Orang Tua Harus Berlaku Adil Memberikan Hibah Atau Pemberian Kepada Anak-Anaknya

Tidak ada orang tua yang berharap memiliki anak durhaka. Setiap orang pasti menginginkan keturunannya menjadi anak yang shalih dan shalihah yang berbakti kepada kedua orang tuanya. Namun cita-cita mulia tersebut tidak bisa dicapai dengan hanya mengucapkan “Sim Salabim” tetapi membutuhkan pengorbanan besar dan perjuangan panjang dan yang paling penting adalah berlaku adil kepada sesama mereka.

Persoalan yang seringkali muncul adalah masalah hibah atau pemberian kepada anak-anaknya karena tidak sedikit orang tua yang memberikan hadiah berupa harta kepada salah satu anaknya dengan jumlah dan nilai yang berbeda dengan pemberian kepada anaknya yang lain. Apakah yang demikian itu termasuk perbuatan yang tidak adil terhadap anak-anaknya?

Islam menggariskan bahwa orang tua harus berlaku adil dalam hibah atau pemberian. Jika salah satu anaknya diberi pemberian atau hibah maka yang lain juga harus diberi bagian yang sama. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
“Bersikaplah yang adil kepada anak-anak kalian dalam hibah sebagaimana kalian menginginkan mereka berlaku adil kepada kalian dalam berbakti dan berlemah lembut.” (HR. Baihaqi)
Nu’man bin Basyir radhiyallahu ‘anhu pernah bercerita,
“Ibu saya meminta hibah kepada ayah lalu memberikannya kepada saya, ibu berkata “Saya belum puas sebelum Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjadi saksi atas hibah ini.” Maka ayah membawa saya saat saya masih kecil kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan berkata “Wahai Rasulullah, ibu anak ini ‘Amrah binti Rawahah memintakan hibah untuk si anak dan ingin engkau menjadi saksi atas hibah itu.” Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bertanya “Wahai Basyir, apakah engkau punya anak selain dia?” “Iya.” Jawab ayah. Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bertanya lagi “Apakah engkau juga memberikan hibah yang sama kepada anak yang lain?" Ayah menjawab “Tidak.” Maka Rasulullah berkata “Kalau begitu, jangan jadikan saya sebagai saksi karena saya tidak bersaksi atas kezaliman”.” (HR. Al Bukhari)
Dari hadits ini bisa dipahami bahwa memberikan sesuatu pemberian kepada anak dengan pemberian yang tidak sama dengan anak-anaknya yang lain adalah perbuatan zalim dan berdosa. Lalu apakah dengan demikian, orang tua harus memberikan sesuatu kepada anak-anaknya dengan pemberian yang sama padahal setiap anak memiliki kebutuhan berbeda?

Berdasarkan hadits Nu’man bin Basyirini sebagian ulama berpendapat bahwa harta yang dihibahkan kepada anak harus dibagi rata tanpa membedakan jenis kelamin. Dalam hadits ini, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengisyaratkan bahwa keadilan dalam pemberian atau hibah akan membuat anak-anak juga akan adil dalam berbakti. Sebaliknya, ketidakadilan bisa menimbulkan kebencian diantara anak-anak kita atau memicu kebencian kepada orang tua yang berakibat kepada perbuatan durhaka.

Dengan demikian, pada dasarnya pemberian atau hibah harus diberikan secara sama rata. Namun begitu, boleh saja membedakan pemberian kepada anak-anaknya untuk alasan tertentu misalnya ada anak yang cacat sehingga tidak bisa bekerja atau sibuk menuntut ilmu sehingga belum bisa bekerja atau punya banyak anak sehingga gajinya tidak cukup.

Bisa juga hibah tidak diberikan kepada sebagian anak yang durhaka atau biasa menggunakan uang untuk bermaksiat. Demikian pula boleh memberikan hibah kepada sebagian anak jika anak-anak yang lain tidak mempermasalahkan hal itu karena hibah ini adalah hak mereka bersama. Jika mereka saling ridha maka tidak masalah. Perlu ada komunikasi yang baik agar pemberian atau hibah tidak menimbulkan masalah.

Jika anak-anak mengetahui kesalahan orang tua dalam hal ini sebaiknya anak-anak bisa menyelesaikannya diantara mereka dahulu tanpa melibatkan orang tua. Alangkah baiknya jika yang terzalimi mengalah dan tidak mempermasalahkan pemberian yang lebih untuk saudaranya. Namun jika hal itu tidak bisa terwujud dan masing-masing menuntut persamaan, hendaklah mereka menasihati orang tua dengan lemah lembut. Anak yang mendapat hibah yang lebih banyak hendaknya menolak pemberian dengan halus.

Apa yang dilakukan orang tua dalam kasus ini adalah ketidakadilan sehingga harus diingkari tetapi tetap harus dengan cara yang baik. Banyak orang tua yang melakukannya karena tidak memahami hukum agama maka penjelasan yang baik diharapkan bisa membuat mereka menyadari kesalahan.

Perlu diketahui bahwa pemberian atau hibah itu tidak sama dengan nafkah wajib. Dalam hal pemberian harta atau hibah kepada anak, orang tua wajib memberinya secara sama rata tapi pemberian nafkah tidak selalu demikian. Orang tua boleh memberikan nafkah sesuai dengan kebutuhan masing-masing. Biaya anak sekolah SD tentunya tidak bisa disamakan dengan kakaknya yang sudah kuliah, begitu pula biaya makan, pengobatan, menikahkan anak, dan kebutuhan-kebutuhan semisal, tidak harus sama rata karena hal itu termasuk nafkah bukan pemberian atau hibah. Wallahu a’lam.

Sebagai orang tua, penting untuk berperilaku adil terhadap seluruh anak-anaknya agar tidak timbul kecemburuan yang mengganggu keharmonisan keluarga. Keadilan adalah lawan dari penindasan. Allah subhanahu wa ta’ala telah melarang penindasan dan ketidakadilan terhadap dirinya sendiri. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman dalam Hadits Qudsi:
“Wahai Hamba-hamba-Ku, Aku haramkan kezaliman terhadap diri-Ku dan Aku jadikan kezaliman itu juga haram diantara kamu, maka janganlah kamu saling menzalimi satu sama lain.” (HR. Muslim)
Allah subhanahu wa ta’ala bahkan menjadikan keadilan sebagai syarat dari ketakwaan. Tak ada seorang pun yang benar-benar takut kepada Allah tanpa berlaku adil. Seseorang baru bisa dikatakan memiliki keyakinan kuat jika memiliki tekad kuat berlaku adil terhadap Allah dan sesama manusia termasuk saat bertransaksi dan jual beli.

Tak hanya itu, perilaku adil terkait dengan iman seseorang maka seseorang tidak dianggap mukmin jika tidak berlaku adil. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman yang artinya:
“Hai orang-orang yang beriman hendaklah kamu jadi orang-orang yang selalu menegakkan (kebenaran) Karena Allah, menjadi saksi dengan adil. dan janganlah sekali-kali kebencianmu terhadap sesuatu kaum, mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. berlaku adillah, Karena adil itu lebih dekat kepada takwa. dan bertakwalah kepada Allah, Sesungguhnya Allah Maha mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (QS. Al Maaidah: 8)