Pentingnya Mempererat Ukhuwah [Persaudaraan]

Dalam sejarah Islam terdapat kisah-kisah menarik yang bisa kita petik mengenai Ukhuwah Islamiyah yakni dari kabilah Khazraj, dan kabilah Aus, serta kaum Muhajirin, dan Anshar.
“Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai berai, dan ingatlah akan nikmat Allah kepadamu ketika kamu dahulu (masa Jahiliyah) bermusuh-musuhan, Maka Allah mempersatukan hatimu, lalu menjadilah kamu Karena nikmat Allah, orang-orang yang bersaudara; dan kamu Telah berada di tepi jurang neraka, lalu Allah menyelamatkan kamu dari padanya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu, agar kamu mendapat petunjuk.” (QS. Ali Imran: 103)
Ayat di atas menjadi perintah Allah kepada muslimin agar senantiasa menjaga Ukhuwah Islamiyah membantu saudara-saudara yang membutuhkan dan tidak bercerai berai. Seperti kisah Bani Khazraj dan Bani Aus sebelum mereka bersatu dalam kaum Anshar.

Aus dan Khazraj adalah kabilah Arab yang tinggal di Madinah pada masa awal penyebaran agama Islam. Nama Khazraj diambil dari Al Khazraj bin Haritsah bin Tsa'labah bin Amr Muzaiqiya sementara Aus diambil dari nama Al Aus  bin Haritsah bin Tsa'labah bin Amr Muzaiqiya. Mereka berasal dari ibu yang sama yakni Qailah binti Kahil istri Haritsah bin Tsa’labah. Dengan begitu, kedua bani tersebut memiliki julukan yang sama yakni Bani Qailah.

Sebelum dipersatukan Aus dan Khazraj merupakan dua kabilah yang bertentangan dan saling berlawanan. Khazraj bersekutu dengan Suku Yahudi yakni Bani Qainuqa untuk menghadapi Bani Aus.  Sementara Aus bersekutu dengan Suku-suku Yahudi Bani Quraidzah dan Bani Nadhir untuk menghadapi Bani Khazraj beserta para sekutunya. Penyebab keduanya berperang terkadang karena hal kecil yang kemudian dibesarkan oleh Yahudi.

Kedua kabilah tersebut bersatu dalam Ukhuwah Islamiyah saat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam datang ke kota Madinah, kemudian menyebutkan mereka dengan nama Anshar yang artinya kaum yang menolong Kaum Muhajirin. Kabilah-kabilah yang awalnya saling melakukan pertarungan menjadi kabilah yang mendukung kepemimpinan Muhammad dan khalifah penerusnya dalam menegakkan pemerintahan serta menyebarkan agama Islam terutama di Madinah serta Jazirah Arabiya pada umumnya.

Kaum Muhajirin merupakan penduduk Makkah yang telah memeluk Islam dan ikut hijrah bersama Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam karena mendapat ancaman dari penduduk kafir di Makkah. Mereka menerima penganiayaan, penyiksaan terutama kepada buruh dan budak-budak yang memeluk agama Islam dan para sahabat yang tidak memiliki keluarga yang kuat untuk membela agar mereka keluar dari ajaran Islam.

Dalam rangka menjaga keimanan mereka, Kaum Muhajirin sempat melakukan hijrah ke dua tempat:
  1. Menuju Habasyah sebanyak dua kali,
  2. Menuju Madinah tanpa membawa perbekalan, harta, dan keluarganya.
Melihat kondisi Kaum Muhajirin yang serba kekurangan, penduduk asli Madinah (Kaum Anshar) tergerak untuk meringankan beban saudaranya. Kaum Anshar secara total berkorban sepenuh hati membantu mengentaskan kesulitan yang dihadapi Kaum Muhajirin.

Namun Ukhuwah diantara Kaum Muhajirin dan Anshar diuji ketika peristiwa Perang Bani Musthaliq. Perang Bani Musthaliq merupakan peperangan yang disulut oleh kabar yang sampai kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwa Bani Musthaliq tengah menyusun rencana untuk menyerang Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Peristiwa itu terjadi pada bulan Sya’ban tahun 5 Hijriyah.

Mendengar berita tersebut, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam segera mengirim Buraidah bin Hushaib Al Aslami untuk mengkonfirmasi berita tersebut. Ketika Buraidah radhiyallahu ‘anhu kembali dan membawa informasi, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memobilisasi para sahabatnya untuk bergerak menuju Bani Musthaliq. Kala itu jumlah pasukan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah 700 pasukan dan 30 pasukan berkuda.

Ukhuwah merupakan salah satu dari tiga unsur kekuatan yang menjadi karakteristik muslimin pada zaman Rasulullah selain aqidah dan kekuatan kepemimpinan dan senjata. Dengan kekuatan tersebut, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam membangun masyarakat ideal, memperluas islam, mengangkat tinggi bendera tauhid, dan membuat umat Islam eksis di muka bumi kurang dari setengah abad.

Diantara Ukhuwah atau persaudaraan yang diajarkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk kaum muslimin diantaranya adalah sebagai berikut:
  1. Ukhuwah Ubudiyyah adalah persaudaraan atas sesama makhluk yang tunduk kepada Allah ta’ala seperti firman-Nya yang artinya: “Dan tiadalah binatang-binatang yang ada di bumi dan burung-burung yang terbang dengan kedua sayapnya, melainkan umat (juga) seperti kamu. tiadalah kami alpakan sesuatupun dalam Al-Kitab, Kemudian kepada Tuhanlah mereka dihimpunkan.” (QS. Al An’am: 38)
  2. Ukhuwah Insaniyyah atau Basyariyyah berarti persaudaraan diantara manusia. Rasulullah mengajarkan pada umatnya bahwa setiap manusia adalah bersaudara tanpa membeda-bedakan golongan, ras, kedudukan, juga keturunan. Muslimin wajib menolong siapapun yang membutuhkan bantuan seperti halnya Kaum Anshar yang menerima Kaum Muhajirin dengan tangan terbuka saat mereka kesulitan di Madinah.
  3. Ukhuwah Wathaniyah Wa An Nasab artinya merupakan persaudaraan sebangsa dan keturunan. Islam mengajarkan kepada kita bahwa perbedaan yang dialami suku bangsa dari segi agama, keyakinan, pola pikir bukanlah menjadi penghalang untuk mempererat persaudaraan. Sebaliknya, menjadi ladang untuk berlomba-lomba berbuat baik dan menciptakan prestasi yang memajukan bangsa.
  4. Ukhuwah Diniyyah yakni persaudaraan seagama, seperti halnya kita berusaha membantu saudara-saudara kita yang kesulitan di Rohingya, Palestina, juga pelosok daerah di tanah air. Meski hakikatnya kita tidak saling mengenal, ketahuilah bahwa uluran tangan kita sangat membantu saudara-saudara kita yang membutuhkan bantuan.