Mencuci Bekas Darah Haid Pada Pembalut Wanita

Ada anggapan di tengah masyarakat bahwa darah haid tidak boleh dibuang sembarangan tanpa dibersihkan atau dicuci terlebih dahulu bahkan tak sedikit yang meyakini bahwa jika darah haid tidak dicuci sebelum dibuang maka menyebabkan orang yang haid menjadi mudah kerasukan setan atau jin. Lantas benarkah keyakinan ini?

Para ulama sepakat bahwa keyakinan berbau mistis semacam ini tidak berdasar, sebab tidak ada suatu peristiwa yang terjadi di muka bumi kecuali atas pengetahuan Allah dan seizin-Nya dan atas Qudrat Iradat-Nya.

Oleh karena itu dalam syariat agama, darah haid tidak ada hubungannya dengan kerasukan setan atau jin sebab darah haid merupakan darah kotor bagi seorang wanita yang menyebabkan digugurkannya kewajiban melaksanakan ibadah seperti shalat, puasa, haji, dan membaca Al Qur’an dengan mushaf. Bahkan dalam keadaan haid, syariat agama juga melarang melakukan hubungan suami istri. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:
“Mereka bertanya kepadamu tentang haidh. Katakanlah: "Haidh itu adalah suatu kotoran". oleh sebab itu hendaklah kamu menjauhkan diri dari wanita di waktu haidh; dan janganlah kamu mendekati mereka, sebelum mereka suci.” (QS. Al Baqarah: 222)
Inilah diantara beberapa larangan mengenai wanita haid. Lantas adakah kewajiban mencuci darah haid di pembalut, sebagaimana yang biasa dilakukan oleh para wanita di zaman ini?

Mencuci darah yang ada di pembalut wanita sebenarnya tidak ada dasarnya dalam ajaran syariat. Tidak ada ulama yang mengatakan wajib dan tidak ada yang mengatakan sunnah, sebab sebagaimana layaknya kotoran, darah haid biasanya dibuang begitu saja bersama pembalutnya dan tidak dicuci seperti kotoran-kotoran lainnya.

Demikian itulah yang dilakukan oleh para sahabat wanita muslimah di masa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, mereka membuang kotoran bekas darah haid begitu saja di lahan kosong dekat sumur Budha'ah tanpa mencucinya terlebih dahulu. Padahal jika darah haid yang ada di pembalut ini wajib dicuci niscaya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam akan memerintahkannya pada saat itu sehingga tidak bertumpuk kotoran bekas darah haid di dekat sumur tersebut.
Dari Abu Sa’id Al Khudri bahwa sahabat bertanya “Bolehkah kami berwudhu dengan air di sumur Budha'ah? Di sumur ini menjadi tempat pembuangan bekas haid, bangkai anjing, dan bangkai binatang.” Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab “Sesungguhnya air itu suci dan tidak bisa berubah jadi najis oleh sesuatu apapun.” (HR. An Nasa'i, At Tirmidzi, dan Abu Dawud)
Namun demikian, jika mencuci darah yang ada di pembalut wanita untuk menjaga kebersihan dan menjaga pencemaran lingkungan, maka perbuatan ini hukumnya mubah atau boleh bahkan dianggap baik, sebab pengelolaan limbah rumah tangga saat ini berbeda dengan di zaman dahulu. Namun seiring dengan perkembangan zaman terutama bagi masyarakat perkotaan, pengelolaan sampah sudah ditangani oleh petugas kebersihan maka jika darah haid di pembalut tidak dicuci terlebih dahulu tentu akan menimbulkan bau tidak sedap dan menyebabkan ketidaknyamanan sementara Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan kita untuk senantiasa menjaga kebersihan. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
“Sesungguhnya Allah subhanahu wa ta’ala itu baik, Dia menyukai kebaikan. Allah itu bersih, Dia menyukai kebersihan. Allah itu mulia, Dia menyukai kemuliaan. Allah itu dermawan dan Dia menyukai kedermawanan. Maka bersihkanlah olehmu tempat-tempatmu.” (HR. At Tirmidzi)
Lantas bagaimana membersihkan darah haid jika darah haid itu sudah dibersihkan tapi menyisakan warna kemerahan di pakaian? Apakah pakaian itu bisa dipakai untuk shalat?

Syariat agama memberikan tuntunan membersihkan darah haid yang menempel di pakaian dengan cara dicuci seperti mencuci baju pada umumnya. Akan tetapi, jika ada kotoran bekas darah haid yang membandel maka ia harus berusaha menghilangkan. Jika darahnya kering dan menggumpal maka hendaknya ia mengorek dengan kukunya kemudian menguceknya dengan sabun dan membilasnya minimal sebanyak tiga kali.

Asma binti Abi Bakar radhiyallahu ‘anha menuturkan,
“Suatu ketika ada seorang perempuan mendatangi Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam kemudian bertanya “Wahai Rasulullah, pakaian salah seorang diantara kami terkena darah haid. Apa yang harus ia perbuat?” Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab “Hendaknya ia menggosok bagian yang terkena darah, menguceknya dengan air, kemudian membilasnya, lalu shalat dengan pakaian tersebut”.“ (HR. Bukhari dan Muslim)
Ummul Mu’minin A’isyah radhiyallahu ‘anha juga menuturkan,
“Dahulu jika kami mengalami haid kemudian telah suci maka kami mengucek pakaian yang terkena darah, kemudian mencucinya, dan membilas seluruhnya, kemudian shalat dengan pakaian tersebut.” (HR. Al Bukhari dan Ibnu Majah)
Oleh karena itu, jika setelah darah haid yang menempel di pakaian dikorek, dikucek dengan sabun, dan dibilas masih tersisa bekas warna kemerahan maka ini dimaafkan karena memang sulit dihindari dan jika pakaian yang digunakan untuk shalat maka shalatnya sah. Wallahu a’lam bishshawab.