Mengganti Shalat [Qadha] Orang Yang Telah Meninggal

Qadha atau mengganti shalat wajib dilakukan bagi siapapun yang meninggalkan shalat baik yang sengaja maupun tidak. Bagi orang yang meninggalkan shalat secara sengaja harus mengqadha atau mengganti shalatnya sesegera mungkin, bahkan ia harus mengerjakan shalat qadha atau penggantinya terlebih dahulu sebelum mengerjakan shalat wajib lainnya atau shalat sunnah, misalnya ketika ada yang secara sengaja meninggalkan shalat dzuhur dan waktunya sudah habis maka ia diwajibkan untuk meng-qadha atau menggantinya sebelum menunaikan shalat ashar.

Beda halnya dengan orang yang meninggalkan shalat karena sebab lupa atau ketiduran maka dianjurkan untuk menyegerakan dan tidak diwajibkan sebagaimana halnya orang yang meninggalkan shalat dengan sengaja.

Kewajiban shalat qadha atau mengganti ini sekaligus mengukuhkan bahwa bagaimanapun dan dalam kondisi apapun, shalat wajib ditunaikan dan tidak boleh ditinggalkan kecuali bagi perempuan haid. Lalu bagaimana dengan orang yang sudah meninggal? Jika sebelum meninggal atau jauh hari sebelumnya pernah meninggalkan shalat wajib, apakah juga masih punya kewajiban untuk diqadha atau diganti shalatnya oleh ahli waris?

Mayoritas ulama berpandangan tidak boleh mengqadha atau mengganti shalat orang yang sudah meninggal dunia karena shalat merupakan kewajiban yang bisa dilakukan dalam kondisi apapun bahkan shalat dapat dilakukan dengan isyarat sekalipun sehingga tidak ada alasan yang bisa dibenarkan untuk meninggalkan shalat.

Dalam Al Muwatta, Imam Malik menyebutkan keterangan dari sahabat Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhuma yang mengatakan bahwa tidak boleh seseorang berpuasa menggantikan kewajiban puasa orang lain. Tidak boleh pula seseorang shalat menggantikan kewajiban shalat orang lain, kecuali seseorang sudah kehilangan kesadaran sama sekali maka saat itu barulah tidak ada lagi kewajiban shalat sebagaimana sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam:
“Pena diangkat dari tiga kelompok: dari anak kecil hingga ia baligh, dari orang gila hingga ia sadar, dari orang tidur hingga ia bangun.” (HR. Ahmad)
Oleh karena itu orang yang telah meninggal dunia, sementara dia pernah meninggalkan shalat baik karena sakit atau ketika sehat, tidak bisa diqadha atau diganti oleh orang lain. Kewajiban keluarganya dalam hal ini adalah memperbanyak doa, istighfar memohonkan ampun untuknya.

Sebagian ulama lainnya memang berpendapat orang yang meninggalkan shalat karena sakit kemudian dia meninggal dunia hukumnya wajib membayar fidyah untuk setiap shalat yang ditinggalkan, besarannya adalah satu mud atau sekitar 0,6 liter. Hal ini berdasarkan pada hadits Nabi shalallallahu ‘alaihi wa sallam yang dinilai lemah oleh ulama lain:
“Seseorang tidak harus berpuasa shalat untuk orang lain akan tetapi hendaknya ia memberi makan.”
Sebagian ulama lain membolehkan mengqadha atau mengganti shalat untuk orang yang sudah meninggal, bahkan Imam As Subki dari madzhab Syafi'i melakukannya untuk sebagian sanak familinya yang telah meninggal.

Memang tidak terdapat hadits yang secara tegas menunjukkan kebolehan qadha atau mengganti shalat untuk orang yang telah meninggal. Kebolehan ini didasarkan pada hadits kewajiban qadha atau mengganti puasa bagi ahli waris sebagaimana disebutkan dalam hadits A’isyah radhiyallahu ‘anha bahwa ia mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
“Siapa yang meninggal dan memiliki tanggungan puasa, wajib bagi keluarganya untuk mengqadhanya.” (HR. Al Bukhari)
Anjuran mengqadha puasa ini disematkan pada shalat karena keduanya sama-sama ibadah fisik. Dalil lain yang dijadikan dasar bolehnya mengganti atau mengqadha shalat juga berasal dari Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhuma yang diriwayatkan dalam shahih Bukhari bahwa ada seorang wanita yang bernazar untuk melakukan shalat kemudian wanita tersebut meninggal. Ibnu Umar berpesan kepada ahli warisnya agar mengqadha atau mengganti shalat wanita tersebut.

Begitu pula dengan atsar lainnya dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhu yang diriwayatkan dari Ibnu Abi Syaibah bahwa ada seorang wanita yang datang kepadanya dan mengatakan bahwa ibunya telah bernazar untuk shalat di Masjid Quba maka Ibnu Abbas memerintahkan wanita tersebut untuk melaksanakan nazar ibunya.

Masalah yang kemudian timbul dalam masalah qadha atau mengganti shalat adalah apakah mengganti atau mengqadha shalat yang dilakukan orang yang masih hidup untuk keluarganya yang sudah meninggal dunia itu pahalanya sampai kepada si mayit atau tidak?

Dalam Syarah Shahih Muslim, Imam Nawawi menguraikan pendapat para ulama terkait hal ini. Imam Nawawi menjelaskan bahwa sekelompok ulama berpendapat bahwa pahala seluruh ibadah yang dihadiahkan kepada orang yang meninggal sampai kepada mereka baik ibadah shalat, puasa, dan membaca Al Qur’an.

Dalam Shahih Al Bukhari bab orang yang meninggal dan masih memiliki kewajiban nazar, Ibnu Umar memerintahkan kepada orang yang ibunya meninggal dan memiliki tanggungan shalat untuk mengerjakan shalat untuk ibunya.

Bagi pendapat yang membolehkan qadha atau mengganti shalat untuk orang yang telah meninggal, muncul masalah baru yang terkadang prakteknya kita temui di masyarakat yaitu bolehkah ahli waris membayar orang lain untuk mengqadha atau mengganti shalat si mayit?

Para ulama yang membolehkan mengganti shalat bagi orang yang telah meninggal menjelaskan bahwa hal ini tidak ditemukan secara jelas dalam fatwa-fatwa para ulama tapi dari penjelasan mereka tersirat bahwa tidak boleh membayar orang lain untuk membaca Al Qur’an yang kemudian dihadiahkan pahalanya kepada orang yang sudah meninggal.

Maka dapat disimpulkan bahwa hal ini juga berlaku untuk masalah membayar orang untuk shalat sebab jika sudah bayar membayar maka sesuatu yang tadinya ibadah, berubah menjadi transaksional maka ibadah tersebut akan kehilangan makna dan pahalanya sehingga tidak ada lagi yang dapat dihadiahkan kepada orang yang sudah meninggal. Berbeda jika itu dilakukan tanpa imbalan apapun maka akan lebih dekat kepada keikhlasan. Wallahu a’lam.