Naik Turunnya Iman Seseorang

Dalam kehidupan sehari-hari, kita sering melihat teman atau keluarga atau diri kita sendiri yang kadang-kadang tekun dan rajin beribadah, namun kadang-kadang malas dan sering mengulur waktu dalam beribadah kepada Allah subhanahu wa ta’ala. Demikian juga dengan sikap kita yang terkadang baik dan juga buruk di waktu yang lain. Bagi kebanyakan masyarakat muslim, hal ini diyakini sebagai fenomena naik turunnya keimanan seseorang. Apakah fenomena naik turunnya iman ini wajar dalam syariat agama?

Fenomena bertambahnya iman yang berarti juga kualitas keimanan seseorang sedang naik telah disebutkan di beberapa ayat diantara dalam firman Allah subhanahu wa ta’ala:
“Sesungguhnya orang-orang yang beriman ialah mereka yang bila disebut nama Allah gemetarlah hati mereka, dan apabila dibacakan ayat-ayatNya bertambahlah iman mereka (karenanya), dan Hanya kepada Tuhanlah mereka bertawakkal.” (QS. Al Anfaal: 2)
“Dan supaya orang yang beriman bertambah imannya” (QS. Al Muddatstsir: 31)
“Maka perkataan itu menambah keimanan mereka” (QS. Ali Imran: 173)
Ketiga ayat ini dan beberapa ayat lainnya kemudian oleh para ulama dijadikan sebagai dasar bertambah dan berkurangnya iman. Meskipun tentang berkurangnya tidak disebutkan secara eksplisit, namun jika dipahami sebaliknya ketika Allah menyatakan iman itu bertambah maka sesuatu itu tidak bertambah kecuali karena berkurang atau tidak stabil keadaannya. Artinya, iman itu bisa naik dan juga bisa turun.

Syaikh Abdurrahman As Sa’di menjelaskan tafsir ayat ini dengan menyatakan bahwa dalam ayat Al Qur’an tersebut terdapat dalil yang menunjukkan bertambahnya iman dan berkurangnya. Imam Ishaq bin Ibrahim An Naisaburi rahimahullah menjelaskan,
Imam Ahmad pernah ditanya tentang iman dan berkurangnya iman. Ia menjawab ”Dalil mengenai berkurangnya iman terdapat pada sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam “Tidaklah seorang pezina berzina dalam keadaan mukmin dan tidaklah pencuri dalam keadaan mukmin” (HR. Al Bukhari dan Muslim).”
Fenomena naik turunnya iman secara tegas juga dinyatakan oleh para ulama dari kalangan sahabat dan tabi’in. Diriwayatkan dari Ibnu Abi Syaibah dengan sanad shahih dari Umar bin Khattab radhiyallahu ‘anhu ia pernah berkata kepada para sahabatnya “Marilah kita menambah iman kita!”

Abu Al Hajjaj Mujahid bin Jabr Al Makki seorang ulama dari kalangan tabi’in menyatakan iman itu adalah perkataan dan perbuatan, bisa bertambah dan berkurang.

Lalu bagaimana jika iman seseorang sedang turun apakah ini manusiawi atau sebuah kelalaian?

