Makna Husnul Khatimah dan Su’ul Khatimah

Banyak dari kita yang beranggapan bahwa seseorang yang meninggal di masjid atau pun meninggal di hari Jum’at merupakan ciri ia meninggal dalam keadaan husnul khatimah, ada pula anggapan bahwa seseorang yang meninggal dalam kondisi fisik yang buruk termasuk ke dalam su’ul khatimah. Namun ternyata banyak dari kita salah kaprah mengartikan husnul khatimah dan su’ul khatimah.

Kata husnul berarti baik, su’ul berarti buruk, dan khatimah berarti akhir atau penutup. Dapat disimpulkan bahwa secara bahasa, Husnul Khatimah berarti akhir atau penutup yang baik, sedangkan Su’ul Khatimah berarti akhir atau penutup yang buruk. Kedua istilah tersebut biasa digunakan sebagai penilaian bagi seorang muslim saat tutup usia.

Fisik tidak selamanya bisa menjadi tolok ukur bahwa seseorang meninggal dengan husnul khatimah, contohnya ketika seseorang meninggal dalam keadaan fisik yang baik dan tersenyum memang bisa saja sebagai tanda bahwa ia meninggal dengan husnul khatimah namun hal tersebut tidak selamanya berlaku demikian seperti pada saat Perang Uhud.

Usai peperangan, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabatnya bersama-sama memeriksa jasad dan tubuh para syuhada yang gugur. Sejenak beliau berhenti menyaksikan dan membisu seraya air mata menetes di kedua belah pipinya. Tidak sedikitpun terlintas di benaknya kaum kafir Quraisy dengan tega berbuat keji dan kejam terhadap jasad Hamzah radhiyallahu ‘anhu, mereka telah merusak jasad dan merobek dada Hamzah serta mengambil hatinya, kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mendekati jasad Hamzah bin Abdul Muthalib seraya bersabda:
“Tak pernah aku menderita sebagaimana yang kurasakan saat ini dan tidak ada suasana apapun yang lebih menyakitkan diriku daripada suasana sekarang ini.”
Maka dari kisah ini dapat kita lihat bahwa keadaan fisik bukanlah tolok ukur bagaimana akhir hidup seseorang karena Hamzah radhiyallahu ‘anhu merupakan pimpinan para syuhada. Selain itu, ada pula orang mukmin yang ditemukan mati terbakar, fisiknya pun hangus namun bukan berarti pula bahwa dirinya meninggal dengan Su’ul Khatimah karena Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
“Apabila Allah menghendaki kebaikan pada hamba-Nya maka Allah memaafkannya.” Para sahabat bertanya “Bagaimana Allah akan memaafkannya?” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab “Allah akan memberinya taufiq untuk beramal shalih sebelum dia meninggal.” (HR. Ahmad dan Tirmidzi)
Sedangkan orang fasik atau kafir seperti Fir’aun dengan izin Allah, jasadnya atau keadaan fisiknya utuh meskipun telah meninggal namun ruhnya disiksa oleh Allah di akhirat karena perbuatannya selama di dunia.

Sebenarnya husnul dan su’ul khatimah adalah keadaan seorang hamba sebelum meninggal menjelang akhir hayatnya, ia yang husnul khatimah akan diberi taufiq atau petunjuk untuk menjauhi semua yang dapat menyebabkan kemurkaan Allah subhanahu wa ta’ala kemudian ia bertaubat dari dosa dan maksiat serta meningkatkan ketaatan kepada-Nya hingga pada akhirnya ia meninggal dalam kebiasaan baiknya.

Sedangkan su’ul khatimah menimpa seseorang yang terlena dengan kehidupan dunia sehingga mengesampingkan tujuan akhirat. Hal tersebut muncul karena ia terjebak dan terbiasa dalam kelemahan imannya.

Sudah jelas bahwa jika seseorang terbiasa dengan sebuah perbuatan maka Allah akan tutup usianya dengan kebiasaannya itu maka pilihlah kebiasaan yang baik agar akhir kehidupan kita dapat menjadi akhir yang baik dan semoga kita semua bisa kembali kepada Allah dalam keadaan Husnul Khatimah. Aamiin.