Memperlakukan Bayi Yang Meninggal Setelah Bertahan Hidup Beberapa Saat Saja

Fenomena kematian bayi yang baru lahir masih tergolong tinggi di Indonesia. Penyebabnya pun beragam, bisa karena virus, ada kelainan organ, ataupun terkena sakit bawaan. Pada beberapa kasus, bayi dilahirkan dalam kondisi sudah meninggal tanpa tanda kehidupan sedikitpun.

Namun di kasus lain, ada pula bayi yang hanya mampu bertahan hidup selama beberapa hari atau beberapa jam saja. Pertanyaannya, apakah bayi yang meninggal tersebut tetap harus diaqiqah dan diperlakukan seperti orang yang meninggal pada umumnya? Bagaimana syariat Islam mengaturnya?

Berikut penuturan Ustadz Sarwat: Kalau ada bayi lahir, dia hidup kemudian dia wafat, maka dalam hal ini para ulama memang mengatakan bahwa dia sempat hidup maka dia tetap diperlakukan sebagaimana orang wafat pada umumnya, dimandikan, dikafani, dishalatkan, bahkan juga diaqiqahkan karena dia pernah hidup/sempat punya tanda-tanda kehidupan entah dengan cara tangisannya atau gerakannya (istihlal). Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menyebutkan dalam salah satu haditsnya “Tidak usah dishalatkan kecuali dia lahir dan sempat ada tanda-tanda kehidupan”.

Dalam hal ini, madzhab Hanbali mengatakan bahwa kalau dia sempat hidup di usia kehamilan yang disebut dengan angka 120 hari atau 4 bulan dalam perut, setelah ditiupkannya ke dalamnya ruh, kemudian setelah itu dia mati di dalam perutnya maka ini tidak dianggap sebagai orang yang mati karena sempat ada ruh maka ketika lahir, silakan dikafani, dimandikan, dishalatkan bahkan bisa juga diaqiqahi.

Jadi perbedaannya adalah para ulama disini umumnya mengatakan dia lahir dan sempat hidup sebentar walaupun dia mati maka itu diperlakukan seperti manusia pada umumnya dan kalau dalam keadaan mati lahirnya sudah tidak dilakukan seperti itu.

Sementara, madzhab Hanbali mengatakan yang penting dia sempat mengalami 4 bulan (masa ditiupkannya ruh) di dalam perut ibunya itu, tapi kalaupun belum sampai 4 bulan juga, artinya belum sempat ditiupkan ruh berarti memang belum pernah dia menjadi manusia. Bahkan ada ruh dalam dirinya pun juga belum ada maka dari awal sepakat sudah tidak perlu dikafani, dimandikan, dishalatkan, dan sebagainya dan tidak perlu disembelihkan aqiqah karena memang pada dasarnya dia tidak pernah ada.

Jadi keguguran itu ada bermacam-macam:
  1. Dari awal sudah tidak punya nyawa.
  2. Sempat punya nyawa tapi kemudian mati di dalam.
  3. Sempat lahir dalam keadaan hidup dan kemudian setelah itu baru meninggal dunia.
Masing-masing itu diperlakukan oleh para ulama dengan cara yang agak berbeda-beda.