada yang mendatangi masjid ketika sudah mendengar seruan adzan, adapula yang mendatangi masjid ketika khutbah Jum’at sudah selesai. Bahkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
“Siapa yang berangkat Jum’at di awal waktu maka ia seperti berqurban dengan unta.”
Pertanyaannya, bagaimana sebenarnya yang disebut datang pertama kali pada shalat Jum’at? Jam berapakah ia seharusnya hadir? Bagaimana dengan orang yang datang shalat Jum’at tetapi tidak mengikuti khutbah, apakah shalatnya sah?

Berikut penuturan Ust. Ahmad Sarwat, Lc., MA.: Datang lebih awal untuk menghadiri shalat jum’at dengan mendengarkan khutbah tentu pahalanya lebih utama. Sebagaimana disebutkan dalam hadits shahih Bukhari bahwa Apabila datang hari Jum’at, maka malaikat itu berdiri di pintu masjid, mencatat nama-nama orang yang datang lebih awal, digambarkan bahwa orang yang datang lebih awal itu dia seperti orang yang berqurban dengan seekor unta, kemudian yang datang berikutnya seperti orang berqurban dengan seekor sapi, yang datang kemudian lagi itu seperti menyembelih kambing, ayam, dan juga berqurban dengan telur. Apabila imam sudah datang maka para malaikat itu menutup lembaran-lembaran absennya itu dan kemudian mereka mendengarkan khutbah.

Hadits ini menunjukkan bahwa yang dapat pahala besar itu adalah yang datang paling awal tapi kalau ditanya jam berapa, memang tidak disebutkan jam berapanya. Tetapi siapa yang datang paling awal maka dialah yang seperti diibaratkan menyembelih seekor unta. Dalam arti, tentu pahalanya lebih banyak daripada yang datang berikutnya yang seperti menyembelih seekor sapi, kambing, ayam, dan telur dari situ kita juga mengetahui bahwa kalau orang datangnya sesudah imamnya sudah khutbah maka dia sudah tidak mendapatkan lagi pahala dan keutamaan.

Yang datang lebih awal tentu itu pahalanya lebih besar cuma kalau ditanya jam berapa, tidak ada standarisasinya. Mungkin di satu negeri, jam 11 itu dianggap awal tapi di tempat yang lain mungkin jam 10 itu sudah dianggap awal, bahkan kita kalau di Masjidil Haram atau di Masjid Nabawi kalau kita datang jam 10 atau jam 11 mungkin kita sudah dianggapnya terlambat karena orang datangnya lebih awal lagi. Asal jangan datang jam 6.30 pagi karena belum ada orang, mungkin itu marbotnya masjid yang mau ngepel atau nyapu ini lain cerita karena tujuannya dia mau kerja. Sedangkan kalau ditanya, orang yang datang ke masjid waktu lagi shalat Jum’at dia datangnya sesudah khatib naik ke atas mimbar, apakah sah shalat Jum’atnya?

Memang yang namanya shalat Jum’at itu rangkaiannya harus ada khutbah dan shalat Jum’at. Khutbahnya harus ada dua dan shalat Jum’atnya harus dua raka’at. Itu rangkaian yang tidak boleh tidak, harus diadakan atau diselenggarakan oleh masjid tersebut. Akan tetapi terkait dengan jama’ah, apakah setiap jama’ah ini wajib ikut serta sejak awal khutbah?

Jawabannya memang tidak wajib. Dalam arti, kalau seandainya dia datang sesudah imam mulai berkhutbah atau bahkan di tengah-tengah khutbah atau bahkan ketika khutbahnya sudah selesai lalu dia tetap shalat Jum’at maka dia sudah termasuk orang yang sudah gugur kewajiban shalat Jum’atnya. Karena batasannya adalah ikut shalat Jum’atnya atau tidak. Dan batasannya kalau lebih dirinci lagi, apakah dia mendapatkan satu raka’at dalam shalat Jum’at itu atau tidak karena shalat Jum’at ini adalah dua raka’at, minimal dia ikut raka’at yang terakhir. Dan batasannya lagi kalau kita lebih dalami lagi, batasannya adalah pada saat imam sedang ruku’ karena Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda bahwa orang yang mendapatkan ruku’ bersama imam maka ia mendapatkan raka’at itu.

Anggaplah ini raka’at yang kedua, imamnya sedang ruku’, jama’ah semuanya tentu sedang ruku’ dan kita baru tiba di masjid untuk shalat Jum’at dan mendapatkan satu ruku’itu bersama dengan imam begitu kita Takbiratul Ihram “Allaahu Akbar” kemudian kita ikut ruku’ dan sempat menjalani ruku’ bersama dengan imam walaupun hanya beberapa detik saja, tapi mendapatkan ruku’nya dan tuma’ninahnya bersama imam lalu imam “Sami’allaahuliman Hamidah” kita bangun maka kita sudah ikut dalam shalat Jum’at itu walaupun ketinggalan masbuk 1 raka’at.

Hitungannya kita mendapatkan shalat Jum’at itu walaupun tidak ikut raka’at pertama dan juga tentu tidak ikut dua khutbah di awalnya. Tapi secara hukum, tetap sah karena hitungannya adalah pada raka’at yang terakhir itu.

Tapi seandainya kita datang pada saat imam sudah bangun dari ruku’ di raka’at yang kedua, anggaplah imam sudah duduk Tahiyat Akhir. Jadi pada saat itu kita baru datang dan kemudian kita Takbiratul Ihram kemudian kita langsung duduk dengan posisi sebagaimana imam Tahiyat Akhir lalu kemudian imam memberi salam lalu kita berdiri lagi. Saat kita berdiri, kita bukan berdiri untuk menyelesaikan satu raka’at karena satu raka’at pun kita tidak mendapatkan.

Jadi kita berdiri untuk melaksanakan shalat Dzuhur 4 raka’at. Artinya, kita tidak mendapatkan shalat Jum’at itu karena khutbah tidak ikut, dua raka’at shalat Jum’at pun tidak dapat, hanya dapat Tahiyat Akhirnya maka kita harus shalat Dzuhur (bukan shalat Jum’at).