Naik turunnya iman seseorang merupakan hal yang manusiawi karena manusia diciptakan dengan kondisi yang sangat lemah bagi secara fisik maupun psikis dan dengan kondisi hati yang rapuh, keadaannya tidak stabil, mudah goyang, serta gampang berubah. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman menggambarkan kondisi penciptaan manusia yang lemah.
“Allah, dialah yang menciptakan kamu dari keadaan lemah, Kemudian dia menjadikan (kamu) sesudah keadaan lemah itu menjadi kuat, Kemudian dia menjadikan (kamu) sesudah Kuat itu lemah (kembali) dan beruban. dia menciptakan apa yang dikehendaki-Nya dan dialah yang Maha mengetahui lagi Maha Kuasa.” (QS. Ar Ruum: 54)
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga menegaskan dalam sabdanya:
“Sesungguhnya hati anak cucu Adam lebih cepat perubahannya dari periuk yang berisi air mendidih.” (HR. Ahmad)
Namun apabila iman terlalu labil dan mudah berubah secara drastis, jauh melebihi tingkat kenaikannya maka para ulama mengkategorikan orang tersebut bukan hanya lalai tapi juga telah berbuat maksiat dan dosa kepada Allah subhanahu wa ta’ala sebab iman seseorang tidak akan turun kecuali dengan maksiat yang dilakukannya dan tidak akan naik kecuali dengan memperbanyak ketaatan kepada Allah subhanahu wa ta’ala.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
“Tidaklah seorang pezina berzina dalam keadaan mukmin, dan tidaklah minum minuman keras ketika dalam keadaan mukmin, dan tidaklah mencuri dalam keadaan mukmin.” (HR. Al Bukhari dan Muslim)
Hadits ini bahkan menunjukkan bahwa ketika iman sudah berada di titik nadir dan seorang mukmin sedang melakukan kemaksiatan kepada Allah subhanahu wa ta’ala maka ia bukan hanya termasuk orang yang lalai melainkan imannya telah hilang dari dirinya pada saat itu sehingga Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menyatakannya tidak sedang beriman. Na'udzubillahi mindzalik.

Lalu adakah perbuatan manusia yang menyebabkan imannya naik dan turun?

Para ulama sepakat bahwa penyebab naik dan turunnya iman seorang muslim adalah ketaatannya dalam melaksanakan perintah Allah subhanahu wa ta’ala, semakin banyak perintah Allah yang dilaksanakannya maka iman akan semakin kuat dan kadarnya menjadi naik, semakin banyak seseorang berbuat kebaikan maka akan semakin bertambah pula imannya.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
“Iman itu lebih dari 70 atau lebih dari 60 yang paling utamanya adalah mengucapkan La ilaha illallah dan yang terendahnya adalah menyingkirkan gangguan dari jalan dan rasa malu adalah satu cabang dari iman.” (HR. Al Bukhari dan Muslim)
Adapun sebaliknya yang menyebabkan iman itu turun adalah kemaksiatan dan berpaling dari mengingat Allah subhanahu wa ta’ala, semakin banyak seseorang melakukan kemaksiatan maka ia akan semakin jauh dari Allah subhanahu wa ta’ala hingga imannya berada di titik nadir bahkan dia bisa menjadi kafir karena perbuatan syirik yang dilakukannya. Na'udzubillahi mindzalik.

Lalu bagaimana jika seseorang meninggal dunia dalam keadaan imannya sedang turun? Apakah ia meninggal dengan Su’ul Khatimah?

Menurut para ulama, jika seseorang meninggal dunia dalam keadaan imannya sedang lemah atau bahkan berada dalam kondisi yang terlemah dari keimanannya sehingga ia susah untuk menyebut nama Allah dan mengingat Allah maka bisa jadi ia meninggal dunia dalam keadaan Su’ul Khatimah. Hal ini tidak lain karena lemahnya iman diakibatkan oleh dosa-dosa yang telah menumpuk di dalam dirinya sehingga ia akan mengalami banyak kesulitan untuk mengucapkan kalimat “La ilaha illallah” ketika ajal menjemputnya.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
“Barangsiapa yang akhir perkataannya adalah “La ilaha illallah” maka ia akan masuk surga.” (HR. Abu Dawud)
Hadits ini menunjukkan bahwa salah satu ciri orang yang meninggal dalam keadaan Husnul Khatimah adalah mampu mengucapkan “La ilaha illalllah” Adapun jika yang terjadi sebaliknya, seperti seseorang menyebut-nyebut harta, tahta, atau lainnya yang melalaikannya dari mengingat Allah subhanahu wa ta’ala saat ajalnya tiba maka hal ini bisa menyebabkannya Su’ul Khatimah. Wallahu a’lam bishshawab.