Perbedaan Masjid Dengan Mushala Dalam Pandangan Ulama Fiqih

Sebagian masyarakat memahami bahwa masjid tidak ada bedanya dengan mushala sebagai tempat beribadah umat muslim, keduanya seolah-olah dibedakan dengan ukurannya yang besar dan kecil. Jika besar disebut masjid dan jika kecil disebut mushala atau jika digunakan untuk shalat jum’at di masjid dan jika tidak digunakan untuk jum’atan berarti di mushala.

Hal inilah yang kemudian menimbulkan kerancuan sehingga sebagian ibu-ibu yang haid terkadang ragu untuk berada di mushala apakah ini boleh atau tidak. Lantas apakah perbedaan masjid dan mushala dalam pandangan para ulama? Jika ada perbedaan dalam mushala atau masjid, bolehkah wanita yang sedang haid untuk berada di mushala?

Secara umum para ulama sepakat bahwa bumi ini adalah masjid. Dalam pengertian dapat dijadikan sebagai tempat shalat dan suci. Hal ini karena Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
“Bumi ini dijadikan untukmu sebagai masjid dan tempat yang suci.” (HR. Al Bukhari)
Namun masjid yang berlaku didalamnya hukum-hukum fiqih maka menurut para ulama madzhab Syafi'i dan Hanafi serta disepakati oleh mayoritas ulama madzhab lainnya adalah tempat yang diwakafkan untuk shalat yaitu tempat yang diwakafkan dan disediakan khusus untuk shalat.

Adapun mushala adalah tempat yang digunakan untuk shalat dan berdoa tanpa disyaratkan wakaf. Karena itu, setiap tempat yang digunakan untuk shalat dan berdoa baik statusnya wakaf atau bukan disebut mushala. Dengan demikian, mushala mencakup masjid dan selainnya sebab setiap masjid adalah mushala atau tempat shalat namun tidak semua mushala adalah masjid karena masjid berlaku hukum-hukum tertentu didalamnya.

Berdasarkan pendapat ini maka yang membedakan status masjid dengan mushala dalam pandangan ulama fiqih adalah status tanah dan bangunan wakafnya. Jadi meskipun bangunan itu besar tetapi tanahnya tidak berstatus wakaf maka ini disebut mushala dan tidak berlaku hukum-hukum masjid didalamnya. Namun jika bangunan itu kecil, tetapi tanahnya berstatus wakaf maka ini disebut masjid dan berlaku hukum-hukum masjid didalamnya seperti bisa digunakan untuk shalat jum’at, shalat tahiyatul masjid, dan sebagainya.

Jika memang ada perbedaan antara masjid dan mushala. Apakah wanita haid boleh berada di mushala, samakah terlarangnya seperti di masjid? Lalu bagaimana dengan pahala shalat di mushala, apakah sama dengan di masjid?

Jika yang dimaksud dengan mushala adalah tempat ibadah milik perorangan yang tidak diwakafkan sebagaimana dijelaskan oleh para ulama fiqih dan tidak berlaku hukum-hukum masjid di dalamnya seperti langgar yaitu sebutan untuk mushala milik perorang yang tidak diwakafkan atau mushala pom bensin, mushala mall, mushala bandara, dan lainnya yang bukan wakaf maka wanita haid boleh berdiam dan berada di mushala tersebut.

Namun jika mushala tersebut berstatus wakaf dan berlaku hukum-hukum masjid didalamnya maka wanita haid tidak dibolehkan berdiam di mushala yang memiliki hukum-hukum masjid tersebut.

Dari Ummu Athiyyah, ia berkata,
“Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintah kepada kepada kami untuk keluar rumah pada dua hari raya termasuk remaja putri dan gadis pingitan dan beliau memerintahkan wanita yang haid untuk menjauhi tempat shalat.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Lantas bagaimana dengan orang yang shalat di masjid dan mushala, apakah keutamaan dan pahalanya sama atau berbeda?

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
“Shalat berjama’ah keutamaannya lebih baik daripada shalat sendirian dengan 27 derajat.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Berdasarkan hadits shahih ini, para ulama sepakat bahwa shalat berjama’ah dimanapun, keutamaannya lebih besar dengan 27 derajat dibandingkan dengan shalat sendirian. Namun demikian, jika dibandingkan lebih utama mana antara shalat berjama’ah di mushala yang tidak berstatus wakaf dengan mushala dan masjid yang berstatus wakaf maka tentu saja keutamaannya berbeda sesuai dengan nilai “plus” yang dimiliki oleh masjid dan mushala tersebut.

Shalat di mushala yang berstatus wakaf tentu lebih baik dari mushala yang tidak berstatus wakaf. Hal ini tidak lain karena jama’ah di mushala wakaf bisa jadi lebih banyak sehingga dapat terjalin hubungan silaturahmi yang lebih besar.

Demikian juga shalat di Masjid Jami’ yaitu yang digunakan untuk shalat jum’at dan berbagai kegiatan keagamaan lebih utama daripada shalat di mushala wakaf karena bisa jadi di Masjid Jami’ tersebut bacaan imamnya lebih bagus sehingga menambah khusyu’, jumlah jama’ahnya lebih banyak sehingga kemungkinan dikabulkannya doa lebih besar dan dihidupkan sunnah-sunnah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam lainnya seperti pengajian, ta’lim Al Qur’an, dan sebagainya. Wallahu a’lam bishshawab.