Menikah Itu Menyempurnakan Separuh Agama

Kita seringkali mendengar ucapan bahwa menikah telah menyempurnakan separuh agama. Benarkah ucapan ini? Anggapan bahwa menikah dapat menyempurnakan separuh agama memang bersumber dari hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.
“Barangsiapa yang diberi karunia oleh Allah seorang istri yang shalihah maka Allah telah menolongnya untuk menyempurnakan separuh dari agamanya karena itu bertakwalah kepada Allah untuk separuh sisanya.” (HR. Al Baihaqi)
Dalam redaksi hadits yang lain, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
“Jika seseorang menikah, maka ia telah menyempurnakan separuh agamanya karena itu bertakwalah kepada Allah pada separuh yang lainnya.” (HR. Al Baihaqi)
Meskipun kedua hadits dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu ini masih diperdebatkan derajat haditsnya oleh para ulama, namun para ulama sepakat bahwa maknanya memang benar, masalahnya apakah kemudian orang yang tidak menikah, agamanya tidak sempurna?

Dalam hal ini perlu dipahami dahulu apa yang dimaksud dengan menikah dengan menyempurnakan separuh agama ini. Seorang ulama besar menjelaskan bahwa ada dua hal yang merusak agama seseorang yaitu kemaluan dan perut. Artinya, jika seseorang telah aman dari gangguan nafsu syahwat dan kemaluannya maka kesempurnaan dari separuh agamanya telah tercapai dan ini hanya dapat dilakukan oleh orang yang menikah.

Karena itu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam kemudian memerintahkan bertakwa kepada Allah dengan menyempurnakan separuh sisanya yaitu menjaga urusan perutnya atau kerakusannya terhadap harta sebab apabila seseorang telah aman dari rongrongan syahwat dan juga aman dari kerakusan terhadap harta benda maka ia telah sempurna agamanya karena ia sudah bisa mengendalikan keduanya.

Imam Al Qurthubi dalam kitab tafsirnya menjelaskan makna hadits ini adalah bahwa nikah akan melindungi orang dari zina sementara menjaga kehormatan dari zina termasuk salah satu yang mendapat jaminan dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan surga. Beliau bersabda:
“Barangsiapa yang dilindungi Allah dari dua bahaya maka Allah akan memasukkannya ke dalam surga yaitu dilindungi dari dampak buruk mulutnya dan kemaluannya.”
Lalu bagaimana dengan orang yang tidak pernah menikah? Apakah tidak sempurna separuh agamanya? Apakah meski sudah menikah tetapi tidak menundukkan pandangannya dan menjaga kemaluannya masih dianggap sempurna separuh agamanya?

Para ulama sepakat bahwa kesempurnaan separuh agama seorang yang menikah bukan karena pernikahan itu sendiri melainkan karena efek positif yang ditimbulkan dari pernikahan tersebut yaitu kemampuan seseorang mengendalikan hawa nafsunya dan tidak menyalurkannya kecuali kepada yang halal serta kemampuannya menundukkan pandangannya dari wanita selain mahram. Karena itu, jika seseorang tidak menikah maka ini bukan berarti bahwa separuh agamanya tidak sempurna selama dia mampu menjaga kemaluannya dan menundukkan pandangannya maka separuh dari agama tetap terjaga dan sempurna.

Hal ini seperti yang dialami oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah dan Imam Muhyuddin An Nawawi yang belum menikah hingga keduanya meninggal dunia akan tetapi mereka adalah orang-orang yang ingin memberikan banyak manfaat bagi umat ini dengan karya-karyanya yang dikenang sepanjang zaman.

Oleh karena itu, orang yang sudah menikah tetapi tidak mampu menundukkan pandangannya kepada wanita selain mahram dan juga tidak mampu menjaga kemaluannya kecuali kepada yang halalmaka ia tetap dianggap tidak sempurna separuh dari agamanya karena ia telah menyalahi tujuan dari pernikahannya.

Lalu bagaimana dengan orang yang sudah menikah tetapi tidak bahagia? Justru sering bertengkar dalam rumah tangganya, apakah ini berdampak pada hilangnya kesempurnaan dari separuh agamanya?

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:
“Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah dia menciptakan untukmu isteri-isteri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya diantaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berfikir.” (QS. Ar Ruum: 21)
Berdasarkan ayat ini, tujuan pernikahan adalah mendapatkan ketentraman dan saling berkasih sayang antara suami dan istri serta seluruh anggota keluarga. Oleh karena itu, apabila tidak ada ketentraman dan kasih sayang sama sekali dalam rumah tangga justru yang ada pertengkaran yang menyebabkan dosa maka pada saat seperti ini pernikahan tidak lagi dianggap sebagai penyempurna separuh dari agama seseorang apalagi bila berujung kepada perceraian.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
“Sesungguhnya perkara halal yang paling dibenci oleh Allah adalah perceraian.” (HR. Abu Dawud)
Wallahu a’lam.